Loading...
You are here:  Home  >  Opini  >  Current Article

Oknum Cabul

By   /  February 12, 2014  /  1 Comment

    Print       Email
Oleh: Fajar Fauzan*
“Politisi dicerna sebagai profesi alat mencari untung. Satu persatu saksi kecurangan dihabisi, dan disumpal mulutnya. Kemudian dari dalam saku baju mereka, dikeluarkan nota pembayaran sebagai ganti atas hilangnya suara nurani.”
Beberapa dekade terakhir, ruang-ruang ketidakpercayaan semakin terbuka; atas nama naluri berkuasa. Ketidakadilan duduk di muka, dan angka pencurian akhir-akhir ini melonjak tajam di luar dugaan. Tingkat keriminalitas berbanding sama dengan perkembangbiakkan Politisi dari waktu ke waktu. Sejarah hanya nampak saat kenyataan itu usai, para pencatat menuliskannya lalu duduk dalam suatu masa yang gelap saat para Politisi raib ditelan siasatnya sendiri. Lalu dimanakah hati nurani? Karena kemudian setiap orang harus menyerah pada mahalnya harapan. Terperangkap dalam muram, memungut sisa-sisa mimpi dari peperangan yang bukan untuk dirinya. Politisi hanya tarpaut diam, lalu bilang, “ya sudahlah”.Ya, banyak orang berdoa ingin terkabul dengan harapan yang sama; kejengahan, rasa bosan, keterpurukan, kemiskinan dan kesengsaraan. Kemudian memaksa orang untuk menyatakan sikap beriman; berdoa atas ketidaksanggupan. Demikian juga, para Politisi selalu berdo’a dengan cara lain; seperti mengarahkan tangannya pada nota pembelian. Dewa-dewa yang dipuja adalah pengorbanan atas nama air mata. Satu doa terpanjat maka beberapa nada geram mampir di ruang yang lain. Satu Politisi berkembangbiak, maka setiap orang pun mengadu tanding untuk menyimak cara mereka menyusui anak-anaknya. Lalu dari mana datangnya petunjuk? Bahkan untuk memperoleh kebenaran pun banyak orang yang harus berendam dalam cacian. Bukankah Tuhan pun selalu hadir untuk para Politisi dan pencuri!
Setiap kali akan berperang, Politisi tak pernah berdiri di lapangan. Ia sembunyi di dalam tenda, menunjuk tangan ke atas dibalik ketek ibunya. “Hati-hati dalam berperang, mungkin musuh adalah selimutmu sendiri atau teman kau berbagi bantal.” Lalu ribuan anak ditelantarkan dan berjalan gontai, menyusuri sisa peperangan yang telah usai. Sehabis sembunyi kemudian para Politisi muncul kembali, mengajak beberapa prajurit yang tersisa dan berkata, “kita menang!”. Sementara tangis bayi masih menggema, baju lusuh berterbangan di depan mata. Tanpa malu Politisi berteriak, “Kita menang! Mari ambil barang jarahan!” Politisi mencabuli prajuritnya satu demi satu; kerap berusaha terus untuk menipu.
Sisa usia, dan cita-cita kini terlampau mahal, aku hanya masih berada di luar medan perang. Menyiapkan alat tulis lalu merekam reka-bentuk satu per banyak. Entah dalam perang apa, dalam situasi memperebutkan apa. Karena kali ini aku hanya berharap bahwa jejak cerita lebih mahal dari kurs mata uang manapun. Toh menjadi prajurit pun bukan berarti berhenti memaknai peperangan. Lalu kemana teriakkan yang beberapa waktu lalu pernah mampir di banyak taman kota. Pun, tak mustahil semangat menjadi pahlawan terjual dengan uang ratusan juta rupiah. Ah, kali ini aku hanya harus benar-benar pasrah jika cara berkeyakinan
dan suara hati nurani hanya diukur dari kertas administrasi. Demikianlah, karena politik hanyalah siasat untuk mencuri.
*Penulis adalah mantan Pimpinan Umum Lembaga Pers Mahasiswa Suaka
    Print       Email
  • Published: 5 years ago on February 12, 2014
  • By:
  • Last Modified: February 12, 2014 @ 1:50 am
  • Filed Under: Opini
  • Tagged With:

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like...

Mendudukan Makna Wahyu Memandu Ilmu

Read More →
%d bloggers like this: