Loading...
You are here:  Home  >  Sastra  >  Cerpen  >  Current Article

Racau..!

By   /  February 25, 2014  /  No Comments

    Print       Email

Oleh: Acuz Sasterajingga

“Wahai Sesiapa, jika pandai mengeja tubuh, kabari segera, karibi aku dengan ramumu, mendesak aku minta!”

Laiknya menggaruk, persetan dengan jijik, tak peduli meski di balik palung, di bilik sunyi, di telapak kaki, di lipatan selangkang, di balik iga kiri dan belulang, Maka tangan seketika membabibuta, kulit meluka, batin menganga. Bukankah mengamini nyeri terlampau karib ketimbang menanggung “geli”, malu dan aib, beban dan takdir, laiknya satir. Dan daging terkoyak, jemari kuasa atas leluka, berganti nyeri, mewujud bebal imunitas, rupanya “gatal” adalah “yang resah” dan “yang asing”, terlalu asing, nyaris telinga ini bising diteriaki laiknya maling.

Ada apa dengan tubuh ini? Terlalu banyak sayat, nyaris masokis. Dengan bertubi mengkebiri diri melalui seabrek merek yang melekat di sekujur badan, mungkin saking akut mengekor pada yang normal, pada udara dataran, pada yang harus, pada sederet mulut yang terlalu ceriwis membanyol, pada yang seragam mengatas nama kewarasan, atau terlalu akut mengarah kiblat pada isi kepala dan telunjuk si terlalu berkerumun itu. Mengapa tidak dengan riang menggaruk belulang sendiri, mentato tempurung kepala dan ruas jemari, di lipatan ketiak, leher atau liang dubur. Kenapa tidak meng[aku]i jika gatal adalah akumulasi dari kelu, keluh dan sejumput debu kepecundangan?

Maka kekurangajaran ini diumbar demi satu diksi “Lain”. Demi menggugat hujat yang selama ini baur dalam kubang munafik, dalam jelma mulut serupa paduan suara, yang saling menyelidik dengan kaca pembesar yang sama, pada selera musik dan hasrat akan payudara yang sama. Ke[tolol]an jenis ini perlahan disujudi, dianggap yang bagus meski teramat bau kakus. Ke[anjing]an jenis ini terlalu lama memvirusi isi pikir, membungkam hasrat akan tanda tanya, nyaris oleng untuk menemu tanda seru. Hingga bentol dan gatal adalah yang asing, saking terlalu mesra pada luka, darah, nanah dan serapah. Mulut terlampau gandrung mencabik sampah lapuk, meneguk kencing sendiri, atau melumat saripati dogma yang entah datang dari mana.

Sementara “keliru” adalah kosakata paling bingar, nyinyir dan teramat nyaring, menghambur dari mulut verbal yang menyeringai, hasrat apa ini? Bertubi menyelimpung kaki, menjegal langkah, laiknya diksi kompetisi tak tereja di lidah, terganti seni membantai lawan. Apa yang tanggal setelah ini; selain bungkam, raut membata dan kaki yang jinjit seketika? Dan ”semangat” menjadi berantah, nyaris senasib bentol di paha, ketiak dan jidat.

Wahai, yang asyik-masyuk mencumbu malam dengan dengkur tentram, yang mengendap sembunyi di balik kata aman, yang pura-pura stabil lewat secangkir kopi dan kepul tembakau, lebarkan kedua cuping telinga itu! Bahwa nyaman ini mesti enyah, mari berhijrah, menjebol dinding bebal ke[malas]an dan kantuk terkutuk itu. Luruh dalam bugil ini, tanggalkan bungkusan palsu dalam jelma rapi kemeja, harum parfum dan kecompangan celana dalam itu, lantas menelisik leluka, mendengus bau badan dengan transparan, menghitung berapa jumlah tahilalat yang lekat, saling mengukir belulang dan memaklum amini pada sisa cidera dan aib. Maka telanjang ini sebagai yang paling mungkin demi tatap mata yang setara, sebagai pengingat bahwa tak mesti ada yang terlalu berlebih dalam tubuh ini.

Ah, meski kepal ini utuh, terlipat sembunyi di balik saku, membatu. Sungguh gemeretak gigi ini santun dan khidmat, tak kenal kesumat, darah yang didih ini tak geram, dalam batok kepala ini tak kenal dendam, biar melarung dalam leleh keringat dan air di kelopak. Semoga, yang adiluhung, yang dirindu inginkan itu kerap hadir membasuh tubuh pesakitan ini. Sebab cinta masih serupa opium yang tanpa jeda dihirup, dihapal-lapalkan, “bahwa ini caraku mencintai”.

    Print       Email
  • Published: 5 years ago on February 25, 2014
  • By:
  • Last Modified: February 25, 2014 @ 4:47 pm
  • Filed Under: Cerpen
  • Tagged With:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like...

Jawawut: Ciung Wanara

Read More →
%d bloggers like this: