Loading...
You are here:  Home  >  Sastra  >  Kritik Sastra  >  Current Article

Anime Naruto: Sebuah Ambivalensi Politik (Bagian I)

By   /  February 25, 2014  /  No Comments

    Print       Email

Oleh: Ihsan Fauzal Firdaus

Bagi kalangan tertentu, imej negatif selalu diderivasikan sebagai ihwal yang bertele-tele dan remeh-temeh. Barangkali inilah kiranya yang sering dialamatkan kepada para penikmat anime. Anime selalu dituding sebagai biang keladi untuk berleha-leha. Tuduhan itu berdampak kepada para penikmatnya: sebagai orang yang hanya bisa nongkrong di depan layar semata, sambil lupa pijakan riil. Sebetulnya imej tersebut ada benarnya, pasalnya penikmat anime disandingkan dengan maniak game yang bisanya hanya menatap layar sambil sibuk meremas stick.

Saya tidak akan berangkat dari asumsi bahwa anime adalah baik bagi kita. Pun, menepis anggapan bahwa anime masih layak dilihat sebagai refrensi tontonan kita. Tidak. Tulisan saya ini justru berpijak dari prasangka keremeh-temehan anime, yang bagi sebagian kalangan diidentifikasi sebagai persoalan yang banal. Dan justru karena ada anggapan remeh-temeh itu, saya tertarik mengulasnya. Biarlah anggapan tersebut melekat sebagai suratan takdir, dan para penikmat anime—juga saya—tidak perlu memedulikan cibiran itu.

Tulisan ini akan membicarakan sebuah keremeh-temehan itu: anime Naruto. Dari sekian banyak anime yang berjubel di negri kita, tidak bisa dipungkiri, Naruto termasuk tontonan favorit. Anime ciptaan Mashasi Kishimoto tersebut terbilang anime yang cukup tersohor. Dari beragam dan banyaknya komentar di blog-blog yang memuat anime tersebut, baik dalam komik ataupun download film gratisannya, cukup menjadi indikator bahwa Naruto adalah sajian yang menyedot banyak peminat. Barangkali ini adalah dampak dari meluasnya segmentasi pasar, yang asalnya tersegmen pada anak-anak saja, menjadi meluas kepada kalangan dewasa. Walupun dengan nada sumbang selalu dilayangkan, bahwa Naruto adalah tontonan anak kecil, namun peminatnya justru tidak bisa kita abaikan.

Objek kajian itu akan saya—usahakan—analisis dengan kerangka pemikiran yang dianggap relevan. Kiranya, kerangka pemikiran tersebut adalah politik. Saya hanya ingin membuktikan bahwa politik bukan hanya topik besar pembicaraan koran atau televisi. Pun, bukan hanya diartikan sebagai identitas pemilu yang sebentar lagi akan kita rayakan. Namun, politik—yang kita anggap besar itu—bagi saya, bisa juga dijadikan sebagai pisau analisis untuk membedah hal yang remeh-temeh seperti anime Naruto ini.

Tulisan ini juga tidak akan membahas keseluruhan detil peristiwa anime tersebut, saya hanya akan mengulas serpih globalnya saja. Kemudian, akan saya bagi kepada dua bagian: pertama, membahas isu global bersama asumsi dasar politik kepentingan dalam anime Naruto; kedua, membahas tentang relasi kuasanya.

***

Anime ini menceritakan tentang sosok shinobi (ninja) yang senantiasa mencari jati diri. Uzumaki Naruto, seorang pemuda yang ditinggal ayah dan ibunya semenjak lahir, berusaha menyingkirkan prasangka buruk mengenai dirinya. Semenjak dilahirkan di negara Konoha, Naruto dianggap sebagai diri yang cacat. Dia terbuang, diaasingkan, bahkan tidak disukai rekan seangkatan ninjanya.

Kyubi, siluman rubah berekor sembilan yang merasuki tubuh Naruto adalah sumber ketakutan masyarakat Konoha. Sosok Kyubi ini sebetulnya bisa kita lacak dari mitologi Jepang kuno tentang siluman yang sangat ditakuti. Nama asli dari Kyubi ini adalah Kurama. Sebagai perbandingan misalnya, anime Yuyu Hakuso pernah memuat tokoh Kurama sebagai legenda dewa rubah yang senangnya mencuri harta berharga langit. Kurama (kyubi) dalam anime Naruto memang menjadi sosok (baca: siluman) yang diperhitungkan di dunia perninjaan, pasalnya Kurama adalah representasi dari kekuatan dan ketakutan dunia shinobi.[1]

Secara sederhana, anime Naruto berkisah tentang perjuangan para shinobi untuk mencapai perdamaian. Kita tidak bisa membayangkan dunia shinobi ciptaan Kishimoto tersebut sama dengan dunia tempat kita berpijak kini, yang penuh dengan ketentraman—setidaknya di Indonesia. Dalam dunia shinobi, perdamaian adalah impian yang sulit dicapai, ketika negara saling sikut-menyikut mendapatkan lahan jajahannya lewat peperangan. Penjajahan adalah alat efektif untuk meluaskan cita-cita perdamaian.

Apa yang menarik dalam cita-cita perdamaian anime Naruto adalah benturan berbagai kepentingan. Perdamaian adalah sisi mata uang yang lain dari penjajahan dan peperangan. Artinya, perdamaian dan kesejahteraan adalah cita-cita luhur yang dijalankan lewat misi kolonialisme. Tetapi visi perdamaian dalam anime ini tidak sesederhana visi perdamaian kita, yang hanya sebatas jauh pandang dari eksploitasi. Perdamaian adalah visi empatik yang ada di setiap negara besar. Negara besar semisal Konohagakure, Sunagakure, Iwagakure, Kirigakure, dan Kumogakure, mempunyai visi perdamaian yang berbeda. Persis ketika kita dihadapkan pada persoalan memilih sistem sosial, apakah harus libertarianisme atau sosialisme, dua-duanya mempunyai visi perdamaian dan kesejahteraan yang berbeda. Hal itulah yang membuat setiap negara shinobi berbeda kepentingan, sesampai menjalankan visinya tersebut lewat misi perang dan kolonialisme.

Asumsi dasar politik kepentingan dan ihwal kesejahteraan

Ketika kini di Indonesia, di ambang masuk Pemilu (Pemilihan Umum), para calon anggota legislatif sibuk menebar angket dan mengumbar misi politiknya ke depan.  Dengan beragam visi kesejahteraan masyarakat yang diusung oleh tiap Caleg, berarti beragam pula sudut pandang dalam menyokong misi politiknya. Itu baru fenomena politik internal negeri ini. Ketika ditinjau dari perpektif yang lebih luas, negara semacam Amerika Serikat dan Uni Soviet pernah bersitegang ihwal visi kesejahteraan, sampai akhirnya berkonfrontasi ihwal misi politik. Hal tersebut mengindikasikan bahwa cita-cita kesejahteraan dan perdamaian masyarakat tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Apalagi kalau memakai sudut politik, tidak ada yang utuh perihal perangkat metodologis seperti apa yang mau dipakai.

Setali tiga uang, fenomena tersebut berbanding lurus bahkan dalam level anime, yang kita anggap sebagai sajian fiktif.  Imajinasi liar Kishimoto rupanya bukan hanya sekedar pikiran pasif yang tidak mempunyai pendasaran pada fakta riilnya. Realitas sekiranya mempunyai dampak signifikan terhadap anime macam Naruto.

Misalnya, fragmen cerita anime Naruto yang sangat saya ingat adalah konfrontasi Uciha Madara dengan Senju Hashirama di awal pendirian negara Konoha. Madara, seorang leluhur klan Uciha yang mempunyai kekuatan luar biasa, menggunakana mata Sharingan sebagai upaya melemahkan kekuatan lawan. Mata Sharingan adalah representasi setengah dunia shinobi. Sedangkan setengah yang lain terdapat pada Senju Hashirama, presiden Konoha pertama (Hokage) yang merupakan musuh bebuyutan Madara.

Setelah Madara diberitakan meninggal akibat perkelahian one-on-one dengan Hashirama, muncullah transformasi kekuatan yang berbeda. Tokoh yang lain, Uciha Obito, mengambil kesempatan tersebut setelah belum lama sebelumnya mendapati Rin yang dicintainya meninggal akibat misi politik Konoha. Bagi Obito, peperangan vis a vis perdamaian adalah sesuatu yang nihil. Obito sangatlah kecewa dengan keputusan politik Konoha untuk membunuh Rin, sosok terkasih Obito.

Setelah skandal berdarah Rin, Obito muncul sebagai representasi kekuatan Madara. Di tengah pertemuan lima negeri besar, Obito muncul dengan tiada tara. Obito menasbihkan diri sebagai jelmaan Madara yang mempunyai kekuatan represif yang bisa mengendalikan dunia.

Menarik dalam cerita tersebut adalah, cita-cita perdamaian manusia dijalankan dengan misi poltik yang lain. Obito, sebagai jelmaan sekaligus representasi kekuatan Uciha Madara berusaha melemahkan kekuatan lima negara besar. Perbedaan visi perdamaian di sini cukup kentara. Perdamaian, yang kerap identik dengan peperangan mengalami perubahan yang signifikan. Setelah tetua lima negara besar berembuk untuk mencapai satu visi politik kesejahteraan, mulailah lima negara besar berseteru hebat dengan Obito.

Obito—begitu juga Madara—mengangankan suatu perdamaian yang imajiner. Dengan dimulainya Mugen Tsukiyomi, sebuah proyek untuk membuat perdamaian dalam genggaman mata bulan, yang diiringi penebaran genjutsu[2] ke seluruh dunia, Obito berharap tidak ada lagi kematian sia-sia lewat kepentingan politik tertentu. Namun dari sini lah letak perbedaanya dengan pandangan lima negara besar: kenyataan perdamaian yang dipegang teguh oleh Uciha Madara dan Obito adalah perdamaian semu yang dijalankan lewat misi sihir (genjutsu).

Tepat dari sudut ini kita bisa melihat bahwa perdamaian adalah sebuah visi yang tidak utuh. Bahkan tidak bisa bulat-bulat diterima hanya dari satu sudut pandang saja. Visi perdamaian dari sudut politik, bagaimanapun senantiasa berbeda. Dengan satu tarikan nafas, perdamaian dan perseteruan adalah hal yang lumrah dalam anime ini. Saya kira ini juga terjadi di dunia riil: ketika satu kepentingan politik berbenturan dengan kepentingan politik yang lain, walaupun visinya kerapkali sama, yaitu perdamaian. Dari asumsi dasar politik kepentinagan saja kita sudah bisa melihat bahwa politik adalah ambivalen: suatu posisi kategori moral antara baik dan buruk. Tidak utuh.[3]



[1] Untuk lebih merinci peran sosok Uzumaki ini akan saya bedah di bagian kedua.

[2] Genjutsu, adalah sebuah sihir mata yang dimiliki oleh klan Uciha selama berabad-abad akan dijalankan untuk menyatakan visi perdamaian a la Uciha Madara.

[3] Untuk bagian kedua, saya akan bahas itu lebih dalam. Semoga.

    Print       Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like...

Dr Faust, Apa Agamamu?

Read More →
%d bloggers like this: