Loading...
You are here:  Home  >  Sastra  >  Cerpen  >  Current Article

“Sebuah Prologue”

By   /  March 12, 2014  /  No Comments

    Print       Email

Oleh: Fikri AG*

Setengah tahun sudah, Ia bergabung dengan dunia baru. Semuanya serba baru. Kecuali hanya baju, celana dan keadaan dompet nya, yang masih tetap. Tak sedikit pun berubah. Apa yang terasa baru, begitu ia nimati dan hayati untuk semua kesempatan, pengalaman dan kenangan yang ia anggap sangat indah. Dan pastinya takterlupakan.

Ini semua dimulai ketika  sang tokoh antagonis, gagal untuk meraih harapannya di jalan menuju sastra. Cukup dalam dan sakit ia terperosok ke jurang kegagalan itu. Dengan susah payah ia berusaha berdiri, mencoba merangkak perlahan untuk dapat keluar dari lubang yang gelap. Mencoba mengumpulkan kembali serpihan harapan yang pecah berkeping – keping, berserakan di lantai hati yang basah. Walau agak sedikit sulit, akhirnya ia dapat menyusunnya kembali. Dengan  bantuan super – glué  yang dipinjamnya dari  seorang teman.  Ia tersadar oleh omongan seorang supir truk ketika hujan sore hari, “banyak jalan menuju sastra” ujar nya. Entah apa maqashid dari ucapan si supir truk tersebut, tapi kelihatannya ia memahami dengan pemahamannya sendiri. Ia bertekad, akan mencari ‘jalan-jalan alternatif lain’ untuk sampai ke tujuannya. Ya, sastra.

Masuklah ia ke sebuah dunia baru. Dunia di mana pergolakan perbedaan pemahaman dan pemikiran  adalah sarapan sehari – hari. Bak sebuah miniatur dari masyarakat secara luas. Dunia baru itu merupakan sebuah negara kecil menurutnya, yang di dalamnya tidak ada pertengkaran dan gontok-gontokan seperti yang sering terjadi di luar. Kalaupun itu terjadi, mungkin hanya sebatas pada kadar yang ringan dan nantinya pun akan mencair kembali. Para pengisi dunia baru itu merupakan kumpulan individu yang beragam dan menarik. Perbedaan di dalamnya menjadikannya sebuah keluarga yang selalu dijadikan tempat bernaung, bak rumah yang melindungi diri dari dan panasnya sinar mentari di siang hari. Di sisi lain dunia itu juga adalah dunia yang sangat keras. Telah banyak saksi sejarah kebesaran dan kehebatan para pengisi dunia itu di masa lalu. Telah banyak torehan tinta emas yang  mereka guratkan di langit sastra dan tanah intelektual. Itu pun telah berlalu…

Bagaimanapun juga dunia itu hanyalah benda mati. Ia akan hidup, dari kedinamisan dan karancagéan pengisinya. Ia akan mati pula, bila pengisinya hanya berpangku tangan, hanya membangga – banggakan kejayaan di masa silam, tanpa ada semangat dan usaha untuk meraihnya. Dan bila boleh ia akan mengutip, apa yang pernah dikatakan Friedrich Schiller (1759-1805) dalam “Wilhelm Tell” (1804)   “Yang lama musnah, masapun berubah, dan diatas puing keruntuhan, mekarlah Kehidupan Baru”. “Ini lah zaman kita, sekarang adalah giliran kita” ujarnya.

Ia bersyukur bisa bergabung di dunia itu. Bagaimana pun, ini hanya sebuah prologue. Berhasil atau tidaknya ia sampai menuju sastra, siapa yang tahu? Tergantung dari usahanya dan perjuangannya. Kalau telah berusaha walaupun pada akhirnya gagal juga, persetan dengan semuanya, mangsa bodo, da nu penting mah ngaing geus usaha. Hari esok bagaikan sebuah epilogue yang berkekeuatan mistis nan gaib adanya. Tapi masih mungkin untuk dirancang dan disiasati, kiranya …itu pun, bila yang Maha Kuasa berpihak pada nya.

***Inspirasi kamar mandi, saat orang – orang tak peduli lagi. Bandung, 18 Januari 2014, 20 : 04.***

*Penulis adalah Kurawa LPIK yang bergiat sebagai pecinta Sastra Sunda.

    Print       Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like...

Jawawut: Ciung Wanara

Read More →
%d bloggers like this: