blogoga

Orang Asing dalam Naskah Amanat Galunggung

Oleh: Yoga ZaraAndritra

Diksi ‘asing’ dan ‘pribumi’ biasanya digunakan dalam wacana kolonialisme. Penanda asing biasanya diartikan penjajah (atau yang akan menjajah) sedangkan penanda pribumi biasanya diartikan yang terjajah (atau yang akan dijajah).  Soal ini mengemuka dalam naskah Amanat Galunggung, berikut adalah terjemahannya oleh Atja dan Saleh Danasasmita:

“Waspadalah. kemungkinan direbutnya kemuliaan (kewibawaan, kekuasaan)6) dan pegangan kesaktian (kejayaan) oleh Sunda, Jawa, Lampung, Baluk, para pedagang (orang asing) yang akan merebut kabuyutan7) di Galunggung. Siapa pun yang dapat menguasai kabuyutan di Galunggung, ia akan memperoleh kesaktian dalam tapanya, ia akan unggul perang, ia akan lama Berjaya, ia akan mendapat kebahagiaan dari kekayaan secara turun-temurun, yaitu bila sewaktu-waktu kelak ditinggalkan oleh para rama dan para resi,8)

     Bila terjadi perang (memperebutkan) kabuyutan di Galunggung, pergilah ke kabuyutan, bertahanlah9) kita di kabuyutan. Apa-apa yang lebih (sulit dipertahankan?) dirapikan, semua dengan yang di Galunggung. Cegahlah terkuasainya kabuyutan oleh Jawa, oleh Baluk, oleh Cina, oleh Lampung, oleh yang lainnya. Lebih berharga nilai kulit lasun di tempat sampah dari pada rajaputra (bila kabuyutan) akhirnya jatuh ke tangan orang lain.10)”

Sebelum masuk dalam pengelompokan mana asing dan mana pribumi ada baiknya mari kita pahami dulu istilah kunci yang yang mengemuka dalam teks di atas, yaitu kabuyutan. Istilah ini menjadi penting karena dalam alur cerita di atas posisinya adalah sebagai yang hendak diperebutkan atau yang berpotensi direbut. Merebut kabuyutan di Galunggung itu artinya merebut kewibawaan dan kesaktian orang pribumi (pemiliknya), siapa pun yang berhasil merebutnya ia akan mendapat kebahagiaan, unggul dalam perang, jaya, dll.

Hidayat Suryalaga dalam makalahnya berjudul “Amanat Galunggung Prabuguru Darmasiksa Leluhur Sunda” mengartikan kabuyutan sebagai tanah air, tidak hanya tempat orang-orang suci (resi) saja. Bila kabuyutan diartikan sebagai tanah air dari orang-orang yang hidup di dalamnya maka Darmasiksa dalam naskah Amanat Galunggung sedang berbicara tentang hal yang pokok (syarat keberadaan) dari sebuah masyarakat (yang disebut masyarakat Galunggung), yaitu KAWASAN. Dengan kata lain, Darmasiksa melalui teks di atas sedang mengatakan bahwaannya tanpa kepenuhan dalam hal penguasaan wilayahnya sendiri, masyarakat Galunggung bahkan lebih hina daripada kulit rubah (lasun). Menjadi jelas, dalam pemahaman Darmasiksa, wilayah/tanah air adalah hal yang paling fundamen dari sebuah masyarakat/ suku/bangsa. Dengan kata lain, tak mungkin ada sebuah masyarakat tanpa ada wilayah.

Sampai di sini barulah kita bisa mulai menelisik mana yang disebut pribumi dalam teks di atas dan mana yang disebut orang asing. Yang disebut pribumi ialah orang yang bermukim di kabuyutan Galunggung, sedangkan orang asing dalam teks di atas ialah: orang Sunda, Jawa, Cina, Baluk dan Lampung. Dengan menggunakan rumusan macam ini dari term kabuyutan, maka kita bisa mulai melacak siapa itu orang Sunda, Jawa, Lampung, Cina, dan Baluk dengan cara melacak kabuyutannya ada di mana. Sehingga sebuah penanda dari sebuah bangsa atau masyarakat tidaklah mengambang, melainkan memiliki acuannya yang jelas yaitu tanah air yang darinya leluhur kita lahir kemudian bermukim.

Respon