Loading...
You are here:  Home  >  Studi Islam  >  Current Article

Demokrasi Spiritual: Sebuah Ikhtiar Membaca Diskursus Agama

By   /  March 3, 2014  /  No Comments

    Print       Email

sumber gambar: http://websiteedukasi.blogspot.co.id

Oleh: Ridwan Rustandi*

Agama adalah apa yang dikerjakan seseorang dalam kesunyiannya.”
A. N. Whitehead

Membaca seputar keagamaan memang menarik untuk terus diperbincangkan. Bukan sepintas lalu kita berusaha membaca dan memaknai aktifitas keagamaan dalam hidup kita. Pasalnya, agama sebagai bagian dari entitas kehidupan manusia, memberikan akar radikal dalam menderivasikan segenap aspek kehidupan lainnya. Manusia, disadari atau tidak, senantiasa membutuhkan sumber daya azali yang dapat memenuhi realitas terdalam dari kehidupannya. Atau dalam bahasa sederhana, rasa kebertuhanan (numinous): spiritualitas.

Urgensi pemahaman seseorang terhadap agamanya, dipengaruhi oleh seberapa jauh dirinya menginternalisasikan ajaran agamanya dalam setiap laku hidup dan kehidupan. Manusia tidak hidup personal. Keterkaitan dengan makhluk lain mengharuskan manusia agar senantiasa beradaptasi dengan kondisi dan konteks lingkungan sekitar; baik secara sosial, ekonomi, politik, ataupun historis. Pun, ketika mendewasakan diri sebagai manusia yang beragama. Doktrin dan prinsip keberagamaan yang ia pegang sedikit-banyaknya akan bersinggungan dengan kepentingan dan kebutuhan orang lain. Maka, dalam hal ini, Ninian Smart, seorang pengkaji studi agama dalam pengantar buku yang dieditori Peter Connoly, mengungkap tiga dimensi representasi keberagamaan manusia. Ketiga dimensi yang dimaksud ialah dimensi vertikal, dimensi horizontal, dan dimensi perbandingan (comparative approaches) (Connoly, 2011: vii). Ketiga mode presentasi tersebut membuka cakrawala pembahasan keagamaan yang ditinjau tidak hanya secara insider (baca: pemahaman dari dalam oleh sang penganut keyakinan), melainkan juga secara outsider (baca: dengan memperhatikan kondisi objektif lingkungan dan proses pengkajian dari luar). Sehingga, diharapkan mampu mengikhtisarkan satu konsep keberagamaan yang komprehensif.

Munculnya fenomena-fenomena sosial yang didasari motif agama seseorang menjadi satu kajian yang menarik. Bagaimana sebuah konflik bisa terjadi di antara penganut-penganut agama dengan argumentasi pembelaan terhadap prinsip dan doktrinasi agama seseorang. Sebutlah misalnya, perang Syiah-Sunni pada masa kekhalifahan Islam; protes Kristian terhadap Katholik yang berlaku diktator  pada masa Marthin Luther King; perang salib daulah al-Ayubi; dan masih banyak lagi. Kesemua itu didasari atas pembelaan masing-masing kelompok terhadap agama yang mereka yakini. Atau persinggungan dimensi keberagamaan dengan aspek hidup lainnya. Bagaimana hangatnya perbincangan politik-agama dalam kehidupan kita. Misalnya, proses revolusi yang mengatasnamakan agama di Iran, upaya pencapaian kedaulatan yang dilandasai aspek teologis, trans-empiris. Kemudian, keterkaitan agama dengan pembasisan ekonomi umat. Masing-masing mensyaratkan proses pelibatan tiga dimensi agama yang menjadi mode representasi Ninian Smart.

Gejala-gejala sosial yang mencuat ke permukaan tersebut bisa diantisipasi manakala setiap pribadi—entah mereka yang meyakini sebuah agama ataupun masih dalam tahap petualangan mencari kesejatian sebuah agama—menanamkan jiwa legowo, mau menerima perbedaan dan menekankan aspek komplementer sebagai persamaan, bersikap terbuka (open minded) dalam mengaktualisasikan segenap pola dan aktivitas keberagamaannya dalam kehidupan nyata. Dalam hal ini, demokrasi spiritualitas menjadi ikhtiar kita bersama dalam mengkaji agama dari berbagai lini dan derivasi yang memungkinkannya.

Demokrasi spiritual yang disyaratkan Ninian Smart adalah sebuah rasa keberagamaan yang dikelola secara agnostik. Bagaimana seseorang yang telah terisi oleh doktrin dan prinsip keberagamaan secara internal mampu pula memperhatikan pola pemahaman secara eksternal, bagaimana seseorang yang masih dalam proses petualangan memenuhi hasrat kebertuhanannya (the sacred) mengimajinasikan secara mitis berbagai kemungkinan yang akan terjadi kala dirinya memegang satu keyakinan utuh terhadap sebuah ajaran agama dengan perhitungan yang komprehensif. Juga bagaimana pula seseorang yang jelas-jelas menolak sebuah agama tetap memahami kehampaan spiritualnya sebagai sebuah kebutuhan terhadap sesuatu yang di luar kesejatian dirinya. Makanya, aspek personal, kebudayaan dan, ultimate yang diungkapkan Frederic Streng harus benar-benar terejawantahkan secara sosial dan empiris.

Secara definitif, agama bukan sekedar keyakinan atau prinsip fundamental yang diyakini seseorang. Lebih jauh, agama mendeskripsikan tentang kehidupan di alam sana yang menjadi mitos bagi keberlangsungan hidup manusia selanjutnya. Agama mengaitkan dimensi material di dunia ini yang sifatnya empirik dengan dunia trans-empiris yang didasarkan pada teologi-teologi yang ada: transenden, numinous, sesuatu yang sakral, zeitgeist. Namun, terkadang pemahaman kultural yang melembaga dalam kehidupan kita selalu menempatkan agama sebagai ruang privasi yang tak dapat diketahui orang lain. Pada akhirnya, internalisasi keberagamaan kita tidak terjaga, terlebih tidak termanifestasikan secara nyata dan tidak pula berefek terhadap kehidupan publik kita. Hal ini yang mengkaratkan prinsip dan aktivitas keagamaan kita dan menutup seribu kemungkinan yang ada di hadapan kita berkaitan dengan pola dan pemahaman utuh terhadap aktivitas keagamaan kita.

Dengan demikian, studi agama-agama bagi manusia adalah sebuah keniscayaan. Latar belakang manusia yang penuh dengan hasrat keingintahuannya, ditambah dengan upaya pencarian kesadaran sejati mengindikasikan satu keharusan kita untuk mengkaji agama dari berbagai aspek kehidupan. Entah itu sosial, psikologis, antropologis, fenomenologis, dll. Semua sebagai ikhtiar kita bersama dalam mencapai prinsip keagamaan yang komprehensif. Sehingga, di mana kita telah meyakini satu agama, kita tidak hanya menjadi penonton yang buta, tetapi kita menjadi pemegang prinsip yang kritis, menanamkan ideologi secara kuat, penjabaran doktrinasi keagamaan yang komprehensif dan terlebih mampu mengaktualisasikan semua aktivitas keagamaan secara esensial dan substansial dalam kehidupan kita.

    Print       Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like...

Islam dan Soal Penggusuran

Read More →
%d bloggers like this: