http://www.kompasiana.com/kijokowi/kematian-dan-roh-roh-yang-menjemput_552899186ea8349d228b461b

Kematian dalam Perspektif Pytagoras

Oleh: Muhammad Satria Abdul Karim*

(sumber gambar: kompasiana.com)

Kematian dan kelahiran memiliki kemiripan. Setiap orang mengalaminya, namun tidak sanggup menceritakannya. Kalau pun bercerita tentang kelahiran diri kita sendiri, itu berdasarkan cerita orang lain. Sebaliknya, seseorang mengalami kematian, namun tak sanggup menceritakan karena terputus kemampuannya untuk berkomunikasi dengan teman yang masih hidup. Apakah kematian itu membuat seseorang menangis kesakitan seperti dalam peristiwa kelahiran, ataukah sebaliknya membuat seorang tertawa lega? Kita tidak tahu karena komunikasi terputus (Hidayat, 2009).

Menurut Mahir Ahmad Ash-Syufiy (2007), mati berarti keluarnya roh dari jasad atas perintah Allah SWT semata, tidak seorang pun diberi hak untuk itu karena perintahnya datang dari Allah SWT, sedangkan pelaksananya melalui malaikat yang diberi wewenang untuk mencabut nyawa.

Pengertian di atas adalah satu dari sekian banyak pengertian mengenai kematian. Meskipun pengertian tersebut tidak dapat diterima semua orang karena bersifat dogmatis, tapi hal tersebut menandakan bahwa manusia menganggap kematian merupakan sesuatu yang bernilai. Orang yang percaya kepada Tuhan menganggap bahwa kematian adalah salah satu langkah dari beberapa langkah kehidupan untuk menuju kehidupan yang lebih hakiki. Sedangkan orang yang tidak bertuhan menilai bahwa mati adalah akhir dari perjalanan kehidupan atau game over.

Kematian digambarkan dengan sebuah kejadian yang sangat menyakitkan, hal itu membuat manusia  takut akan kematian yang pasti datang kepadanya. Entah itu takut karena sakitnya proses mati, atau juga takut karena tidak ingin terpisah dari gemerlap dunia ini. Di samping itu, ada juga manusia yang lebih memilih kematian daripada kehidupan.

Apabila ditinjau dengan akal sehat, kematian hanyalah sebuah siklus yang sudah terjadi sejak dulu kala. Tidak ada yang spesial dengan kematian, terlepas dari apapun penyebab kematian tersebut. Beberapa orang tidak membenarkan bahwa kematian dikatakan sebagai hilangnya seseorang dari kehidupan dunia ini. Orang yang sudah meninggal tersebut diyakini masih ada di dalam pikiran orang-orang yang mengingatnya, walaupun jasadnya sudah dikebumikan.

Di sini timbul pertanyaan, apa itu kematian? Apakah seseorang yang mati tersebut jiwanya akan ikut hancur bersama dengan badannya? Apakah kita hidup hanya untuk mati? Kalau pun tak demikian, apakah jiwa seseorang akan pergi ke “tempat” berikutnya? Bila begitu, bagaimana bisa jiwa seseorang masih bisa hidup sedangkan badannya hancur? Banyak filsuf yang mencoba untuk menjelaskan apakah kematian itu dan apa yang terjadi setelah kematian tersebut.

Salah satu filsuf yang pemikirannya tentang kematian sangat mempengaruhi sejarah perkembangan filsafat adalah Pythagoras. Pythagoras diperkirakan lahir pada abad ke-6 SM. Namanya sangat terkenal di kalangan anak-anak sekolah dasar dengan rumus segitiga siku-sikunya. Ia sendiri tidak meninggalkan tulisan sebagai hasil pemikirannya. Murid-muridnyalah yang kemudian mendokumentasikan pemikirannya (Yuana, 2010).

Pythagoras adalah salah seorang tokoh yang paling menarik dan membingungkan dalam sejarah. Bukan saja tradisi yang terkait dengan dirinya adalah adonan yang nyaris sempurna antara kebenaran dan kekeliruan, tetapi bahkan dalam bentuknya yang polos dan amat gamblang, tradisi itu tetap menampilkan suatu latar kejiwaan yang sulit dimengerti. Ringkasnya, ia bisa digambarkan sebagai perpaduan antara Einstein dan Ny. Eddy (Mary Baker Eddy). Ia mendirikan sebuah agama  yang ajaran utamanya adalah perpindahan jiwa dan bahwa makan buncis diharamkan. Ajarannya ia wujudkan dalam bentuk ordo keagamaan, di berbagai tempat bisa meraih kekuasaan atas negara dan dengan demikian meneguhkan kepemimpinan para pendeta. Namun para pengikutnya yang kurang bersungguh-sungguh sangat merindukan buncis, sehingga cepat atau lambat pasti membangkang (Russell, 2004).

Mengenai kematian, menurut Francis Cornford dikutip dari Russell (2004: 43), Pythagoras mengajarkan, “Pertama, bahwa jiwa tak dapat mati, dan bahwa jiwa itu berubah menjadi jenis-jenis makhluk hidup lain; kemudian, bahwa apa pun yang bereksistensi dilahirkan kembali menurut perputaran siklus tertentu, sehingga tak ada sesuatu pun yang benar-benar baru; dan bahwa segala sesuatu yang dilahirkan beserta kehidupan di dalamnya harus dianggap berasal dari satu sumber.” Disebutkan bahwa Pythagoras memberikan khotbah kepada binatang.

Menurut Pythagoras, setelah kematian jiwa dapat berpindah kepada binatang. Salah satu contoh perpindahan jiwa dari manusia ke binatang yakni ketika Pythagoras menyuruh seorang sahabat yang memukul anjing untuk berhenti memukul anjing. Ia mendengar suara anjing yang mendengking karena dipukul. Ia mendengar suara seorang sahabat yang telah meninggal dari dengking anjing itu. Manusia mati tapi jiwanya berpindah ke tubuh anjing. Dengking anjing yang dipukul itu menandakan perpindahan jiwa manusia—dalam hal ini adalah seorang sahabat Pythagoras—yang meninggal itu (Bertens, 1999).

Adapun mengenai “badan” sebagai tempat tinggal “jiwa” sama sekali tidak mempunyai hubungan dengan jiwa. Jiwa ada di badan sebagai hukuman. Jiwa tidak selamanya ada di satu badan. Jiwa bisa keluar dari satu badan dan harus pindah ke badan lain. Keberadaan jiwa itu tergantung dari katarsis (penyucian) badan. Penyucian ini dilakukan dengan menjauhkan diri dari kesukaan badan. Kalau badan sudah suci secara sempurna, jiwa akan keluar dari badan. Kalau belum sempurna jiwa akan berpindah dari badan ke badan. Tugas manusia adalah mengeluarkan jiwa dari badan.

Menurut pandangan ini, manusia harus bertanggung jawab atas perpindahan jiwanya. Ini merupakan tugas berat yang dihadapi manusia. Bagaimana manusia pada zaman Pythagoras—khususnya yang menganut paham ini—melakukan hal itu? Pythagoras mempraktikkan ajarannya kepada murid-muridnya. Unsur penting yang ditekankan kepada murid-muridnya dalam praktik ajarannya itu adalah memenuhi peraturan-peraturan yang ada (Bertens, 1999).

Di sini dapat dikatakan bahwa Pythagoras memandang kematian sebagai “gerbang” menuju kebahagiaan jiwa. Namun syarat untuk terbebasnya jiwa dari badan adalah bersihnya jiwa dari kecenderungan-kecenderungan badaniah/material. Jiwa akan selalu berada dalam hukuman yang disebut reinkarnasi apabila jiwa tersebut terus berada dalam kecenderungan material. Pola konsep ini agaknya mirip dengan pemikiran Timur. Karenanya, Pythagoras mengajarkan para pengikutnya untuk menjauhi pantangan-pantangan yang Pythagoras ajarkan.

Jelaslah sekali terlihat bahwa Pythagoras mengajarkan paham reinkarnasi karena  memandang kematian bukan sebagai sebuah game over, Ia lebih menganggap kematian sebagai sebuah awal dari kebahagiaan jiwa, kalau jiwa sudah terlepas dari segala hal yang bersifat badaniah, dan juga sebagai awal dari hukuman baru bila di kehidupan sebelumnya jiwa tersebut tidak dapat menyucikan dirinya dari kecenderungan badaniah.

Dalam pemikirannya mengenai kematian, Pythagoras sangat terpengaruh oleh Orphis/Orpheus, seorang misterius yang dikatakan sebagai manusia biasa, ada juga yang mengatakan sebagai dewa ataupun pahlawan imajiner. Orphis merupakan pembaharu agama Bacchus yang berasal dari Thrace. Bacchus adalah nama lain dari dewa Dionysus yang merupakan dewa kemabukan atau dewa anggur. Agama Bacchus mengajarkan sebuah dorongan ekstase yang menghilangkan prudensi/wawasan ke depan (seperti dalam kondisi mabuk). Menurut mereka, tanpa unsur Bacchis hidup terasa jadi hambar.

Kepercayaan tersebut dikembangkan lagi oleh Orphis yang menggeser kemabukan yang lebih bersifat fisik tersebut, menjadi mabuk yang bersifat mental yang bercorak asketik. Kaum Orphis mempercayai perpindahan jiwa, kebahagiaan abadi, penderitaan abadi, atau siksaan sementara, tergantung cara hidupnya di dunia. Tujuan mereka adalah menjadi suci dan menghindari hal-hal yang membuat cemar. Mereka juga meyakini bahwa manusia mengandung unsur duniawi dan unsur surgawi; dengan hidup yang suci unsur surgawi dapat ditingkatkan dan unsur duniawi dapat dihilangkan (Russell, 2004: 20).

Jadi, dapat dikatakan bahwa Pythagoras dipengaruhi oleh Orphis dalam hal perpindahan jiwa. Sedangkan keyakinan Orphis itu sendiri berasal dari agama Bacchus yang memuja Dionysus, sang dewa mabuk karena memberikan ekstase yang dapat menghilangkan prudensi-prudensi dalam pikiran manusia, sehingga manusia itu terasa bebas. Mungkin dari sana muncul konsep bahwa jiwa yang bebas adalah yang bebas dari tubuh. Karena saat mengalami ekstase, jiwa seperti tidak berada dalam tubuh manusia. Sehingga Orphis pun mengembangkannya menjadi sebuah konsep perpindahan jiwa. Lalu konsep tersebut sampai ke Pythagoras, sehingga Pythagoras berpendapat bahwa kematian merupakan sebuah kemungkinan agar jiwa terbebas atau jiwa itu dihukum. Agar jiwa tidak dihukum lagi maka Pythagoras mengajarkan agar tidak condong kepada sesuatu yang bersifat badani/materi. Karena materi itu sendiri adalah sebuah hukuman untuk jiwa.

Pandangan Pythagoras mengenai kematian bisa dikatakan sebagai salah satu pandangan kuno. Namun tidak dapat dipungkiri, bahwa pemikirannya ini sangat mempengaruhi beberapa pemikiran para filsuf yang bercorak idealis. Pemikiran Pythagoras ini sangat identik dengan pemikiran beberapa agama juga tidak dapat dipungkiri pengaruhnya pada konsep-konsep kematian beberapa agama. Meskipun pemikiran Pythagoras dapat dibantah dengan berbagai argumen, namun kita tidak bisa mengatakan bahwa Pythagoras adalah orang bodoh  atau sesat. Karena pengertian bodoh dan sesat saat ini tidaklah sama dengan bodoh dan sesat 2500 tahun yang lalu.

Jadi apapun dan bagaimanapun kematian itu, isilah kehidupan ini dengan nilai-nilai. Apakah kita ini lahir lalu hanya mati begitu saja? Berikanlah manfaat selama kita masih hidup, dan jangan biarkan kematian menghapus kita. Jadikanlah diri kita sebagai orang yang selalu diingat. Apabila kita mengikuti pemikiran Pythagoras, maka sucikanlah diri kita agar tidak kembali ke dalam hukuman ini, tetapi menuju kebebasan yang hakiki.

 

*Mahasiswa Filsafat Agama UIN Sunan Gunung Djati, aktif di kelas filsafat LPIK

———————————

DAFTAR PUSTAKA

Ash-Shufiy, Mahir Ahmad. (2007).  Misteri Kematian dan Alam Barzakh. Solo: Tiga Serangkai.

Bertens, Kees. (1999). Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakarta: Kanisius.

Hidayat, Komarudin. (2009). Berdamai Dengan Kematian. Jakarta: Hikmah.

Russell, Bertrand. (2004). Sejarah Filsafat Barat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Yuana, Kumara Ari. (2010). The Greatest Philosophers; 100 Tokoh Filsuf Barat dari Abad 6 SM – Abad 21 yang Menginspirasi Dunia Bisnis.  Yogyakarta: CV Andi Offset.

Respon