basa

Cinta Rasul dan Bahasa Agama

Oleh Ibnu Ghifarie*

Apa pun alasan dan motifnya, kecaman umat Islam di berbagai belahan dunia (Mesir, Iran, Libya, Indonesia) atas film The Innocence of Moslem yang disutradarai Sam Bacile (Nakoula Basseley Nakoula), jelas harus dipahami sebagai salah satu bentuk nyata kecintaan mereka terhadap nabinya, Muhammad SAW, selama tidak melakukan tindakan kekerasan atau merusak fasilitas umum. Pasalnya, tindakan kekerasan bukan menjadi jalan terbaik dalam menyelesaikan segala persoalan, justru akan melahirkan budaya balas dendam.

Menurut Afif Muhammad,  hilangnya unsur keibuan (kasih sayang, cinta, rahmat) sekaligus ketidakberdayaan agama di tengah-tengah derasnya arus industrialisasi, kolonialisasi, globalisasi, serta kemajuan sains dan teknologi, membuat pudarnya nilai-nilai spiritual dan semakin mengalienasi peran agama. Pada dasarnya, kekerasan itu lahir sebagai mata rantai peradaban. Alih-alih melahirkan perdamaian dan meratakan keadilan, industrialisasi dan globalisasi justru menciptakan kekerasan dan penindasan. Persaingan akan mendorong pihak yang lemah untuk mempertahankan diri. Jika keadilan tetap tidak diwujudkan dengan cara damai, maka kekerasan pun akan terus bermunculan. Walhasil, yang sebenarnya menciptakan kekerasan adalah ketidakadilan itu sendiri.

Kondisi inilah yang mengubah manusia menjadi “barbar.” Jika Rousseau mengatakan manusia pada dasarnya merupakan ciptaan yang polos, mencintai diri secara spontan, altruis dan tidak egois, maka Hobbes tampil dan menegaskan bahwa kekerasan merupakan keadaan alamiah manusia (state of nature) dan hanya suatu pemerintahan yang menggunakan kekerasan dan memiliki kekuatanlah (Leviatan) yang dapat mengatasi keadaan itu. Kekerasan itu menyebabkan manusia modern melarikan diri dan bergabung dalam kelompok-kelompok radikal, seperti Jim Johnes, David Coresh, Heavenis Bate, pemimpin Marshall App Lewhite (Afif Muhammad, 2006: 21-27).

Maraknya perilaku kekerasan ini di mata Ahmad Syafii Maarif  dikarenakan kekerasan seakan sudah menjadi mata pencaharian. Betapa tidak, tumbuh suburnya gerakan kekerasan berbaju agama yang telah  merambah ke mimbar-mimbar Jumat, media massa, televisi, buku-buku laris yang banyak menggunakan ayat-ayat “keras.” Padahal ayat-ayat “keras” itu ada konteksnya dan jumlahnya sedikit sekali. Sebagian besar ayat-ayat yang menebarkan kasih sayang, menentang kemiskinan. Ayat-ayat itu yang harus dibaca para khatib Jumat dan mereka yang mau belajar Islam lebih dalam (Majalah Madina, No. 09, Tahun I, September 2008).

Dengan demikian, tindakan kekerasan bukan menjadi jalan terbaik dalam menyelesaikan segala persoalan. Apalagi bila yang melakukan perbuatan lalim itu beragama Islam, malah akan memperburuk sekaligus menegaskan citra Islam yang sangat akrab dengan kekerasan (Islamophobia).

Cinta Rasul
Mari kita meneladani sosok Muhammad dengan cara yang arif dan bijaksana, sekaligus mengevaluasi ulang ihwal kecintaan kita kepadanya. Sebagai contoh, apa jadinya bila Rasulullah bertamu ke rumahmu dan ikut menonton film kontroversi karya Nakoula Basseley Nakoula itu?

Bagi Bambang Q-Anees menjelaskan, “tentu dapat dipastikan, bila datangnya Rasul itu pagi hari, dengan pakaian sederhana, pada saat aku sibuk dengan tanaman hias di depan rumahku, aku akan bersikap wajar. Tak akan segera menunda pekerjaan. Namun, bila yang datang pejabat dengan pakaian mewah dan mengendarai kendaraan, pastilah aku bergegas memersilahkannya masuk.” Ironis memang!

Padahal nabi pernah berkata pada Aisyah, “Wahai Aisyah! Sesungguhnya orang yang kedudukannya paling buruk di sisi Allah SWT pada hari kiamat kelak, ialah orang yang menjauhi orang lain karena keburukan hati dan kejahatannya.” Rasul pernah menerima tamu yang wajah dan penampilannya sangat kasar dan jelek. Namun ia tetap menyambut dengan lembut, sopan, dan penuh hormat. Ini agak berbeda dengan kita?

Sekali lagi, kita akan acuh tak acuh dengan kedatangan Rasulullah. Pasalnya, penutup para nabi ini sudah meninggal dan tak akan kembali lagi. Pertanyaannya, bila memang terjadi sekaligus datang, apakah Muhammad SAW akan tersinggung? Tidak! Karena Rasul bukan tokoh suci yang gila hormat. Konon, ia tak memiliki kursi duduk khusus, baik di rumah maupun mesjid. Ia duduk sama dengan yang lain.

“Melihat perilaku aku saat menjamu tamu, layaknya tak pernah membaca hadis tentang menghargai tamu, Rasul pun begeleng-geleng kepala sambil bergumam, “Bukankah aku diutus untuk menyempurnakan akhlak?”

Mencermati aksi kekerasan dalam menyikapi penghinaan Nabi. Jangan-jangan kemarahan kita kepada sekelompok orang yang mencaci-maki Muhammad, menggambarkannya lewat karikatur atau film, sebatas kesal belaka, tapi tidak mengenal sosoknya.

Pesan Bambang Q-Anees, daripada membahas hinaan, lebih baik menghadirkan kembali sosok Rasulullah dalam kehidupan kita. Lebih baik lagi kita menggunakan seluruh hidup (tenaga), pikiran, kesadaran kita untuk merealisasikan seluruh sikap dan sifat Rasul secara bertahap penuh kesadaran. Ya, daripada menghabiskan waktu untuk membalas menghina, aku memilih untuk mencoba memasukkan hadis ini ke dalam seluruh tindakan, “Allah semakin memerbanyak kenikmatannya kepada seseorang, karena Ia banyak dibutuhkan orang lain. Barang siapa yang enggan memenuhi kebutuhan orang lain, berarti ia telah merelakan lenyapnya kenikmatan bagi dirinya.” (HR al-Baihaqi)

Dengan sikap ini, bila Rasulullah benar-benar bertamu, kita bisa menyambutnya tanpa rasa malu. Kita akan dipeluknya dengan air mata penuh haru, beliau akan menepuk bahu kita. “Kalian memang saudaraku, tidak pernah bertemu denganku. Namun, begitu gigih mengamalkan akhlak terbaik.” Inilah sosok Muhammad. “Aku melihat seorang lelaki dengan wajah berseri-seri dan bercahaya, berkulit bersih, badannya tidak kurus juga tidak gemuk, wajahnya elok rupawan, bola matanya hitam, bulu matanya lentik, alis matanya panjang bertautan. Jika dia diam, tampaklah karismanya. Jika ia sedang berbicara, tampak agung dan santun. Ia adalah orang yang tampak paling muda dan rupawan bila dipandang dari kejauhan, juga paling tampan dan memesona di antara rombongannya. Ucapannya menyejukkan kalbu, perkataannya jelas, tidak sedikit; juga tidak bertele-tele. Beliau adalah orang yang paling menarik dan kharismatik di antara ketiga sahabatnya. Jika beliau berbicara, maka para sahabat yang menyertainya dengan khusyuk mendengarkan segala nasihat dan mematuhi segala perintahnya,” (Bambang Q Anees, 2009: 24-25 dan 128-129).

Bahasa Agama
Disadari atau tidak, sering terjadinya tindakan kekerasan diakibatkan ketidakmampuan kita dalam memahami bahasa agama.  Ingat, dalam memahami bahasa agama ada kalanya dijumpai wilayah remang-remang, jela,s dan mencerahkan. Dikatakan remang-remang karena dalam memahami teks keagamaan, sikap kritis dan beriman bercampur satu sama lain.

Bahasa ritual sebagai medium tidak selalu berupa ucapan, tetapi bisa gerakan tubuh (body language) yang bersifat isyarat atau sikap tubuh (performative languange). Dalam semua agama akan ditemukan bahasa agama yang mengambil bentuk performative language. Dengan demikian, bahas agama tidak sekedar berhenti sebagai medium dan alat komunikasi, tetapi memiliki dimensi ontologis dan eskatologis.

Kekuatan bahasa dan ekspresi keagamaan merupakan manifesto komitmen moral dan iman dari orang-orang yang beragama secara saleh yang dialamatkan dan diminta disaksikan oleh Tuhan. Itulah sebabnya acara konversi agama dinamai dengan ikrar kesaksian.

Ungkapan keagamaan bagaikan puncak gunung es di lautan yang di permukaanya kecil, tapi bagian bawahnya besar, sehingga  kapal bisa tenggelam bila menabraknya. Ketersinggungan umat beragama bila bahasa agamanya dilecehkan. Karena, di dalam dan melalui teks keagamaan itu petanda artikulasi dan cita-cita keselamatan hidup ditambatkan.

Kendati tidak luput dari ketersinggungan (kemungkinan) distorsi dan deviasi penafsiran. Dengan demikian bahasa agama adalah wahana dan reservoir bagi nilai-nilai agung. Kepadanya orang beriman menimba dan mereguk inspirasi dengannya mereka mempertautkan diri dengan Tuhan serta menjalin ukhuwah dengan sesama anggota komunitas orang beriman.

Tentu, bila figur Yesus, Sidharta Gautama, Muhammad, Lao Tze, Musa, dilecehkan akan memancing reaksi dari umatnya. Pasalnya, bagi orang beriman mereka itu diyakini sebagai manifestasi jalan keselamatan. Inilah pentingnya kekuatan bahasa agama sebagai artikulasi keselamatan (Komarudin Hidayat, 1998:4-7 dan 105-109).

Bila tidak ingin umat Islam disebut pelaku yang akrab dengan kekerasan, maka ikhtiar menyelesaikan segala permasalahan keumatan dan kemanusiaan harus dimuai dengan tata cara yang baik, seperti diperintahkan oleh Allah SWT dalam An-Nahl 125, “Berserulah ke jalan Tuhanmu dengan (metode) hikmah, mauizah hasanah dan diskusi dengan cara baik.”

Kiranya, sikap Rasulullah yang pernah diusir, dicaci maki, dilempari batu oleh kaum yang tidak menghendaki ajarannya, sampai malaikat turun dan menawarkan diri kepada Nabi untuk menghukum (membalas) tindakan mereka yang menganiayanya, tapi Muhammad tidak melakukan kekerasan, justru malah mendoakan dan memohon ampun kepada Allah atas perbuatan lalim mereka yang belum mengenal kemuliaan Islam. Ini perlu kita renungkan secara bersama-sama dan di amalkan dalam kehidupan sehari-hari sebab Nabi Muhammad telah memberikan teladan untuk membalas segala bentuk tindakan keji dan biadab dengan cara yang lebih baik, elegan, arif, bijaksana, dan beradab.

Apalagi mengingat maraknya aksi kekerasan antar agama, kelompok, etnis di bumi Nusantara ini menjadi penanda pudarnya sikap saling menghormati perbedaan dan pemberian keteladanan dari pemuka agama dan pejabat. Mari kita mencintai Rasul dengan tidak melakukan budaya balas dendam dan tindakan kekerasan dalam menebarkan ajaran Islam yang mencintai kasih sayang, perdamaian, menjunjung tinggi sikap toleransi, dan menyelesaikan setiap persoalan dengan cara berdialog. Semoga.**

*) Penulis adalah Koordinator Post Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK) Bandung dan bergiat di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.  

Respon