Loading...
You are here:  Home  >  Linguistik  >  Current Article

Nasib “Self Publishing” di Indonesia

By   /  March 4, 2014  /  No Comments

    Print       Email

Sebetulnya saya agak kurang setuju dengan model dan sistem “self publishing”, yang kini menjadi tren baru di dunia perbukuan Indonesia. Ada banyak saya temui di internet, para penyedia layanan “Self Publishing” mendagangkan jasa penerbitan kepada para penulis. Sebut saja, Leutika Prio, Nulis Buku, Indonesia Self Publishing, Gre Publishing dan tak ketinggalan penerbit mayor seperti Mizan dan Gramedia juga membuka layanan ini.

Model penerbitan yang sering disebut indie ini, memiliki dua ekses yang berlawanan, yakni negatif dan positif bagi dunia perbukuan di Indonesia. Tak bisa dipungkiri, penerbit indie seperti di atas mampu  memasok ribuan judul buku baru hanya dalam waktu singkat. Ekses negatifnya, harga buku yang diterbitkan dengan sistem print on demand, ternyata membuat harga buku yang melambung tinggi. Sayangnya, harga yang mahal tidak diimbangi dengan kualitas buku yang diterbitkan.

Indonesia sebetulnya merupakan Negara yang terlambat merespon fenomena “Self Publishing” ini, sebab telah “booming” di Amerika dan Eropa sejak awal tahun 1990-an. Iklim bisnis “self publishing” di Eropa dan Amerika sangat menjanjikan, menurut The Guardian (24 Mei 2012) saja, terkait hasil survey yang dilakukan Dave Cornford and Steven Lewis tentang raihan royalti 1007 penulis yang memilih jalur self-publishing pada tahun 2011, mendapatkan sekitar 10.000 US Dolar. Kendati 5 persen dari penulis mengaku kecewa dengan hasil penjualan bukunya, karena penghasilannya tidak lebih dari 500 US Dolar.

Berkaca dari kegagalan penulis memproduksi buku dan memasarkan karyanya di Eropa, kita mesti berhati-hati untuk menerbitkan di jalur indie. Sebab, melalui jalur ini, ada banyak risiko yang harus diterima oleh para penulis yang ingin terjun via self publishing. Kalau Anda hendak terjun di dunia Self Publishing, maka harus dipikirkan secara matang terkait riset pasar dan ide yang populer sehingga bisa bertahan di bisnis perbukuan.

Anda tidak hanya mencetak sebuah buku, tetapi harus menjadikan buku sebagai sebuah kebutuhan publik. Selain itu, kualitas buku juga menjadi tanggung-jawab Anda, sebab buku merupakan sebuah karya intelektual, yang bersifat abadi.

Ini hanya sebuah pengantar saja. Selanjutnya mari kita ikuti kursus “Self Publishing” di kampus LPIK.

Sukron Abdilah, Alumni LPIK, Penulis, Editor, sedang merintis penerbitan sendiri (Self Publishing).

    Print       Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like...

Orang Asing dalam Naskah Amanat Galunggung

Read More →
%d bloggers like this: