Loading...
You are here:  Home  >  Sastra  >  Cerpen  >  Current Article

Emas

By   /  February 15, 2014  /  No Comments

    Print       Email

Oleh: Cian Ibnu Sina

Emas 24 Karat

SUNGGUH berharga sekerat emas, walau hanya secuil dimiliki. Tak ada seorang pun yang tak mengetahui perhiasan ini, apalagi menolaknya jika diberi secara cuma-cuma. ”Tak harus terburu-buru lah Nak, tak memakai perhiasan emas juga tak mengapa. Tak usah risau, apalagi gusar. Memang betul Nak, emas adalah ukuran barang bagus, simbol utama; kaya miskin banyak orang pakai emas, meski hanya ¼ gram yang hanya dipasang di sebelah telinga kirinya. Santai lah Nak, Ayah mu belum ada duit untuk membeli gelang emas permintaan mu itu”.

Berkali-kali sang Ibu menasehati anaknya, sudah sering meneteskan air mata hingga kering. Tetapi sang buah hati masih keras kemauan meminta emas untuk dijadikan gelang sebagai perhiasan di tangannya. Mungkin benar di zaman sekarang ini, anak sangat terbeban menanggung malu bila tak memakai perhiasan dari emas. Setiap hari setiap waktu, menjerit hanya inginkan perhiasan emas. Tak siang tak malam, air mata terus diteteskan demi mendapatkannya.

”Jangan pura-pura lah Bu, sekarang kan zaman modern, sudah bukan zaman kerajaan lagi. Sudah lah Bu, beliin aku sikit saja, tak usah banyak-banyak yang penting aku pakai gelang dari emas.”

Sang Ibunya hanya menatap lembaran acara di televisi, asyiknya mengintip Audisi Penyanyi Indonesia, sebuah televisi swasta. Apakah dengan memakai perhiasan emas adalah suatu kewajiban bagi perempuan yang memang tak bisa ditawar-tawar lagi?

Nampaknya penasaran bener terhadap perhiasan yang kuning ini, tak habis pikir. Ibu yang cerdas, selalu berbincang dengan nuraninya. Bagaimana kalau buah hatinya di ajak jalan-jalan, biar melihat bagaimana sebenarnya perhiasan kuning itu. Gayung pun bersambut, suami dari Ibu yang cerdas tentu lelaki cerdas juga. Ia mengizinkan istrinya untuk membawa jalan-jalan belahan jiwanya itu.

Hari berganti sunyi, sepi menghilangkan ramai. Matahari masih mamayungi seisi bumi, tak ditunda-tunda lagi. Demi sang buah hati, apa pun dikorbankan untuk kebahagiannya. Yang jauh terasa dekat, begitu lah yang dekat semakin tiada jarak lagi. Sehabis memikir sambil meneguk jamu hasil ramuannya sendiri, sambil menulis agenda hariannya. Engku Putri mengajak Rara untuk bepergian ke luar negeri, sekadar menatap bagaimana di manca negara sebenarnya perhiasan itu digunakan.

”Sudah lah Nak! Tak baik pula menangis terus, sekarang berangkat sama Ibu ke negeri jiran. Untuk melihat emas, siapa tahu kamu suka dengan emas di negeri seberang sana”.

“Mari lah Bu! Aku juga sudah tak tahan ingin memiliki emas untuk perhiasan gelang, kelak aku pakai di tangan kanan dan kiri”. Keduanya setuju untuk pergi meninggalkan kampung halamannya. Engku Putri membawa ke tiga tempat saja, berangkat dari Singapura menepi di Beijing.

Lalu meneruskan perjalanannya ke Yerusalem, Palestina. “Lihat lah Nak, yang bundar besar di atas bangunan suci ini. Ini masjid kaum muslimin sejak dahulu, ini berumur ratusan tahun. Dahulu dibangun pada tahun 690 Masehi. Nama masjid ini adalah masjid Qubbah As-Sakhirah atau biasa dijuluki dengan sebutan; Dome of The Rock. Tampak dari sini Nak, bukan kah yang besar di atas itu terbuat dari emas?”

Rara hanya bisa menatap, lalu membenarkan perkataan Ibunya, setelah menikmati hidangan sarapan ala Israel. Mereka berdua sejenak melepas lelah di sudut waktu, dekat Al-Aqsa. Di pinggiran masjid itu nampak banyak orang yang lumpuh mengayuh tubuhnya, hanya minta-minta sekadar untuk makan. “Bu, apakah orang-orang lumpuh ini sejak lahir atau karena suatu peristiwa dan kenapa dibiarkan begitu saja?”. Pertanyaan yang cerdas, membangkitkan memory Engku Puteri ke masa silam. “Mereka lumpuh karena perang Nak, karena kebiadaban orang-orang Yahudi Israel”.

Hanya sebentar saja mereka berdua berbincang soal emas besar itu, tak lama kemudian, keduanya membersihkan sisa lelah yang terpenggal pada lembaran perjalanan. Kemudian membeli tiket melanjutkan perjalanan ke negeri lain. “Sudah dulu ya Nak, diskusinya nanti kita teruskan lagi. Sekarang kita harus meramu waktu agar sampai di tanah minyak, segera menepi di negeri suci Syi’i.

Tepat di sebuah negeri “seribu satu malam” itu, Engku Puteri dan Rara berhenti di tepian diskotik milik Hajjah Fatimah Nurul Qashrie. Sambil meneguk arak timur, sedikit berbincang-bincang soal perjalanannya. Namun disela-sela perbincangan, sudah nampak di pelupuk mata Rara sebuah bangunan besar, persis seperti yang ia lihat kemarin hari di Palestina. “Bu kok bangunan itu sama seperti yang kemarin, kita mendekat yu?”. Rupanya sudah tak sabar ingin melihat yang kedua kalinya. “Sabar lah Nak, sekarang malam mau menutup cahaya siang, besok pagi kita mendekat tepat ke arah sana”.

Ditemani pagi yang cerah, tanpa tetesan hujan tanpa irisan angin. Keduanya bergegas menyulam memori semalam yang telah lewat. Secepatnya membungkus cerita kemarin bersama Hajjah Fatimah Nurul Qashrie. Lalu pamit meninggalkan diskotik tua itu, Rara tak ketinggalan melipat anggur timur yang segar itu di kantong kecilnya. Sedangkan Engku Puteri tidak sempat melupakan arak timur jauh yang seperti jamu itu, ia bahkan teringat saat meneguk jamu ramuannya sendiri, tiga hari sebelum pergi.

Keduanya menunggang keledai sewaan seharga 120 dirham, bersama sengat siang mereka menepi di pembaringan terik matahari. Tak jauh dari bangunan besar itu, mereka berhenti. Lalu berjalan perlahan, sambil menatap bangunan tua itu. Selangkah demi selangkah menapaki tanah kering itu, tiba lah mereka berdua tepat di depan bangunan itu. ”Bu nampaknya bagunan ini sama seperti yang aku lihat kemarin di Yerusalem, ini juga terbuat dari emas sebesar ini? Aneh, kok masih banyak juga orang-orang miskin keliaran menjejali dinding nasib di negeri ini”.

Rara mulai senang sekaligus bimbang, ia baru merasakan kalau apa yang dilihatnya kurang begitu meyakinkan hati nuraninya. Sedangkan Engku Puteri mulai merasa lega, ia berhasil membawa Rara ke hamparan nalar yang mapan selama ribuan tahun. Ia sukses membawa jalan-jalan anak kesayangannya menemukan keindahan, sekaligus duka yang mendalam yang pernah disaksikan langsung oleh buah hatinya.

Baru lah kali ini, Rara lupa kalau ia sesungguhnya sedang menginginkan sangat emas itu. Akan tetapi, Engku Puteri yakin bahwa lupa anaknya adalah justru sangat ingat tentang emas yang diinginkannya itu. Ia yakin bahwa lupa sebenarnya ingat yang sangat mendalam. Karenanya, ia membawa ke tiga tempat itu. ”Sudah lah Nak! Tak usah melamun, besok kita sambung lagi perjalanan ke tanah Melayu. “Tidak lah Bu! Beri tahu lah aku terlebih dahulu”.

Begitu gembiranya hati Engku Puteri, hingga tak sempat banyak menjelaskan kepada Rara seperti saat di Palestina. “Oh ya, maafkan Ibu Nak! Ini namanya masjid Hasan Al-Askari, di bangun pada tahun 944 Masehi. Daerah ini namanya Samara, nama negaranya Irak berdekatan dengan negara Iran. Penamaan masjid ini disandarkan kepada cucu Rasulullah saw, yaitu Hasan Bin Ali Bin Abi Thalib. Masjid ini merupakan bangunan suci kaum Syi’i; pengagum sahabat Rasulullah saw. Yang menantunya sendiri, ia adalah Imam Ali Bin Abi Thalib Karamallahu Wajhah”.

Surut lah sudah keinginan keras Rara memiliki perhiasan emas, tapi belum habis penasaran di hatinya. Sambil termenung sepanjang jalan, keduanya meneruskan ke tanah Melayu. Berlabuh di Bandar Sri Begawan, beramah tamah dengan negeri kerajaan Melayu itu. Hidangan ramah tamah negeri seribu minyak ini, mengingatkan ke kampung halaman. Selain karena dekatnya dengan tempat keduanya tinggal, juga bahasanya masih sama. Seleranya mirip dengan budaya sendiri, senantiasa akrab saling menyapa setiap menemui orang yang diajak berbincang.

Bagunan ketiga ini juga besar, terbuat dari emas murni. Indah dipandang, meski tak sempat bagaimana rasanya. Rara menganggapnya demikian, soalnya pikir Rara, dua tempat sebelumnya, ada emas besar itu justru berbarengan orang-orang sekitar miskin yang papa itu. “Bu kalau masjid yang satu ini aku tahu; dibangun tahun 1980-an, ada 29 kubah berlapis emas 24 murni karat. Namanya masjid Jami’e Al-Asr atau masjid Bandar Sri Begawan, luasnya 2 hektar, ke mana lagi kita melihat emas lebih besar lagi, masih ada?”.

Mulai terbuka luas cakrawala kehidupan duniawi di mata Rara, Engku Puteri bergembira mendengar keluhan buah hatinya itu. Tak lama keduanya bergegas menuju bandara, langsung meluncur menuju Jakarta. Setibanya di Bandara internasional Soekarno-Hatta, lalu melanjutkan perjalanannya ke Depok dan bermalam di sana. “Besok kita sambung terus ke Cinere Nak, melihat indahnya bagunan yang paling baru, emasnya tak kalah lebih besar dari yang sebelumnya”. Tanpa mengasah lelah atau menjumput ragu. Dengan penuh kasih sayang yang harmonis, Ibu dan anak itu menuju Cinere.

“Alamak besar sangat Bu! Kapan masjid Indonesia ini dibangun?”. Spontan rasa penasaran menghadang Rara saat melirik ke bilik parkir di halaman bagunan megah itu. “Marilah kita masuk, kita tanyakan kepada mereka tentang masjid ini.”

Belum sempat mengucapkan salam, keduanya telah diterima sebagai tamu. Lalu masuk menuju ruangan masjid, melirik ke sana ke mari. Dengan penuh senyum, penjaga masjid itu lalu menjamu berbagai hidangan ala Sunda. “Ini tanah Pasundan, silakan mencoba makanan khas kami. Setelah shalat berjama’ah, nanti saya jelaskan sejarah masjid ini.”

Setelah menikmati jamuan, si penjaga masjid menghilang ke kamar, nampaknya ada sesuatu yang tertinggal.

Setelah kembali dari kamar itu, ia berganti dari seragam penjaga masjid menjadi pakaian biasa khas Indonesia. “Maaf agak lama sedikit, bagini lah ceritanya: namanya sesuai pemiliknya, masjid ini bernama Masjid Dian Al-Mahri. Kepunyaan Hajjah Dian Juriah Al-Rasyid Al-Mahri, seorang wanita kaya-raya. Dibangun pada tahun 1999, dan diresmikan pada tahun 2006. Bagunan seluas 8000 meter ini, berdiri di atas tanah 70 hektar. Halaman dalamnya berukuran 45 x 75 meter, mampu menampung jama’ah sebanyak 10000 orang, dengan altar marmer impor dari Turki”.

Mendengar penerangan penjaga masjid ini, Rara hanya termengu mendesap aneh luar biasa. Kaget penuh keheranan. Berdampingan dengan Ibunya, Rara tak banyak tanya tentang masjid ini. Bahkan memberi isyarat dengan bahasa tubuh untuk setuju saja menyimak penjelasan dari penjaga masjid selanjutnya. Sang Ibu pun tak bisa berbuat banyak, pikirnya lebih selamat membimbing kesayangannya dalam bahasa diam. Sambil menikmati suasana senja, sementara si penjaga masjid seakan tak sabar ingin terus melanjutkan ceritanya. Ia pun mohon diri untuk meneruskan, maklum banyak kesibukan yang harus dikerjakan lagi.

”Kemudian enam menara berbentuk segi enam ini, yang menjulang ke atas setinggi 40 meter itu, adalah perlambang rukun Iman. Semua menara ini dibalut dengan batu granit yang indah berwarna abu-abu, ini impor dari Itali dan Brazil. Di tengah ruangan masjid bergantung lampu megah dari kuningan berlapis emas murni, beratnya 2, 7 ton. Lampu ini dikerjakan oleh tenaga ahli orang asing, masih impor pula dari Itali. Sementara luas areal parkir hanya 700 meter, cukup untuk 300 mobil besar dan 1400 kendaraan kecil. Yang berdekatan dengan masjid itu adalah gedung serba guna, sanggup menampung 25000 jama’ah”.

Bersama senja menuju larutnya malam, penjelasan si penjaga masjid belum habis. Hilir mudik orang keluar masuk masjid, membuat tempat ini ramai. Indah megah menawan mata memandang, seperti istana di kerajaan tempo dulu. Nampaknya, desain arsitektur gaya Timur melekat pada bangunan ini. Jama’ah pun bukan hanya nyaman memasuki ruangan ini, malah begong seribu tanya. Setiap orang masuk, saat itu pula mata memudar menatap sekeliling seni ornamen di masjid itu. Orang-orang pun selalu kebingungan benar kah ini masjid yang sedemikian megah ini?

Rara yang duduk dihimpit Ibunya, menatap tajam ke arah si penjaga masjid itu. Penuh sugesti, betapa dunia tengah dinikmati aneka impor-an. Nyaris tidak ada barang yang memukau yang asli dari tanah air. “Bu semua bangunan nampaknya dari negeri jauh ya Bu?”. Engku Puteri hanya cukup menegaskan kalau ucapan anaknya itu benar. “Kamu benar Nak! Bangsa kita memang bangsa impor, hampir semua di impor dari negeri orang”. Ditemani hingar bingar udara senja yang semakin menyurut, keduanya semakin serius menyimak cerita dari penjaga masjid; kemegahan, keindahan, dan keluarbiasaan adalah inti dari cerita.

Penjaga masjid melanjutkan tentang masjid megah itu, setelah meneguk teh manis yang juga kiriman dari Itali. Matanya mengedip pejam terbuka, tanda menikmati teh dari negeri mafia itu. Kedua tamunya tak dihiraukan, saat merasakan selera dari teh itu. “Sementara kubah besar itu berlapis emas murni 24 karat, dengan berat 2000 ton. Ini masjid kubah emas keempat, sekaligus terbesar dunia setelah Palestina, Yerusalem, dan Brunei Darusalam. Keseluruhan berat lapisan emas semuanya hanya 200 kwintal”.

Hingga tuntas penjaga masjid berturtur, Rara menyimak dengan diam seribu bahasa. Ia menaruh kewaspadaan yang mendalam sangat. “Mengapa membuat bumi Allah Swt ini dengan begitu mahal, menghabiskan milyaran bahkan tryliunan rupiah. Sementara masih banyak orang-orang berada di bawah garis kemiskinan; pendidikan, ekonomi, dan kesehatan?”. Meski dikatakan dalam hati yang terdalam, namun seorang Ibu tahu apa yang terlintas dalam jiwa anaknya. Lalu menyapa Rara dengan nada yang sungguh mesra.

“Begitu lah Nak, emas digunakan untuk menghiasi kubah masjid yang besar-besar. Sebagai persembahan hamba kepada pencipta-Nya. Apakah tangan kamu mau Ibu pakaikan emas juga, seperti kubah itu?” Setelah pamit meninggalkan halaman masjid Dian Al-Mahri itu, baru lah Rara menjawab sapaan Ibunya. .

“Tidak mau, Aku tidak mau lagi Bu! Aku tak suka ditangan ku ada gemilang emas, namun disampingku malah banyak kaum papa; masih banyak yang tertindas, terbelakang (ekonomi dan pendidikan), dan terpinggirkan. Aku sungguh tak kuasa beribadah yang disampingnya banyak kaum lemah, Apakah aku harus ibadah di atas penderitaan orang lain dengan semegah ini ?”. Katanya sambil menoleh manis kepada ibunya.*** [Batam Pos, Minggu, 28 Desember 2008]

    Print       Email
  • Published: 4 years ago on February 15, 2014
  • By:
  • Last Modified: February 15, 2014 @ 4:52 am
  • Filed Under: Cerpen, Sastra
  • Tagged With:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like...

Dr Faust, Apa Agamamu?

Read More →
%d bloggers like this: