Loading...
You are here:  Home  >  Filsafat  >  Current Article

Filsafat Analitik, Dinamika Kajian Bahasa

By   /  February 10, 2014  /  No Comments

    Print       Email

sumber gambar: http://tongkronganislami.net

Oleh: Hafidz Azhar*

Bahasa dan filsafat, dilihat dari keterkaitannya boleh dikatakan merupakan dua entitas yang sama-sama saling melengkapi. Pandangan ini muncul ketika seseorang yang sedang mendalami filsafat dibingungkan dengan pertanyaan-pertanyaan filosofis, atau dengan kata lain konsep filsafat yang ditelurkan melalui bahasa ontologis. Seperti pertanyaan mendasar “apa itu ada?”, “apa itu bahasa?” dan “bagaimana yang ada itu menjadi tidak ada?”. Rumusan pertanyaan tersebut sebenarnya meliputi bahasa. Namun, bahasa yang disampaikan dikemas secara filosofis, supaya orang bisa lebih berpikir radikal dan sistematis.

Kajian bahasa telah lama diperhatikan, tepatnya zaman pra Sokrates. Para filsuf seperti Heraklitos sudah menerapkan filsafat bahasa untuk mengkaji segala sesuatunya termasuk alam semesta. Pada zaman Sokrates, bahasa menjadi salah satu pusat utama, di mana retorika dipakai sebagai medium untuk dialog filosofis. Bahkan, ketika Sokrates berdialog dengan kaum sofis, ia lebih menggunakan metode penguraian bahasa yang sering disebut dengan “dialektika kritis”. Oleh sebabnya, bahasa sangat erat sekali dengan filsafat, melihat aspek-aspek filosofis seluruhnya terkandung dalam bahasa.

Perkembangan pemikiran filsafat bahasa tumbuh dan populer pada awal abad 20-an khususnya di Inggris dan di Eropa pada umumnya. Salah satu peletak utama pemikiran filsafat analitik ini menjadi populer berkat Betrand Russell dan Ludwig Wittgenstein. Akan tetapi, ada banyak tokoh lainnya yang memberikan sumbangsih terhadap pemikiran filsafat bahasa dengan pelbagai aliran yang dianutnya. Aliran-aliran ini meliputi atomisme logis, positivisme logis, dan yang terakhir, filsafat bahasa biasa (ordinary language philosopy).

Atomisme Logis

Sebenarnya, puncak utama dari pemikiran atomisme logis ini dirintis oleh seorang filsuf Cambridge bernama George Edward Moore (1873-1958). Namun, tokoh utama yang mengemukakan serta merumuskan nama dari aliran ini ialah Betrand Russell dan Ludwig Wittgenstein. Pertama, awal mula konsep atomisme logis bagi Russell bahwa, logika itu menurutnya bersifat atomis. Atomis berdasarkan etimologi berasal dari kata a “tidak” dan tomos “potong”. Lalu, atomis dipahami secara umum sebagai pandangan matrealistis bahwa alam semesta terdiri dari entitas paling sederhana (Loren Bagus, 2005:97). Dari paham ini pula Russell mampu mensintesiskan pemikiran filsuf-filsuf sebelumnya. Dalam pemikirannya, dia memakai tradisi pemikiran empirisme John Locke dan David Hume terutama mengenai struktur logis dari proposisi-proposisi, dari proposisi sederhana (atomis) sampai pada proposisi kompleks yang memiliki corak logis yang sama dengan konsep ide-ide sederhana (ide atomis) sampai pada ide-ide yang bersifat kompleks. Kemudian, dalam hal ini Russellpun ingin membangun bahasa yang mampu mengungkapkan realitas, yang berdasarkan formulasi logika (Kaelan, 2009:82). Ada beberapa prinsip yang dikemukakan oleh Russel mengenai filsafat analitiknya, tentang prinsip formulasi logika bahasa, prinsip kesesuaian, dan terakhir prinsip mengenai struktur proposisi.

Kedua, filsafat atomisme logis yang dirujuk oleh Ludwig Wittgenstein. Dalam mengungkapkan realitas dunia Wittgenstein merumuskan mengenai suatu proposisi-proposisi, sama halnya seperti Russell, bagi Wittgenstein terdapat suatu kesesuaian logis antara struktur bahasa dengan struktur realitas dunia. Karenanya, proposisi-proposisi itu terungkapkan melalui bahasa pada hakikatnya merupakan suatu gambaran dunia (Kaelan, 2009:98). Maka dari itu, prinsip dasar atomisme logis yang dia anut untuk mengungkapkan realitas dunia dinamakan dengan teori gambar (picture theory). Lalu, konsep pemikiran filosofis tractatus Wittgenstein terdiri atas pernyataan-pernyataan yang secara logis memiliki hubungan. Pada persfektif ini yang dia maksud dengan fakta adalah suatu peristiwa atau keadaan dan suatu peristiwa itu adalah kombinasi dari benda-benda atau objek-objek bagaimana hal itu berada di dunia. Jadi, menurut Wittgeinstein bahwa sebuah fakta itu adalah suatu keberadaan peristiwa, yaitu bagaimana objek-objek itu memiliki interrelasi dan keadaan, hubungan kausalitas, kualitas, kuantitas, ruang, waktu, dan keadaan (Poerwowidagdo dalam Kaelan, 2009:96).

Positivisme Logis dan Filsafat Bahasa Biasa

Aliran positivisme logis serta aliran filsafat bahasa biasa berkembang dan berpusat di Wina Austria kurang lebih awal tahun 1922. Dua gerakan ini sama-sama dipengaruhi oleh Ludwig Wittgenstein, namun, ada perbedaan pemikiran dari kedua aliran ini. Jika positivisme logis didasarkan pada tradisi empirisme David Hume, John Stuart Mill dan Ernest Mach. Pada pemikiran filsafat bahasa biasa didasarkan melalui peralihan pemikiran Ludwig Wittgenstein I yang awalnya menganut paham atomisme logis menjadi paham filsafat bahasa biasa (ordinary language philosopy) yang dikenal dengan pemikiran Wittgenstein II. Aliran filsafat bahasa biasa yang dikembangkan oleh Wittgenstein ini sangat bertolak belakang dengan pemikiran tractatus ketika dia masih menganut atomisme logis. Dari pemikiran keduanya itu, Wittgeinstein banyak mengkritik pola pemahaman atomisme logis. Berangkat dari karyanya yang kedua, Wittgeinstein mulai menyadari bahwa bahasa diformulasikan melalui logika yang sebenarnya sangat tidak mungkin untuk dikembangkan dalam filsafat, bahkan dalam pelbagai kehidupan manusia terdapat banyak macam konteks yang tidak mungkin hanya diungkapkan melalui logika bahasa (Kaelan, 2009:123).

Kedua aliran ini perlu rasanya untuk menyebutkan siapa tokoh yang menjadi tolak ukur pemikiran filsafat analitiknya. Pertama, tokoh yang mengembangkan tradisi positivisme logis salah satunya adalah Alfred Jules Ayer. Dia memiliki gagasan terhadap filsafat analitik bahwa, proposisi-proposisi itu bermakna manakala pernyataan itu bisa diverifikasi dengan pengalaman. Kedua, tokoh-tokoh yang mempopulerkan aliran filsafat bahasa biasa diantaranya, Ludwig Wittgeinstein II, Gilbert Ryle, John Langshaw Austin, dan Peter Strawson. Secara umum, pemikiran aliran filsafat bahasa biasa menekankan pada aspek permainan bahasa, fungsi bahasa, dan konteks bahasa (pragmatik).

Dari pelbagai pemikiran aliran filsafat analitik,  intinya, seluruhnya menekankan pada aspek penggunaan bahasa yang menggunakan struktur bahasa yang khas. Namun, perlu diketahui jika bahasa filsafat memerlukan banyak pemahaman terhadap si pembacanya, dengan demikian filsafat analitik di sini sangat dibutuhkan. Sebab, dari filsafat bahasa ini kita tidak hanya mampu mempelajari pernyataan-pernyataan yang diungkapkan oleh si penutur. Lebih dari itu, filsafat analitik banyak berperan terhadap bagaimana kita menggunakan logika dalam berbahasa.

Daftar Bacaan:

Kaelan, Filsafat Bahasa, Semiotika dan Hermeneutika Paradigma:Yogjakarta 2009.

Muntasyir, Rizal Filsafat Analitik Pustaka Pelajar:Yogjakarta 2013

Bagus, Loren Kamus Filsafat Gramedia:Jakarta 2005

 

*Penulis adalah mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab bergiat di Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman

    Print       Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like...

Demokrasi Sosial: Konsepsi tentang Perjuangan Sosialisme di dalam Gerakan Kiri Lama

Read More →
%d bloggers like this: