Loading...
You are here:  Home  >  Sastra  >  Kritik Sastra  >  Current Article

TELAAH PUISI ASTUTI-NYA ISW

By   /  April 26, 2014  /  No Comments

    Print       Email

Oleh: Reza F*

………………………………….

tuan berikan uang berlipat untuk bagian dalam
kaus polosku yang tuan raba dan permainkan
sampai kini aku masih kegelian dengan tangan tuan

(Astuti, 2014)

Penggalan puisi di atas langsung merangsang saya dalam fenomena suap-menyuap yang banyak terjadi dewasa ini. Jelas terlihat memang, Iqda Sodikul Wa’di (yang selanjutnya saya tulis ISW) sebagai narator puisi di atas memandang fenomena yang menjadi rahasia umum di kalangan para politisi dan masyarakat biasa. Tahun 2014, sebagai tahun pesta politik karena diadakannya Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden ini banyak terjadi kasus-kasus anomali dengan cara penyogokan agar mendapatkan suara dari si pemilih dan lain sebagainya.

Dengan tiga larik puisi diatas, dari pemilihan diksi yang diangkat oleh ISW, merupakan diksi yang tidak memiliki tendensi apa-apa. ISW hanya menggunakan bahasa (saya senang menyebutnya) enteng, karena tema yang diangkat oleh ISW pun sebenarnya sungguh sederhana. ISW pandai memandang realitas yang dimana ketika seorang calon legislatif ingin menang dalam pemilihan umum, harus pintar mencuri hati para warga masyarakat. Dengan money politic-nya jelas tergambar dalam larik tuan berikan uang berlipat untuk bagian dalam, dimana si Aku lirik diberi uang sebagai sogokan agar dapat memilih si calon legislatif tersebut.

Namun di sisi yang lain, si Aku lirik meluapkan rasa terimakasihnya kepada si calon legislatif karena telah memberikannya uang. Seperti dalam larik berikut:

Tuan, kami berterimakasih atas uang
yang kemarin diberikan
jumlahnya cukup untuk saya belanjakan
kebutuhan pokok dalam sepekan

Larik diatas memberikan gambaran kepada pembaca bagaimana rasa seorang Aku lirik (yang mungkin bernama Astuti) yang merupakan masyarakat biasa ketika diberi uang, dia senang. Namun, pemberian yang tidak seberapa itu hanya cukup dalam waktu 1 minggu saja.

Mari kita telaah diksi Astuti yang digunakan ISW sebagai judul dalam puisinya ini. Astuti, yang jika dilihat oleh masyarakat Indonesia pasti mempunyai pandangan bahwa dia merupakan wanita dari kalangan kelas bawah, hanya hidup di desa (meskipun tidak semua), berkebutuhan pas-pas-an. Penokohan yang dilakukan ISW menurut saya berhasil menggambarkan substansi dari puisi tersebut.

ISW yang kini merupakan seorang mahasiswa tingkat II jurusan Bahasa dan Sastra Inggris UIN SGD Bandung, tidak mengalami secara empiris apa yang digambarkan dalam puisi berjudul Astuti ini. Namun, ISW sebagai seorang mahasiswa yang update akan berita-berita (karena ia rajin menonton televisi berita di kamar kost-nya) bisa menggambarkan bagaimana money politic tersebut terjadi. Kenikmatan dari uang hasil pemberian si calon legislatif ini tidak akan berangsur lama. Karena 5 tahun itu waktu yang sangat lama, Aku lirik (Astuti) kembali ke kehidupan asalnya yang (mungkin) memang melarat. Berikut puisi utuh berjudul Astuti karya ISW:

ASTUTI

Tuan, kami berterimakasih atas uang
yang kemarin diberikan
jumlahnya cukup untuk saya belanjakan
kebutuhan pokok dalam sepekan

Tuan, anda ingat 5 tahun kebelakang?
tuan berikan uang berlipat untuk bagian dalam
kaus polosku yang tuan raba dan permainkan
sampai kini aku masih kegelian dengan tangan tuan

Jika 5 taun kedepan tuan kembali kesini,
jangan tuan lupa untuk ulangi yang pernah
kita lakukan 5 taun kebelakang
karna aku tau pasti
seberapa sulit keadaan
ketika tuan kembali
ke senayan.

2014

Hemat saya, puisi berjudul Astuti ini, sangat rindang meskipun tema yang diangkat sungguh sederhana. Tingkat kematangan ISW yang terus-menerus terolah menjadi saksi bahwa Astuti yang ia tulis ini renyah dan gurih untuk dinikmati.[*]

 

*Penulis aktif di Forum Sastra Lilin Malam dan sebagai Kurawa di Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK) UIN SGD Bandung

    Print       Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like...

Sastra, Sensor dan Negara: Seberapa Jauhkah Bahaya Novel?

Read More →
%d bloggers like this: