Loading...
You are here:  Home  >  Sastra  >  Cerpen  >  Current Article

Khayal Itu Filsafat

By   /  January 23, 2014  /  Comments Off on Khayal Itu Filsafat

    Print       Email

Oleh: Yoga ZaraAndritra*

Belia

Ini tentang seseorang yang suka menengadahkan kepalanya ke atas; menilik entah apa, dan mengamati realitas sana. Serta melihat kolong rumah panggung yang gelap, rumah kakek buyutnya(bapak dari neneknya).

Drama itu dimulai sekira dia beranjak menikmati tanya dari sisa kepalanya yang dipenuhi dogma, sisa masa manja kanak-kanaknya. Ibunya terlampau dekat dengannya, sehingga lupa pernah Kahlil Gibran berkata, “anakmu bukan anakmu”. Namun, anak tetaplah anak di mata ibunya, yang harus berkata ya pada ibunya, pantang berkata ah. Sudah tiba waktunya kini manja berbuah kekang. Hari demi hari dipenuhi celotah bertameng kebaikan dan kebijakan orang tua, sesal lalu berjejal menghinggapi jiwanya yang tak sanggup faham apa yang dikata ibu tentang segala baik dan tak sanggup laku raganya perbuat.

Terlalu penuh sesak kepalanya dihinggapi tanya, tak jarang ia berharap bisa ke angkasa bertemu Pluto atau Mars sekedar mencicipi suasana dingin Pluto atau tanah merah Mars. Pikirnya tak pernah bisa diam di bumi, matanya selalu diambilkan buku yang bercerita tentang angkasa luar, agar menjadi bahan buatnya menerawang-terbang dan mensinggahi tempat-tempat asal bukan di bumi. Ya, matanya berdinamis mengolah kata menjadi bahan buatnya keluar berkhayal. Buku menjadi kayu bakar buat dilahap khayal. Namun, ia kenal buku atas rekomendasi ibu semasa ia wajib mengaji di asrama militer. “I-Q-R-A”, ia baca sambil terbata-bata lidahnya kelu karena tak terbiasa. Sampai saat itu, saat ia masih milik ibu, kegemarannya ialah mengaji Iqra 1-6 serta surat Annisa ayat awal.

Selain itu, tak jarang juga ibunya bertutur cerita tentang kisah para nabi atau perihal akhirat yang gelap itu(ghaib) dan membuatnya senang. Karena lagi-lagi itu membuatnya berkhayal. Khayal yang ia cipta semakin lama malah membuatnya kehabisan bahan. Maka itu ia perlu tahu sebanyak-banyaknya agar tak mudah habis khayal berkesudahan. Ke sana-sini antusiasme akan sesuatu semakin menjadi saja. Tumbuh subur tanpa mau dibimbing. Karena baginya bimbingan adalah kepemilikan akan dirinya, yang sudah cukup di rumah saja.

Pernah suatu kali ia berpapasan dengan kakeknya yang sedang membaca buku. Menjadi sangat khidmat ruangan itu, khidmat karena di situ berada sosok pria tua namun tetap gagah saat ia membaca. Tentu tak ada yang berani mengusik sekalipun istrinya, terang saja begitu karena ia ketika muda satu-satunya orang di kampung itu yang menjadi budak ilmu lalu mengajar di beberapa SD. Meskipun begitu, untuk urusan buku ia tetap menaruh harap pada cucu-cucunya agar juga menjunjung tinggi ilmu yang di dalamnya terkandung. Saat itu giliran ia yang terangkul harap si kakek. Serta merta kakek memanggil dan memberinya buku yang baru saja dibaca kakek, untuk juga cucunya baca. Di dalamnya berceritra tentang perjuangan Imam Bonjol melawan penjajahan belanda. Dari situ mulailah muncul benih-benih perjuangan dan perlawanan pada siapa pun yang dirasa menjajahnya.

Di Persimpangan

Di Persimpangan adalah masa-masa sulit baginya. Ia pun tahu itu karena ia membaca buku psikologi perkembangan milik bibinya, yang ikhwal meminjam bibinya tak tahu menahu bahwa bukunya dipinjam. Di persimpangan adalah remaja yaitu, masa transisi dari kanak-kanak menuju dewasa. Di sisi lain ia ingin diakui sebagai sesosok individu yang sudah dewasa, dianggap sudah besar, sejajar dengan orang-orang dewasa lainnya, harga dirinya menjadi begitu mahal karena ia tak ingin diperlakukan sebagai anak-anak. Namun, di sisi lain ia tak ubahnya seperti anak-anak. Begitulah ia tahu tentang dirinya yang remaja dari buku psikologi itu. Ia faham akan hal itu. Faham memang adalah kerjaan rasio, secara biologis hormonnya tetaplah belum stabil. Emosinya masih meledak-ledak. Sikap perlawanannya semakin kuat saja, pikirnya selalu nakal ingin terbang, dadanya sesak dipenuhi tanya yang gelap.

Lalu di manakah tempat yang cocok buatnya bermukim? Realitas, ia rasa sudah tak memadai untuk menerimanya yang kontradiksi itu. Segelintir orang saja yang di rasa cukup faham mejadi wadah buatnya beraktualisasi sebagai manusia yang rapuh tapi punya tekad independent. Segelintir orang tak juga membuatnya merasa segar. Akhirnya bukulah sejatinya yang mampu menjadi media buat ia berinteraksi dengan dirinya. Dengan sesuatu yang selama ini ia sangka ada di luar sana. Hanya ingin berkomunikasi saling faham, ia sangka lawan komunikasi saling faham itu adalah realitas di luar dirinya. Hal itu keliru karena realitas hanya menimbulkan pertentangan pada dirinya dan selalu meminta keseragaman sikap, kilahnya.

Buku seperti gerbang yang di situ komunikasi dengan diri pribadinya digelar. Maka ia menjadi semakin kenal akan dirinya. Setiap itu pula ia menjadi tercerahkan. Hal itu belumlah satu-satunya hal yang membuat perjalanan kegelisahan dan sesuatu hal yang mengusik pikiran dan perasaan usai. Buku menjadi semacam titik tolak kesadaran bahwa pentingnya rasa gelisah, rasa penasaran dan rasa-rasa yang mengusik lainnya itu menjadi daya hidup jiwa.

Dari situ ia malah berkenalan dengan filsafat sesosok makhluk yang punya misi penting yaitu, menjadi pendobrak, pembaharu, pembebas, dan penyusun, setidak-tidaknya itu menurut mereka yang telah cukup lama bergaul dengan filsafat, meskipun tak semua orang sepakat. Mungkin dari situ filsafat dianggap subversive, destruktif dan kadang anti kemapanan. Bayangkan makhluk ini tak mewajibkan dirinya tunduk pada apa pun, sekali pun itu yang dianggap tuhan, tatanan moral, atau hukum.

Sampai berkenalan dengan Sartre, ia belumlah punya persepsi bahwa filsafat seperti itu. Bagaimana tidak, lingkup filsafatnya hanya sebatas filsafat Islam. Yang di situ masih gandrung akan hal ikhwal tentang kebenaran Islam itu sendiri. Padahal persepsi tentang Islam yang ia dapat dari lingkungannya masihlah sesempit pikiran para pemaham Islam yang kurang mensyukuri kebebasan menjadi manusia, senang diperbudak kemapanan.

Lalu ia kenal Sartre melalui buku 5 menit bersama Sartre, kenal pula Sokrates. Namun, ide Sartrelah yang malah melekat kuat di dadanya. Kebebasan terus ia dengung-dengungkan setiap pagi matahari mulai bersinar. Kenal Sartre tak malah membuatnya melupakan orang-orang Islam yang nabinya pernah berkata, “hikmah itu milik orang beriman, pungutlah di mana pun ia kau temukan” oleh karenanya ilmu begitu dijunjung tinggi. Semangat menjunjung tinggi ilmulah yang membuatnya terkagum-kagum pada orang Islam terdahulu. Berkenalan dengan Sartre menjadi tonggak awal penemuan jati dirinya yang terus menerus akan ia cari. Sebagaimana Sartre mencarinya di ranah filsafat, yang dari situ Sartre menemukan bahwa manusia adalah kebebasan itu sendiri bukan lagi manusia yang mengidamkan oksigen kebebasan untuk dihirup.

Tenggelam

Untuk sementara waktu filsafat adalah jalan hidupnya, tempat bermukim yang selama ini ia cari-cari. Sebab di situ segala energi “nakal” bisa disalurkan; rasa gelisah, rasa-rasa lain yang mengusik menjadi keasikan, segala khayal tak habis-habisnya terhampar lalu diubah menjadi energi kreatif untuk mengaktualisasikan dirinya sebagai manusia yang otentik.

Jalan hidupnya ini tidak lebih utama dari yang lainnya yang memiliki nama berbeda namun sama-sama “menghidupkan” insan yang menapakinya. Ya, bukan atas dasar aspek-aspek formal yang menyelimutinya melainkan atas dasar sejauh mana jalan yang dipilih mampu mengaktifkan “daya hidup”, baik positif maupun negative.

Atas dasar keragu-raguan, atas dasar penasaran, atas dasar senang berkhayal, lalu ia mulai berenang di ranah yang bila saat malam keadaan menjadi remang-remang dan bila siang datang selalu diselimuti asap sehingga apa yang hendak dilihat menjadi samara-samar. Tapi, itulah justru yang semakin membuat Ia menjadi bersemangat, memicu daya juangnya aktif untuk hal yang ia rasa perlu diseriusi dan didalami sampai tenggelam. Rasa-rasa itu malah membuatnya mantap, pasti dan yakin untuk terus meluruh sampai “tak sebatas Allah”, Sutardji bilang.

Hari-hari menjadi indah dihiasi aktivitas yang meminta kontstruksi keyakinan sebelumnya untuk direvisi, karena sudah tak memadai untuk dijadikan baju jasad yang telah tak imitasi lagi. Segala keyakinan harus masuk dalam ruang uji nalar dan seperangkat daya rohani lainnya untuk kemudian melekat menyatu pada diri manusianya. Revisi ini kadang menimbulkan ketegangan dan pertentangan dalam dirinya, tak jarang revisi ini malah menghancurkan struktur bangunan mapan yang sebelumnya tabu untuk dibicarakan sekali pun. Tapi sering pula malah meneguhkan struktur bangunan lama yang diterima begitu saja lalu tak dihiraukan lagi, justru kini setelah ada aktivitas revisi menjadi teramat penting untuk diabaikan.

Ia sadar bahwa kini setelah memilih jalan filsafat maka untuk sementara waktu menjadi “yang terasingkan” (al-Ghuroba). Di jalan ini banyak ditemui hal-hal asing buat nalarnya, namun nuraninya berkata lain bahwa inilah justru yang teramat dekat dengan dirinya, semacam penemuan diri. Asumsi tentang ranah ini yang begitu gelap pekat bila tenggelam atau menenggelamkan diri di sini. Malah terbukti sebaliknya setelah dialami.

Sementara waktu jalan ini ia tapaki, rumah ini ia tinggali. Di samping ia juga sadar bahwa sewaktu-waktu nanti akan tiba masanya mengenyam kemapanan lalu segera ia harus beranjak. Menjadi muda kembali, merevisi kembali, menggugat kembali, karena itu ia anggap hakikat dari filsafat itu sendiri, meskipun namanya bukan lagi filsafat.

*Penulis bergiat di Komunitas Suku Badot yang anggotanya sebagian besar anak kecil setingkat SMP. Tulisan ini diposting juga di Blog Oga (selengkapnya tentang Blog Oga, klik di sini)

    Print       Email
  • Published: 4 years ago on January 23, 2014
  • By:
  • Last Modified: January 23, 2014 @ 5:33 pm
  • Filed Under: Cerpen, Sastra
  • Tagged With:

You might also like...

Dr Faust, Apa Agamamu?

Read More →
%d bloggers like this: