Loading...
You are here:  Home  >  Studi Islam  >  Current Article

Islam, Mitos dan Ideologi Media: Sebuah Tinjauan Semiotika

By   /  February 20, 2014  /  No Comments

    Print       Email

Oleh: Hafidz Azhar*

Islam merupakan agama doktriner. Dalil-dalil keagamaan selalu diposisikan sebagai bagian nomor satu, dan selebihnya ialah keharusan yang tidak dapat dituntut. Adapun indikasinya, bahwa memahami Al-Qur’an ataupun Al-Hadits menjadi simbol utama pada ungkapan-ungkapan “baik”. Ungkapan “baik” idealnya, dijadikan legitimasi pada justifikasi oknum yang tidak berdasarkan tinjauan historis. Tinjauan historis bukan saja dilihat dari segi ibadah antar sesama manusia dengan Tuhan, namun, aspek sosial juga perlu disentuh jika ingin doktrin ajaran Islam dikatakan menyeluruh. Maksudnya, tinjauan historis di sini adalah, sudut pandang di saat Muhammad SAW menyebarkan Islam secara terang-terangan, tanpa ada tindak kekerasan ataupun justifikasi benar dan salah. Muhammad, lebih mengutamakan aspek hubungan dengan makhluknya, ketimbang ritus-ritus yang dijalankan oleh individu. Ambil contoh, ketika seorang ustadz berceramah perihal ibadah makhdhah, kemudian sang ustadz dengan keras berani mengatakan bahwa seseorang itu salah. Atau, ketika seseorang berbuat maksiat, lalu pemuka agama mengutuk si pelaku maksiat dengan kata-kata kasar, bisa saja, dari sini timbul disintegrasi pada internal Islam. Makanya, paradigma masyarakat yang muncul, di saat doktrin para Ulama belum menyentuh wilayah sosio-kultural, akan banyak orang menganggap jika pola yang digunakannya itu salah. Mungkin juga, akan banyak lagi orang  menyangka, tindakan penyebaran yang dilakukan para Ulama hanya akan menambah penyakit, karena dikira belum tepat.

Bila demikian, langkah yang ditempuh oleh para pemuka agama dalam menyebarkan ajarannya, malah cenderung tersendat. Salah satu alternatif yang mereka gunakan, dengan berusaha semaksimal mungkin untuk masuk ke ranah publik. Tentunya, ranah publik yang saya maksud di sini adalah media. Melihat Perkembangannya, media pada era saat ini—mau tidak mau—telah menunjukkan prinsip identitasnya untuk disebarluaskan terhadap masyarakat umum. Apalagi, media-media sekarang dipahami oleh sebagian orang sebagai mainstrem ideologis. Lalu, kita akan bertanya-tanya, mainstrem seperti apa yang dijalankan oleh media? Sangat jelas sekali. Di kala media menjadi ukuran “baik” dan “buruk” terhadap moral seseorang, masyarakat akan terus mengacu pada apa yang ditayangkan oleh media. Ambil saja, media televisi. Televisi merupakan media yang sangat dominan. Kalau boleh dikatakan, televisi disebut-sebut sebagai alat penyihir sekaligus mampu menjungkir-balikkan fakta. Seperti yang dikutip dari Bryan S. Turner:

“Televisi adalah dunia yang sebenarnya dari kebudayaan modern, dengan hiburan sebagai ideologinya, tontonan  sebagai tanda emblematis komoditasnya, iklan gaya hidup sebagai psikologi populernya, tayangan serial yang kosong sebagai pengikat yang menyatukan simulakrum para penontonnya, citra-citra elektronik sebagai  sifatnya yang paling dinamis, dan wujud ikatan sosial, media politik tingkat tinggi sebagai formula ideologisnya, aktivitas jual-beli abstrak sebagai dasar rasionalitas pasarnya, sinisme sebagai tanda budayanya yang dominan, dan penyebaran jaringan kekuasaan yang saling berhubungan sebagai produknya yang utama (Turner dalam Medhy Aginta, 1990:169)”.[1]

Lalu, kaitannya Islam dan televisi sesungguhnya bisa dilihat dari sejauhmana masyarakat umum menangkap perilaku baik, atau ungkapan-ungkapan “baik” dan “buruk”, kemudian sejauhmana masyarakat mengulang-ulang kata “baik” dari setiap ucapannya. Adanya acara-acara rohani bernuansa Islam di setiap siaran televisi, membuktikan bahwa nilai-nilai agama Islam ternyata diminati oleh sang pemilik media. Terlepas, agama apa pemilik media tersebut, namun, ini sangat jelas. Alasannya, si pemilik media melihat, di Indonesia sendiri masyarakatnya mayoritas muslim.

Penanda dan Petanda

Saussure memposisikan penanda dan petanda sebagai relasi untuk menemukan hakikat dari tanda bahasa. Sebab, bagi Saussure, penanda dan petanda dapat ditinjau dari sudut tindak-tutur manusia, sehingga nantinya mampu memaknai bahasa. Lebih tegasnya, bahwa penanda dan petanda adalah, dua unsur susunan yang sama-sama berhubungan pada proses signifikasi. Menurut Martinet (1975), “penanda dan petanda hanya bisa ada jika keduanya ada, dan jika bersama-sama maka keduanya menghadirkan suatu tanda”.[2]

Lalu, pertanyaan yang hadir di sini adalah, apa definisi mengenai penanda dan petanda? Sederhananya, penanda bisa juga dipahami sebagai citra akustik, yang terdiri dari bentuk, kata atau bahasa. Dan petanda coba diartikan sebagai image akustik, konsep atau ide. Dalam perkembangan semiotika, Saussure menempatkan tanda sebagai simbol. Artinya, tanda menyerupai lambang-lambang, dan lambang itu menurut Saussure direpresentasikan sebagai bahasa.[3] Jadi, sebenarnya bahasa itu terdiri dari tanda yang di dalamnya mengandung makna untuk diinterpretasi. Dikotomi penanda dan petanda itu kemudian direduksi oleh kalangan strukturalis menjadi bahan penelitian sosial dan budaya, ditinjau dari segi bahasa.

Kata sebagai Mitos dan Ideologis

Ungkapan “baik” dan “buruk” adalah bentuk gejala ideologis, dan kesadaran sendiri merupakan kesadaran dari kata-kata. Kesadaran merupakan jaringan penanda yang terus-menerus membentuk pengertian dan pemahaman. Tanda-tanda hidup dari hubungan sosial, dan hubungan sosial berkaitan dengan basis material dari kehidupan sosial.[4] Dalam hal ini, bagaimana masyarakat lihai mendefinisikan ungkapan-ungkapan “baik” untuk dialihkan pada semua tataran kehidupan, serta bagaimana mereka menerapkan kata “baik” untuk acuan kesadaran hidupnya. Seperti yang telah dijelaskan, bahwa kata “baik” yang sedang beredar di masyarakat, tentunya bukan mengambil dalih dari sumber keagamaan. Tetapi, ada penyebab lain yang bisa mengukurnya. Jika dihubungkan dengan pemikiran Roland Barthes, ungkapan “baik” bukan lagi sesuatu yang prestisius. Ungkapan “baik” menurut Barthes dikatakan sebagai mitos. Bagi Barthes, mitos berlaku di mana saja. Baju yang kita pakai, makanan yang kita makan, dan kebutuhan lain yang kita gunakan, jelasnya ini semua merupakan mitos.

Mitos yang ditunjukkan Barthes bukan mitos yang kita pahami sebagai cerita atau dongeng atau yang menunjuk pada kebohongan. Bagi Barthes, mitos adalah penanda, petanda sekaligus tanda. Misalnya, ungkapan “memakai baju rapih itu adalah baik”. Kata “baju rapih” saya tegaskan di sini sebagai penandanya, sedangakan kata “baik” sebagai petandanya. Contoh ungkapan tersebut menurut Barthes adalah mitos, karena terdiri dari penanda yang merangkap sebagai petanda ataupun tanda. Tidak sampai di situ, Barthes juga menghubungkan mitos dibalik ideologi pendukungnya. Apa yang menyebabkan mitos “baik” selalu menjadi prestisius di kalangan masyarakat? Jawabannya adalah ideologi.

Yang mesti kita gali disini ialah, pertama, kita harus memahami dulu unsur-unsur ideologis yang dimunculkan. Kedua, setelah tahu dari mana unsur itu diketahui, dari sini kita bisa menghubungkan akar dari mitos yang telah beredar. Bila media disinyalir menyebarkan mitos, satu-satunya yang dapat ditangkap adalah merelasikan sang pemilik media dengan produknya. Apa produk media? Tepatnya, yang banyak digandrungi oleh sebagian masyarakat besar. Dan saya meyakini, produk yang diciptakan oleh media itulah yang dianggap sebagai ideologi.

Islam sebagai Mitos

Bagi saya Islam lebih dari sekedar wahyu. Islam datang untuk memberikan petunjuk ke jalan yang teratur. Namun, ketika Islam dipandang tidak lagi dari esensinya, maka yang muncul adalah ruang-ruang politis dan ideologis. Alih-alih berbicara Islam, ujung-ujungnya politik dan ideologi dikedepankan. Begitupun dengan televisi, nilai-nilai yang berlaku dalam ajaran Islam, sepenuhnya diambil untuk basis ideologisnya. Jika kata “baik” tidak murni sebagai yang baik dari sebuah ajaran, maka jangan heran. Sebab, saya menganggap ada campur tangan dari sang pemegang kendali.

Penjelasan “baik” dalam ajaran Islam butuh proses yang tidak sedikit. Dalam Al-Qur’an misalnya, seseorang yang “baik” bukan hanya dilihat dari kedekatan manusia dengan-Nya. Namun, kedekatan manusia dengan manusia sudah sepantasnya dijadikan syarat akan yang “baik”. Distorsi “baik” bukan murni dijelaskan dalam kitab-kitab agama Islam. Lagi-lagi, peran televisi sangat antusias menyihir para penonton dengan menghubungkan ideologi si pemiliknya. Sudah dijelaskan, nilai-nilai Islam diklaim sedemikianrupa, ditarik melalui jalur tontonan, dan pada akhirnya nilai-nilai itu berubah menjadi mitos. Pada wilayah ini, Islam sangat populer dan dikenal di segala penjuru. Agama lain dinafikan, dan satu-satunya agama yang berlaku di negara ini hanyalah Islam.

Dengan diperkuatnya tayangan-tayangan bernuansa Islami, sebenarnya, memperkukuh mitos-mitos tersebut. Islam dijadikan komoditas, dan umat muslim belum menyadarinya. Lalu, bagaimana dengan pemuka agama Islam? Sama saja. Mereka lebih asyik dengan dunia media. Seolah-olah apa yang mereka lakukan di media televisi, menjadi bukti bahwa ini murni untuk berdakwah. Bukan hanya itu, bahkan, ada pula yang mematok sekianrupiah dari lahan dakwahnya.

Saya selalu bertanya, apakah mungkin, kita sedang terjebak dalam memahami Islam, ataukah kita hanya sedikit meilirik ajarannya. Justru, pada saat ungkapan-ungkapan yang tidak jelas muncul, pikiran menjadi terkonstruk dari alih-alih pembicaraan ajaran islam. Seperti pembicaraan mengenai penanda “baik”, seharusnya kata “baik” itu ditempatkan pada tempat yang benar-benar baik. Sehingga, ungkapan “baik” itu benar-benar bermakna dan tidak diambil alih. Artinya, dari hal ini, penanda “baik” akan terus bergeriliya sampai tinggal di tubuh monster yang bernama televisi. Televisi bukan lagi telah mengubah pikiran manusia, tapi perlulah disadari, bahwa televisi sudah mengubah hidup. Dan lagi, Islam menjadi sasaran empuk untuk agenda ideologis televisi. Islam telah menjadi mitos sepenuhnya.

*Penulis adalah mahasiswa yang bergiat di Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK)


[1] Medhy Aginta Hidayat, Menggugat Modernisme: Mengenali Rentang Pemikiran Postmodernisme Jean Baudrillard (Jalasutra:Yogyakarta 2012) cetakan kesatu hal. 140

[2] Jeanne Martinet, Semiologi: Kajian Teori Tanda-tanda Saussuran antara semiologi komunikasi dan semiologi signifikasi terjemahan dari:Clefs Pour La Semiologie (Jalasutra:yogyakarta 2010) cetakan pertama hal. 82

[3] Martin Krampen, Serba-serbi Semiotika (Gramedia:Jakarta 1996) Panuti Sudjiman dan Aart van Zoest (pen.) cetakan kedua hal. 60

[4] Bagus Takwin, Akar-akar Ideologi “Pengantar Kajian Konsep Plato hingga Bourdieu” (Jalasutra:Yogyakarta 2009) cetakan kedua hal. 102

    Print       Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like...

Islam dan Soal Penggusuran

Read More →
%d bloggers like this: