Loading...
You are here:  Home  >  Sosial Budaya  >  Current Article

Semiotika Terbalik

By   /  February 10, 2014  /  No Comments

    Print       Email

Oleh: Hafidz Azhar*

Prologue

Hidup semakin absurd. Saat ini, banyak sekali benda-benda aneh muncul untuk menutupi akal manusia. Jika diukur, lambat-laun manusia akan kehilangan identitasnya sebagai makhluk yang memiliki ciri berebeda dengan makhluk lainnya. Kenapa tidak, kini manusia lebih memilih menggunakan objek materialnya daripada harus mendalami objek formalnya. Sudahlah, mungkin penjelasan seperti itu terlalu membingungkan. Maksud saya, coba tengok sejenak di sekeliling kita, kalau dipikirkan ada banyak sekali kejanggalan terjadi. Walaupun tidak secara jelas, tapi secara semiotis sudah secara terang-terangan. Dimulai dari sebuah pertanyaan, “Apa yang mereka pakai?, bagaimana cara mereka hidup?, dan kenapa realitasnya terbalik?” ini semua akan terjawab manakala kita benar-benar memperhatikan. Lantas apa permasalahannya? Ya, pasti semua bingung. Sesungguhnya, yang ingin saya uraikan dalam catatan ringan ini perihal gaya hidup dan kebutuhan individu masyarakat yang serba terbalik. Dalam hal ini, saya menamakannya sebagai semiotika terbalik.

Alasan yang tepat mengenai judul catatan ini khususnya semiotika, tak jauh hanya semacam kerangka berpikir saya terhadap tinjauan pola kehidupan manusia yang semakin sangat tidak jelas. Seperti yang disinggung oleh Aart Van Zoest, sejatinya manusia merupakan Homo Semioticus. Maksudnya, dari mulai bagaimana manusia berkomunikasi, melakukan sesuatu, dan lain sebagainya, bahwa manusia adalah ruang lingkup dari pembicaraan tanda. Atau dengan kata lain, manusia sarat dengan relasi tanda. Oleh sebab itu, alangkah baiknya jika saya menjelaskan terlebih dahulu problematika apa yang sedang terjadi sekarang ini, sampai akhirnya saya begitu tertarik untuk mengelabui realitas dengan analisa semiotika.

Mitos dan Kekaburan Tanda

Istilah mitos pasti sudah tidak asing lagi di telinga kita. Namun, kata “mitos” di sini bukan diartikan sebagai sesuatu yang sering dibicarakan oleh para nenek moyang kita. Seperti legenda sangkuriang, kuntilanak atau sandekala untuk dijadikan sebuah cerita rayuan bagi anak-anak supaya mudah ditakut-takuti. Istilah mitos menurut Barthes, ialah sebuah muatan konotasi yang identik dengan operasi ideologi. Dalam mitos ini sebuah petanda dapat memiliki beberapa penanda. Misalnya, penanda untuk pakaian rapih adalah ciri orang yang baik. Kemudian, penanda yang menyebutkan bahwa orang yang pintar itu adalah orang yang tamat lulusan S1 di perguruan tinggi. Semua bentuk penanda ini tidak lain adalah muatan konotasi atas operasi ideologi di masyarakat. Dan Barthes menyebutnya sebagai mitos.

Pemikiran Barthes jika dihubungkan dengan kasus di atas memang cukup berkaitan. Tapi, jika Barthes menyebutnya mitos, bagi saya itu telah menjadi semacam semiotika terbalik. Di saat penanda itu dilesapkan pada konteks yang sudah tidak relevan, maka pemahaman kita akan sedikit bergeser. Ambil contoh, ketika para pejabat atau birokrasi disinyalir telah melakukan pelbagai tindak pidana korupsi, yang perlu disoroti di sini adalah bagaimana cara berpakaian para pejabat yang melakukan korupsi itu? Jawabannya jelas, sehari-harinya mereka memakai kemeja, jas berdasi, celana panjang katun dan rambut terlihat rapi. Lalu, timbul pertanyaan selanjutnya, bagaimana sikap kesehariannya sebelum para pejabat tersebut benar-benar terbukti melakukan tindak korupsi? Menurut sumber informasi, salah satu di antara mereka sering bertugas sebagai penceramah di mesjid-mesjid untuk menyebarkan syari’at Islam. Pada kasus seperti ini saya dapat membuktikan semacam hal keterbalikkan yang artinya, di sini kita bisa memahami bahwa ada kekaburan penanda dan petanda. Penanda yang beredar di masyarakat bisa dikatakan sebagai bentuk pengejawantahan yang sudah terbalik. Penanda “baik” berbalik menjadi penanda “jahat”.

Contoh lain, dulu di kampus UIN SGD Bandung sedikit sekali orang yang memakai celana bolong, rambut gondrong dan memakai sandal jepit ketika masuk ruang perkuliahan. Bukan tanpa sebab, alasannya ialah pertama, memakai celana bolong karena tidak memiliki lagi celana. Kedua, dengan memanjangkan rambutnya mereka mempunyai dalih bahwa rambut gondrong tiada lain merupakan simbol perlawanan (kritis). Ketiga, memakai sandal jepit bisa juga dipahami tidak memiliki sepatu, bisa juga diartikan sebagai bentuk kritis. Tapi, setelah pergeseran zaman semakin drastis, ketiga simbol tadi sudah menjadi tren rendahan yang tidak memiliki alasan kuat. Tidak sedikit mahasiswa yang memiliki banyak uang, sengaja merobek celananya sampai terlihat bolong agar semua orang di sekitarnya memperhatikan bahwa memakai celana bolong itu sebuah tindakan “keren”. Begitupun dengan tren rambut gondrong sekarang ini, mereka tidak mempunyai argument jelas di saat dosen bertanya “mengapa rambutmu gondrong?”. Ini mengindikasikan, tren-tren sekarang merupakan kebalikan dari pola hidup di masa lampau. Dan satu hal yang mesti kita soroti adalah, mengapa ideologi-ideologi yang dilepaskan pada penanda “baik dan rapih” masih berlaku di kalangan kita saat ini khususnya, para penggiat akademik. Padahal, sudah jelas banyak kekaburan tanda, dan justru penanda “baik dan rapih” itu kini sudah berbalik makna menjadi “jahat dan rakus”.

*Penulis adalah Mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab bergiat di Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman

    Print       Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like...

Sejarah Gerakan Mahasiswa di Indonesia

Read More →
%d bloggers like this: