Loading...
You are here:  Home  >  Berita & Informasi  >  Current Article

D. Zawawi Imron: Hati yang Bersih Sumber Kreatifitas

By   /  March 11, 2014  /  No Comments

    Print       Email

sumber gambar: http://rumaysho.com

 

Untuk dapat mengembangkan diri secara kreatif dan produktif dalam diri seorang individu, sangatlah mudah, seorang Budayawan asal Madura, Zawawi Imron mengatakan hal tersebut dapat dimulai dengan sesuatu yang sederhana, yaitu memiliki hati yang bersih. Mengapa harus dengan hati yang bersih? Karena bila kita berpikir dengan hati yang bersih, maka hati dan pikiran juga akan terselimuti oleh kebaikan, yang kemudian akan menghasilkan sesuatu yang baik yang tentunya keluar dari hati kita.

Orang yang memiliki hati yang bersih, seujung rambutpun dia tidak akan pernah berpikir negatif terhadap orang lain, tidak akan sempat menjelek-jelekan orang lain sekalipun orang tersebut memang jelek. Dan yang harus diketahui, bahwa hati yang bersih itu dapat dimiliki oleh setiap orang, tidak peduli apapun agamanya.

Contoh konkrit yang bisa dilihat dalam realitas yaitu kita kerap kali menemukan seseorang yang selalu melihat orang lain itu ada satu tingkat dibawah dirinya. Mengenai hal tersebut, Seorang filsuf asal Lebanon, Ellya Abu Madi mengatakan bahwa “Barang siapa yang dalam hatinya tidak ada rasa keindahan, maka ia tak bisa meihat keindahan dalam ciptaan Tuhan.” Seperti itulah cerminan dari kotornya hati seseorang, ia akan selalu berpikir negatif terhadap segala hal.

Tuhan yang diyakini dalam agama mana pun tentunya selalu mengajarkan kebaikan serta keindahan, apa yang Tuhan ciptakan ialah seindah-indahnya ciptaan. Seperti rupa wajah setiap orang, meski berbeda-beda antara satu dan lainnya, namun Tuhan telah membuat bentuk yang paling indah dalam porsinya. Jadi, harus disadari bahwa sesuatu yang indah itu adalah apa yang telah Tuhan berikan kepada kita. Dan harus diketahui juga, bahwa keindahan bukanlah sesuatu yang dikejar, namun keindahan itu ialah sesuatu yang di datangkan.

Kita dapat mengambil contoh lain seperti, orang yang ingin menjadi penulis seharusnya adalah orang yang memiliki hati yang bersih. Mengapa? Karena bila ia memiliki hati yang kotor, maka hal tersebut akan tercampur dengan tulisannya, dan sangat berbahaya apabila orang lain membaca tulisan tersebut. Karena dampak yang dihasilkan pun akan buruk, karena tulisan tersebut dibuat dengan hati yang kotor.

Perbedaan yang hadir di segala aspek kehidupan di negri ini itu sebaiknya dihayati dengan hati yang bersih, untuk dapat menghayati perbedaan itu sendiri, yang nantinya akan terwujudlah Bhinneka Tunggal Ika. Maka tidak salah bila segala sesuatu itu harus dimulai dengan memiliki hati yang bersih. Contoh yang lain bisa kita lihat dengan keberadaan seorang pemimpin. Seorang pemimpin sejati ialah dia yang mampu melakukan perubahan, bukan dia yang berasal dari perubahan.

Untuk menjadi pemimpin, sempatkanlah untuk menata bahasa yang indah dan budi pekerti yang baik, agar pemimpin tersebut selalu dirindukan oleh rakyatnya. Dapat kita bayangkan, bila pemimpin tersebut tidak memiliki hati yang bersih, sehingga apa yang ia ucapkan kerap kali menyakiti hati orang lain, tidak memiliki bahasa yang indah, tingkah lakunya semena-mena, bila hal itu terjadi yang ada adalah pemberontakan dari rakyatnya yang tidak akan mendengarkan apa yang diucapkan oleh pemimpin itu.

Dan pada akhirnya, pemimpin itu akan terkena bumerangnya sendiri. Bila pemimpin-pemimpin seperti itu ada banyak di sebuah negara, maka dapat dipastikan negara itu akan menjadi negara yang berada di belakang negara lain. Mengapa? Karena pemimpin tersebut tidak memiliki hati yang bersih sehingga tidak dapat memahami suatu keindahan. Itulah bahayanya, Bangsa yang tidak mengerti keindahan, akan terlambat dibandingkan dengan negara lain.

Pada tahun 1960 seorang rektor Universitas Al-Azhar, Prof. Dr. Mahmoud Syaltout datang berkunjung ke Indonesia. Setelah melihat keadaan alam di Indonesia, kemudian ia menggambarkannya hanya dengan satu kalimat, yaitu: “Indonesia merupakan serpihan surga yang diturunkan Tuhan ke bumi.” Dari kalimat orang asing itulah, beberapa tahun kemudian tercipta lagu dari musisi anak bangsa yang liriknnya “Kata orang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman……..”

Zawawi Imron memiliki bait puisi yang menggambarkan Tanah air Indonesia, puisi itu adalah… “Di tanah air ini kita minum, di tanah air ini kita makan, di tanah air ini kita bersujud, di tanah air ini kita dikuburkan, didekap oleh bumi Indonesia, tanah air ini adalah sajadah untuk bersujud kepada Tuhan” Maka dari itu, segala perbedaan yang ada di negri ini tidak sepatutnya dijadikan alasan untuk perpecahan.

Yang ada malah seharusnya menjadikan perbedaan tersebut menjadi suatu keindahan, yang keindahan itu dapat dirasakan ketika kita memiliki hati yang bersih. Hingga pada akhirnya, bila kita telah memiliki hati yang bersih, akan muncul berbagai kreatifitas yang tentunya membuat kita produktif. Siti Fathimah. (05/03)

    Print       Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like...

Milangkala LPIK XXI: Fenomena Terkini di Negeri Kita

Read More →
%d bloggers like this: