Loading...
You are here:  Home  >  Studi Islam  >  Current Article

Sekularistik atau Teoantroposentrik?

By   /  March 8, 2014  /  No Comments

    Print       Email

sumber gambar: http://himmahahgaf.net

Oleh: Hafidz Azhar*

Islam dan ilmu pengetahuan pada hakikatnya dua entitas yang tidak bisa dipisahkan. Namun, asumsi-asumsi terhadap ajaran Islam yang murni harus ada pelurusan dan koreksi. Mau tidak mau agama Islam saat ini harus bersusah payah menghadapi arus globalisasi. Arus globalisasi ini memiliki dampak yang signifikan bagi ajaran Islam. Buktinya, pada dunia pendidikan, agama Islam  hampir terkecoh oleh ajaran-ajaran umum yang bersifat keduniaan (eksak). Ini merupakan produk dari proses globalisasi yang menjadi momok yang membingungkan bagi umat muslim. Sehingga timbul pelbagai perdebatan di kalangan para pemikir dan ulama-ulama Islam. Dalam hal ini, ada sebagian orang yang memandang bahwa ilmu-ilmu keislaman tidak bisa disesuaikan atau disatukan dengan ilmu-ilmu umum. Seperti misalnya, keilmuan sosial, budaya, filsafat, dan lain sebagainya harus ada dikotomis dengan keilmuan Islam pada umumnya. Proses sekularisasi seperti inilah yang keberadaanya sampai sekarang masih tetap dipertanyakan.

Dalam bukunya Islamic Studies M. Amin Abdullah, telah disinggung mengenai tiga corak pemikiran Islam era sekarang. Tiga corak pemikiran ini ialah, absolutely absolute, absolutly relative, kemudian relatively absolute. Absolutely absolute merupakan pola pemikiran yang cenderung tertutup. Dalam artian, corak pemikiran ini hanya mengedepankan wahyu semata. Ada juga pola pemikiran absolutely relative, pemikiran ini dikategorikan sebagai model positivistik yang bebas nilai dan sekular. Kemudian pola pemikiran selanjutnya ialah corak pemikiran relatively absolute. Model pemikiran ini bisa dikatakan sebagai sintesis dari kedua corak pemikiran sebelummnya. Lebih terbuka, akan tetapi wahyu tetap diutamakan.[1] Pada corak pemikiran yang ketiga itu M. Amin Abdullah sebenarnya ingin mengembangkan budaya berpikir baru, dengan Istilah lain ialah proses Integralisasi.

Sekularisasi[2] ilmu pengetahuan timbul bukan hanya pada dunia Islam saja. Dulu, ada seorang ilmuwan astronomi bernama Galileo pernah menemukan sebuah eksperimennya, bahwa matahari merupakan pusat tata surya, termasuk bumi yang mengelilingi matahari. Arah pemikiran Galileo ini rupanya tak sejalan dengan otoritas gereja. Menurut para rohaniawan ini, bumilah sebagai pusat alam semesta. Akibat dari pandangan Galileo itu, akhirnya dia dibawa ke pengadilan untuk dihukum serta dikucilkan sampai meninggal dunia. Sejarah mencatat dari kejadian tersebut, muncul beberapa pemikir dan ilmuan-ilmuan sains atas ketidakpuasannya terhadap otoritas gereja. Nama-nama seperti Martin Luther, Rosseau, Spinoza mengawali revolusi di Eropa dengan menentang pihak gereja. Akhirnya, dari pemikiran-pemikiran mereka yang berkembang luas agama tidak lagi didahulukan. Sehingga ilmu pengetahuan dianggap sebagai bebas nilai.

Di Indonesia sendiri, ilmu pengetahuan umum menjadi tolak ukur bagi dunia pendidikan yang lain, termasuk pendidikan agama. Seperti lembaga-lembaga pendidikan agama Islam yang ada saat ini sudah lepas haluannya. Bukannya ajaran-ajaran agama yang mewarnai ilmu pengetahuan umum, akan tetapi malah sebaliknya, ajaran-ajaran umumlah yang mengalienasi ajaran agama Islam. Hal inilah yang mendorong terjadinya proses sekularisasi ilmu pengetahuan.

Reintegrasi Epistemologi Keilmuan: Teoantroposentrik-Integralistik

Apa yang dicanangkan oleh M. Amin Abdullah dalam bukunya Islamic Studies merupakan program dari penyatuan kembali antara ilmu pengetahuan dengan ajaran agama. Seperti yang dikutip dalam bukunya, bahwa “agama mengklaim sebagai sumber kebenaran, etika, hukum, kebijaksanaan, dan sedikit pengetahuan. Agama tidak pernah menjadikan wahyu tuhan sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Menurut pandangan ini, sumber pengetahuan ada dua macam, yaitu pengetahuan yang berasal dari tuhan dan pengetahuan yang berasal dari manusia. Perpaduan antara keduanya disebut teoantroposentris.[3]

Tidak semua apa yang dilakukan oleh manusia harus berdasarkan teks-teks suci keagamaan. Ajaran agama hanya meliputi etika dan hukum-hukum tertentu. Maka dari itu, ilmu pengetahuan bisa saja berdampak negatif jika dibiarkan dari etika-etika keagamaan. Ajaran agama bisa juga sebagai pengontrol bagi ilmu pengetahuan itu sendiri. Ini yang dimaksud oleh M. Amin Abdullah mengenai istilah teoantroposentrik.

Hal ini serupa dengan apa yang digagas oleh Kuntowijoyo. Walaupun pada awalnya Kuntowijoyo memposisikan sebagai ahli sejarah dan budayawan bukan seorang mufassir murni, akan tetapi dia mempunyai gagasan tentang pola integrasi ilmu pengetahuan dengan wahyu agama. Menurutnya, Wahyu sebagai salah satu manifestasi Tuhan diintegralisasikan dengan ilmu-ilmu yang digagas oleh manusia. Pada gilirannya, hasil internalisasi dari sintesa wahyu dan ilmu kemanusiaan itu kemudian diobjektivikasikan dalam suatu metode pengilmuan yang diharapkan oleh Kuntowijoyo menjadi suatu rahmat bagi seluruh umat manusia.[4]

Oleh karenanya, pandangan masyarakat Sekular tentang sekat antara agama Islam dengan ilmu pengetahuan umum harus segera diluruskan. Ilmu pengetahuan umum bukan satu-satunya jalan keluar yang bisa menyelesaikan persoalan dunia. Sains dan teknologi yang diidam-idamkan oleh masyarakat modern seharusnya bisa melakukan banyak hal positif dalam pengaruh keilmuan. Namun, ini menjadi kebalikannya. Krisis dekadensi moral akibat penyalahgunaan ilmu pengetahuan jadi sorotan. Korupsi, pembunuhan, prostitusi, ketidakadilan sosial yang seharusnya agama bisa menjawab dampak-dampak negatif tersebut. M Amin Abdullah menyamakan kejadian seperti ini sama halnya ketika awal abad renaissance hingga era revolusi informasi, yang sekarang ini mulai banyak diratapi oleh pelbagai kalangan.[5]

Allah SWT berfirman dalam surat Al-Jatsiyah ayat 13 dan 17, “Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir” (QS Al-Jatsiyah:13). Kemudian pada ayat selanjutnya, “Dan Kami berikan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata tentang urusan (agama); maka mereka tidak berselisih melainkan sesudah datang kepada mereka pengetahuan karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Sesungguhnya Tuhanmu akan memutuskan antara mereka pada hari kiamat terhadap apa yang mereka selalu berselisih padanya” (QS Al-Jatsiyah:17). Tafsiran sederhana untuk kedua ayat tersebut ialah, merupakan reaksi atas persoalan aksiologis dalam ilmu pengetahuan. Agama Islam mempunyai aturan, nilai-nilai, dan hukum yang itu disebut juga sebagai “syaria’at”. Fungsi syari’at tiada lain adalah meluruskan moral penganutnya dalam kesenjangan sosial. Maka, dengan ini dapat kita simpulkan sedikit, ilmu pengetahuan, sains, teknologi harus mampu disintesiskan dengan fungsi syari’at. Dengan alasan, tidak mengkungkung ilmu pengetahuan itu sendiri.

Pada konsep teoantroposentris M. Amin Abdullah, sesungguhnya tidak bisa dilakukan jika saja kesadaran umat pun tidak dibangun. Telah disinggung di atas, budaya berpikir baru ala M. Amin Abdullah dalam Islamic Studies tidak berdiri sendiri. Pendidikan di perguruan tinggi yang menentukan bagaimana paradigma masyarakat akademik bisa mengolahnya. Sebagai agent of change, titel mahasiswa mampu menanggung permasalahan keilmuan-keilmuan yang sudah ada. Dan itu dibarengi dengan etika-etika yang tercantum dalam ajaran agama.

Bahasa Islamisasi Sains yang digagas oleh Naquib Al-Attas seorang pemikir Islam kontemporer, tidak cenderung untuk mengislamkan ilmu pengetahuan. Seperti yang sudah dijelaskan, etika dan moral harus diperhatikan dalam mengasah ilmu pengetahuan. Dengan mengutip pemikirannya, Al-Attas mengartikan Islamisasinya sebagai “pembebasan manusia, terutama dari tradisi tahayul, mitos, animisme, kebangsaan, dan kebudayaan, lalu setelah itu pembebasan akal dan bahasa dari pengaruh sekulerisme. Karena itu pengislaman adalah rangkuman pembebasan diri dan pengembalian diri kepada kejadian asalnya, menuju kepada fitrah ujar Al-Attas”.[6]

Dari pelbagai pendapat tentang hal-hal yang berbau sekularistik, para pemikir pro sekular lebih cenderung dengan peniadan ajaran agama. Agama menjadi tolak ukur penghalang ilmu pengetahuan untuk terus berkembang. Walaupun ini dibantah dengan argumen yang jelas dalam Al-qur’an dan hadits. Para tokoh sekuler selalu membuktikan dengan alasan bahwa otoritas agama tidak bisa sesuai dengan keinginan manusia pada umumnya.

Oleh karena itu, Islam ada sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamien, bisa membawa konteks apapun untuk menjaga keharmonisan alam semesta. Apabila ajaran Islam yang disodorkan oleh para ulama hanya terpaku pada teks-teks turats, ditakutkan Islam tidak melek terhadapa konteks. Sebab walau bagaimanapun, teks-teks turats tidak sepenuhnya berisikan tentang metodologi keilmuan. Dengan demikian, lahirnya beberapa ilmu pengetahuan umum buatan manusia, diharapkan Islam sangat bisa membantu mensinergiskan. Pola-pola Positivistik-Sekularistik mampu diubah menjadi Teoantroposentrik-Integralisitk.

*Penulis adalah penggiat di Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK)


[1]  Lihat M. Amin Abdullah,  Islamic Studies di Perguruan Tinggi Pendekatan Integratif-Interkonektif  Pustaka Pelajar:Yogjakarta 2012 cetakan ketiga hal. 82-84

[2]  Istilah sekulerisme pertama kali digunakan oleh penulis Inggris George Holyoake pada tahun 1846. Secara kebahasaan, istilah sekularisasi dan sekularisme berasal dari kata latin saeculum yang berarti sekaligus ruang dan waktu. Ruang menunjuk pada pengertian duniawi, sedangkan waktu menunjuk pengertian sekarang atau zaman kini. Sehingga saeculum berarti dunia ini, dan sekaligus sekarang, masa kini, atau zaman kini. Walaupun istilah yang digunakan adalah baru, konsep kebebasan berpikir yang darinya sekularisme didasarkan, telah ada sepanjang sejarah. Ide-ide sekular yang menyangkut pemisahan filsafat dan agama dapat dirunut sampai ke Ibnu Rusyd dan aliran filsafat Averoisme Latin di Paris abad pertengahan. Lihat Budhy Munawar-Rachman, Reorientasi Pembaharuan Islam Sekularisme, Liberalisme, dan Pluralisme Paradigma Baru Islam Indonesia Paramadina:Jakarta 2010 cetakan pertama hal. 169

[3] M. Amin Abdullah, op cit hal. 102

[4] Kuntowijoyo, Islam Sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi, dan Etika Tiara Wacana:Yogyakarta 2007 hal. 49

[5] Lihat M. Amin Abdullah, op cit hal. 94-95. Pada halaman ini ada kutipan dari M. Kamal Hasan mengenai pandangannya terhadap era globalisasi. “Milenium baru membawa tantangan-tantangan yang negatif arus globalisasi dan krisis lingkungan hidup, jika tidak diwaspadai, akan membuat seluruh planet hancur. Tambahan pula, ancaman lama perang nuklir, konflik-konflik internasional yang belum terpecahkan di Timur-Tengah dan eropa Timur, perang antarsuku di Afrika, penderitaan AIDS, semakin bertambahnya kejahatan dalam pelbagai bentuknya, rusaknya kelembagaan keluarga, penyalahgunaan obat, kerusakan kehidupan kota, dekadensi moral dan pelbagai penyakit sosial lainnya. Agama-agama yang mengajaka ke arah perdamaian, keadilan, kesejahteraan hidup secara utuh-menyeluruh dan kehidupan yang baik harus menanggapi isu-isu tersebut di atas, sementara ia tetap harus menentang ketidakadilan sosial, penindasan, korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, keserakahan, matrealisme, rasisme, seks, hedonisme, dan nihilisme”.

[6] Lihat Aqil Fithri dalam esainya Para Pembaharu Pemikiran dan Gerakan Islam Asia Tenggara, SEAMUS (Southheast Asian Muslims): Jakarta 2009 cetakan pertama hal. 177

    Print       Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like...

MENAKAR ULANG PERJUANGAN

Read More →
%d bloggers like this: