Loading...
You are here:  Home  >  Opini  >  Current Article

Penyair Vis à Vis Pemusik

By   /  March 9, 2014  /  No Comments

    Print       Email

Oleh Adew Habtsa*

“Josep Grange pernah berpendapat bahwa penyair adalah sosok yang bisa membentuk solidaritas sosial dengan cerita tentang penderitaan dan penghinaan untuk ditujukan bagi kebaikan publik.  Lebih lebar dari itu, Grange menambahkan bahwasanya kita hidup tidak hanya dengan roti saja, metafora dan diksi juga merupakan sumber nutrisi bagi kehidupan.”

Pada sebuah obrolan yang tak lagi menjadi biasa, tiba-tiba memberat, berbobot sepertinya, pada sebuah ruang yang makin luas celahnya, di belakang terminal itu. Sang Imam, menandaskan bahwa di balik musikus besar terdapat penyair yang menyertainya. Bermakna bahwa si musikus itu lekat secara konkret  dengan sang penyair ataupun secara abstrak mengakrabi karya sang penyair. Seperti telah diketahui bersama, dalam sebuah komposisi, tak melulu menghidangkan musik, tapi ada juga suguhan lirik atau syair lagu. Sehingga karya itu utuh adanya. Walau memang ada karya musik instrumentalia, yang hanya tonjolkan alunan musik saja. Lalu makhluk seperti apa penyair ini, sehingga berikan efek yang luar biasa pada kreativitas sang maestro musik?

Sang Imam di ruang bercelah besar itu mengemukakan: ada Jalaludin Rumi di balik karya Ahmad Dani (Dewa), Kahlil Gibran di sekitar karya Piyu (Padi), Katon Bagaskara (Kla Project), Iwan Fals menggamit Rendra, Ebiet G Ade terpengaruh Umbu Landu Paranggi, tersebutlah Taufik Ismail berpadu pada karya lagu grup Bimbo, lebih jauh Bob Dylan kagumi Dylan Thomas dan Arthur Rimbaud, dan masih banyak lagi contoh yang lainnya. Betapa kedua sosok ini saling berdampingan dengan asyik dan kreatif, bahkan penyair jadi idola dan sumber referensi sekaligus.

Jika ada waktu, cobalah  Anda untuk menyimak kembali, karya-karya mereka, beberapa saja, sebagai contoh, bagaimana sebuah puisi dari penyair termaksud begitu berpengaruh. Ambil contoh, puisi-puisi Taufik Ismail: Sajadah Panjang, Rasul Menyuruh Kita, Rindu Kami, dan yang lainnya, dapat menjadi kreasi yang luar biasa di tangan Bimbo. Dan karya mereka abadi. Hampir setiap bulan Ramadhan tiba, selalu berkumandang lagu-lagu itu, hangatkan suasana puasa. Atas kolaborasi, atau pun istilahnya, kedua unsur, antara penyair dan pemusik, sama-sama beruntung, sama-sama kokohkan nilai dan keindahan tersendiri. Begitu pun seterusnya pada karya-karya Ebiet G Ade, dengan syair yang puitis, kental dengan kisah alam dan lingkungan hidup, membawa pendengar pada alam Nusantara yang memukau.

Jika saja Anda masih tak percaya atas asumsi ini, cobalah tanyakan langsung pada tokoh musikus yang bersangkutan. Atau bacalah biografi mereka yang mudah di dapat di zaman seperti sekarang ini.

Hanya saja saya ingin menyampaikan, bahwa kekuatan kata-kata akan bersinergis dengan baik dengan sajian musik yang sedang diusung sang pemusik itu sendiri. Tak sekadar bermain musik rupa-rupanya, mereka telah mengerti dengan pasti perihal syair yang tak boleh hanya serupa omong kosong belaka. Tak melulu bicara soal cinta asmara saja. Kehidupan terlalu luas, bahkan rumit, karenanya membuat syair dan musik yang indah menjadi satu pilihan yang tepat untuk sampaikan pesan.

Pada pemandangan yang berbeda, di belahan bumi sana, janganlah heran, bila penyair pun merambah ruang ekspresinya pada musik. Sebagaimana yang dilakukan Bob Dylan di Amerika Serikat, selain penyanyi, ia pun seorang penyair-penulis yang kuat sekali perlawanannya dalam perjuangan hak-hak warga sipil di sana, untuk selalu suarakan perdamaian dan keadilan bagi siapa pun. Seperti juga yang dikerjakan Victor Jara dari Chile, penyair dus musikus yang tewas di bawah rezim yang sangat otoriter, mengingat aktivitas dia yang sangat lantang menentang pemerintahan yang lalim itu. Syair lagu yang dibuatnya pun sarat dengan nada perlawanan, serta keberpihakan dia pada kaum terbuang.  Lalu terpaparlah nama-nama pemusik yang juga penulis lagu yang gemilang menandai nyanyian baru kerakyatan lahirkan musik protes, seperti Violetta Farra (Chile), Silvio Ridroguez dari Kuba, di antaranya, mereka sungguh-sungguh mengabdikan hidupnya lewat kata, bahasa, syair yang berani, dan musik yang merakyat, bagi perjuangan bangsanya, agar terlepas dari ketertindasan oleh bangsanya sendiri, termasuk oleh sistem imperialisme yang biadab itu.

Lalu makhluk jenis apa penyair ini? Josep Grange pernah berpendapat bahwa penyair adalah sosok yang bisa membentuk solidaritas sosial dengan cerita tentang penderitaan dan penghinaan untuk ditujukan bagi kebaikan publik.  Lebih lebar dari itu, Grange menambahkan bahwasanya kita hidup tidak hanya dengan roti saja, metafora dan diksi juga merupakan sumber nutrisi bagi kehidupan. Dalam hal ini puisi menjelma senjata untuk mengabarkan kepada khalayak agar kehidupan yang layak harus dibela. Ya, puisi hanyalah sekedar alat juang, sebagaimana musik, lukisan, teater, itulah media yang barangkali efektif untuk kemukakan gagasan dan ideologi. Bukankah tak ada satu karya pun yang bias ideologi dan perjuangan politik tertentu, tak ada buku dan karya apapun yang terbebas dari bias politik. Pendapat yang mengatakan bahwa seni tak bersinggungan sedikit pun dengan politik adalah sikap politik itu sendiri sesungguhnya.

Perlu ditandaskan lagi, tatkala musik yang bagus bertaut dengan lirik-syair yang indah, kokoh, lagi berbobot, maka itulah pertautan istimewa yang sedang dan akan terus berlangsung. Saya pun sedang menanti dunia musik hari ini cerlang cemerlang lagi, turut cerdaskan kehidupan bangsanya, dengan tetap menggandeng para penyair supaya hidup tetap berdaya. Semoga.

Bandung, Januari 2014

 

*) Penulis adalah musisi sekaligus penulis yang bergiat di AARC (Asia Afrika Reading Club)

    Print       Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like...

Kids Jaman Now Tak Dikoyak-koyak Sepi, Ia Dikoyak-koyak Galau (Risalah Serius di Sekitar Sastra dan Filsafat)

Read More →
%d bloggers like this: