Loading...
You are here:  Home  >  Opini  >  Current Article

Merawat Kemajemukan

By   /  February 27, 2014  /  No Comments

    Print       Email

Oleh: Ibn Ghifarie

Tingginya angka konflik sosial (horizontah) di Indonesia menjadi bukti nyata atas absennya pemerintah dalam memberian kewajiban untuk melindungi (duty to protect) setiap warganya dari ancaman perampasan hak oleh pihak lain dan jaminan rasa aman, kenyamanan, tenteram terhadap rakyatnya.

Betapak tidak, hasil laporan KontraS mencatat selama tahun 2012 ada 32 konflik horizontal yang tejadi di Lampung (5), Aceh (5), Papua (6), Sulawesi Tengah (15), Kalimantan Timur (1) yang menyebabkan 28 orang tewas dan 200 orang luka serius. Data terbaru (20 Maret 2013) menunjukkan terdapat 700 lebih peristiwa kekerasan dengan korban mencapai 2000 orang.

Sebagai bangsa dan negara yang pluralis (suku, agama, etnis, ras, golongan, kepercayaan dan keyakinan), harapan untuk hidup rukun, harmonis di tengah-tengah perbedaan merupakan dambaan setiap masyarakat.

Kini, konflik sosial di masyarakat ma­lah menjadi ancaman yang berpotensi mengganggu keutuhan NKRI dan me­ngi­kis semangat nasionalisme bangsa. Sejatinya, kemajemukan masyarakat Indonesia harus menjadi kekayaan sekaligus khazanah bangsa yang tak terbantahkan dalam meredam segala bibit-bi­bit permusuhan yang berujung pada perpe­cahan negara RI.

Ini yang diyakini oleh Prof. Dr. H. Dadang Kahmad, M. Si dalam buku Multikulturalisme, Islam, dan Media; Respons Ormas Islam dan Peran Bulletin Jumat Menyebarluaskan Gagasan Multikulturalisme menguraikan masya­rakat Indonesia ditakdirkan sebagai masyara­kat yang paling beragam di dunia.

Kadar kemajemukannya nampak pada keadaan geografis yang terdiri dari 13 ribu lebih gugusan pulau dalam satu kawasan dan dalam satu pulau tidak hanya dihuni oleh satu kelompok suku bangsa saja, melainkan terdiri dari berbagai kelompok suku bangsa. Seperti halnya di pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan pulau besar lainnya. Di Indonesia terdapat 250 kelompok suku bangsa dengan lebih dari 250 lebih bahasa lokal (lingua franca).

Ingat, kemajemukan masyarakat me­rupakan keniscayaan dalam kehidupan umat manusia, sehingga secara teologis, akan kita dapatkan ajaran bahwa kebi­ne­kaan kultur itu merupakan sesuatu yang ditakdirkan Tuhan. Misalnya da­lam agama Islam yang dengan tegas mengemukakan kemajemukan itu ada­lah sunatullah, ketentuan Tuhan yang tidak terbantahkan lagi. Dalam kitab suci Al-Quran, Tuhan mengisyaratkan kondisi multikultural atau kemajemukan budaya sebagai desain yang dirancang Tuhan. Dalam surah Al-Hujurat ayat 13 dinyatakan: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu (manusia) dari seorang laki-laki dan seorang perempuan serta menjadikan kamu berbangsa-bangsa juga bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (h.8-9)

Bila kebhinekaan tidak dikelola de­ngan baik, maka akan menjadi lahan su­bur konflik serta memicu ketegangan so­sial-politik. Untuk itu, merawat kemajemukan menjadi sangat penting. Apalagi kompleksitas masyarakat multikultural yang sangat majemuk dengan beragam agama dan kepercayaan yang dianut masyarakat Indonesia itu mesti menjadi penopang, pilar dalam membangun kehidupan berbangsa dan negara yang adil, damai, rukun, toleran dan sejahtera.

Dengan demikian, pemeliharaan keru­kunan dan toleransi menjadi penting bagi persatuan dan kesatuan bangsa. Per­selisihan antar kelompok penganut agama yang berbeda dapat dengan mudah menjadi faktor pemicu, konflik dan perpecahan. Karena itu, dakwah multikultural di tengah pluralitas masyarakat me­rupakan sebuah tuntutan bagi pengembangan dakwah. (h. 40).

*Pengelola Laboratorium Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung.

    Print       Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like...

Manusia dan Agama, Tuhan, serta Makna.

Read More →
%d bloggers like this: