Loading...
You are here:  Home  >  Filsafat  >  Current Article

Teologi sebagai Pelayan Kesosialan: Pemikiran Mazhab Frankfurt tentang Teologi

By   /  May 17, 2014  /  No Comments

    Print       Email

 

Oleh Berto Tukan*

…A system of mirrors created the illusion that this table was transparent on all sides.

Actually, a hunchbacked dwarf—a master at chess—sat inside and guided

the puppet’s hand by means of strings. One can imagine a philosophic

 counterpart to this apparatus. The puppet, called “historical materialism,”

is to win all the time. It can easily be a match for anyone if it enlists

the service of theology, which today, as we know, is small and ugly and has to keep out of sight.[1]

 

Pembukaan

            Jerman pada masa antara Perang Dunia I dan Perang Dunia II memiliki panorama yang cukup menggetirkan. Kala itu, Jerman—yang menggunakan nama Republik Weimar—muncul sebagai sebuah negara dengan industri dan kemajuan yang cukup mengagumkan di Eropa. Republik Weimar pada masa awalnya dijalankan oleh koalisi SPD (Partai Sosialis Jerman), DDP (Partai Demokrasi Jerman), dan Partai Katolik Jerman. Kehidupan di negara itu berjalan dengan begitu baik pada awalnya. Pada 1928 industri dan perkebunan Weimar berhasil mencapai level tertinggi. Namun, beban membayar kerugian Perang Dunia I yang harus dibayar negara itu serta resesi ekonomi dunia, Republik Weimar mulai mengalami kemunduran. Di saat itu, Nazi muncul dengan membonceng pada sentiment Yahudi serta Sosialis. Mazhab Frankfurt ada di zaman yang demikian.

            Mazhab Frankfurt muncul dari Institut Penelitian Sosial Frankfurt yang pada awalnya muncul di Frankfurt setelah Perang Dunia I. Mazhab yang dikenal luas dengan Teori Kritisnya ini termasuk sentral sebagai revitalisasi pemikiran Marxisme di Eropa Barat setelah Perang Dunia I. Kita tahu, sebelum itu Marxisme sempat terbelah dua dalam Internasionale II yang melahirkan revisionis Marxsis dan Marxsis Ortodoks. Meskipun kurang terkenal di Eropa Barat pada masa itu, Mazhab Frankfurt selanjutnya juga menginspirasi gerakan New Left lantaran diterimanya pemikiran Herbert Marcuse di Amerika. Institut Penelitian Sosial Frankfurt pada awalnya muncul dari ide Felix Weil, seorang Yahudi yang tertarik dengan pemikiran Marxisme dan banyak terlibat dalam gerakan Marxisme. Resmi berdiri pada 22 Juni 1924, Institut ini diketuai oleh Carl Grünberg, pemikir yang kerap dianggap sebagai Austro-Marxist’s Father. Selanjutnya, Max Horkheimer menggantikannya pada 1931.[2]

            Mazhab Frankfurt pada awalnya didirikan dalam rangka revitalisasi pemikiran Marx. Tom Bottomore membagi pemikiran Mazhab ini dalam empat periode. Peride pertama (1923-1922) dicirikan dengan penelitian dan ketertarikan institut ini pada penelitian-penelitian yang sangat empiris. Periode kedua (1933-1950) yang dikenal juga dengan periode eksilnya institut ini di Amerika Utara lantaran Nazi dan kentara dengan ciri khas pemikiran kritis neo-Hegelian yang sangat mewarnai institut. Periode ini ditandai juga dengan masuknya ide psikoanalisis dalam pemikiran Institut. Salah satu yang penting yang memberi sumbangan psikoanalisa bagi Institut barangkali adalah bergabungnya Eric Fromm. Psikoanalisis lantas mewarnai keseluruhan pemikiran Mazhab Frankfurt selanjutnya. Periode ketiga (1950-1960) ditandai dengan kembalinya Institut Penelitian Sosial Frankfurt ke Jerman di mana Teori Kritis mereka sudah bisa dikatakan sangat mapan. Periode ini juga diwarnai dengan gerakan New Left yang terinspirasi oleh pemikiran Herbert Marcuse di Amerika.[3] Periode keempat (1970-an) merupakan periode kemunduran Mazhab Frankfurt. Meski begitu pemikiran dari Mazhab ini meluas mewarnai para pemikir dari Marxist maupun non-Marxist. Dan juga pada periode ini ditandai dengan pengembangan dari Jūrgen Habermas atas teori kritis. Habermas memperbarui teori kritis dalam hal kondisi-kondisi yang memungkinkan pengetahuan sosial serta pemahaman atas teori sejarah dan kapitalisme modern dari Karl Marx.[4]

Dalam tulisannya mengenai Mazhab Frankfurt dan teologi negatif[5], James Swindal membahas empat tokoh yang menurutnya representatif untuk membicarakan hal tersebut. Empat tokoh itu adalah Max Horkheimer, Theodor Adorno, Walter Benjamin, dan Jürgen Habermas. Horkheimer dan Adorno memang adalah dua tokoh penting dalam Mazhab Frankfurt. Merekalah yang memimpin serta mewarnai periode kedua sampai ketiga dari Mazhab Frankfurt; periode di mana Mazhab Frankfurt dianggap mencapai masa keemasannya. Jürgen Habermas seperti yang sudah disinggung di atas berada pada periode keempat dan memberikan sebuah warna yang lain kepada Teori Kritis. Sedangkan Walter Benjamin sendiri tidak pernah secara resmi bergabung dengan Institut Penelitian Sosial Frankfurt. Ia hanya kerap berkorespondensi dan menulis untuk jurnal resmi institute tersebut. Bahkan Benjamin sendiri terlihat banyak berbeda pendapat dengan anggota Institut yang lainnya. Dalam karyanya “Problems in the Sociology of Language” dan “Eduard Fuchs: Collector and Historian” yang dipublikasikan dalam jurnal institute ini ketika sudah hijrah ke Amerika menunjukan perbedaan tersebut. Perbedaan ini belakangan semakin mengemuka dalam “On the Concept of History”.[6]

Sebagaimana pemikiran mereka dalam banyak hal, pandangan Mazhab Frankfurt atas teologi diwarnai oleh pemikiran Karl Marx dan juga psikoanalisis a la Sigmund Freud. Secara garis besar bisa dikatakan bahwa Mazhab Frankfurt mefokuskan perhatian mereka pada kehidupan masyarakat atau kesosialan. Meski pun demikian dalam hal pemikiran tentang teologi, menurut Swindal, sangat sedikit ditemukan pembahasan Mazhab Frankfurt tentang determinisme dari ekonomi kepada teologi, sebagaimana yang kentara pada Marx, tetapi lebih kepada analisa historiografi dan psikologis.[7]

Di dalam tulisan ini saya akan menyarikan beberapa point mengenai Mazhab Franfurt seturut pemaparan James Swindal dalam “Critical Theory, Negative Theology, and Transcendence”. Meskipun demikian beberapa langkah perlu dilakukan untuk memahami ide di dalam tulisan itu dengan lebih baik. Maka, pertama saya akan memaparkan secara ringkas pemikiran Karl Marx dan Sigmund Freud mengenai teologi dan atau agama. Hal ini menurut saya cukup penting karena dari dua pemikir inilah Mazhab Frankfurt mengambil banyak inspirasi.[8] Selanjutnya, kedua, saya akan memaparkan poin-poin dalam tulisan Swindal mengenai pemikiran teologi Mazhab Frankfurt beserta keempat tokoh mazhab itu yang diangkatnya; Benjamin, Horkheimer, Adorno, dan Habermas. Dari keempat tokoh ini, saya sendiri lebih banyak mengetahui tentang Benjamin. Dalam pembacaan atas tulisan Swindal, saya rasa perlu menjernihkan duduk perkara pemikiran Benjamin secara keseluruhan mau pun tentang teologi. Hal ini akan saya lakukan dalam bagian ketiga tulisan ini. Pada bagian keempat sebagai penutup akan disarikan seluruh tulisan ini secara ringkas serta saya berusaha untuk menarik relefansi pemikiran Mazhab Frankfurt tentang teologi dengan kekinian.

 

Kritik Agama Karl Marx dan Sigmund Freud

            Karl Marx dikenal dengan pemikirannya tentang materialism historis. Materialisme historis berarti sejarah kehidupan manusia ditentukan oleh perkembangan perekonomiannya. Modus produksilah yang menjadi penentu untuk sejarah perkembangan kehidupan manusia. Materialisme historis hendak menunjukkan bahwa pikiran diprakondisikan oleh modus produksi ekonomi. Dalam Bab I Ideologi Jerman Engels dan Marx menulis demikian:

Premis pertama dari seluruh sejarah manusia ialah keberadaan individu-individu manusia yang hidup. Dengan demikian, fakta utama untuk bertahan [hidup] adalah pengorganisasian yang bersifat fisik dari individu-individu ini dan konsekuensi relasi mereka dengan alam…. Penulisan sejarah haruslah selalu ditempatkan pada basis natural ini dan modifikasi mereka dalam sejarah melalui aksi manusia.[9]

Dengan demikian sentral materialism historis adalah manusia yang demi hidup tidak bisa tidak bergantung pada alam. Perubahan dari cara memenuhi kebutuhan hidup inilah yang nantinya menentukan hal-hal lainnya. Dengan demikian agama pun hanyalah salah satu ekspresi atau mengikuti perkembangan modus produksi manusia ini.

            Agama dalam skema pemikiran Marx tentang masyarakat berada pada wilayah superstruktur bersama hal-hal lainnya seperti filsafat, politik, kebudayaan, dsb. Sedangkan perekonomian ada di wilayah basis. Basis bersifat menentukan superstruktur meskipun—dan kerapnya—superstrukturlah yang berbalik menentukan basis sebagaimana diutarakan oleh Engels.[10] Masih dalam skema basis superstruktur ini, yang menempati wilayah basis adalah masyarakat kelas bawah atau proletar dan yang menempati wilayah superstruktur adalah masyarakat kelas atas (borjuis). Agamawan dengan demikian berada pada wilayah superstruktur ini.

Lebih jauh, Marx menyatakan bahwa agama adalah candu untuk masyarakat. Yang dimaksudkan dengan kalimat ini adalah bahwa agama (yang berada di wilayah superstruktur) memberikan janji-janji keselamatan dan kebahagiaan surgawi pada kelas proletar (yang berada di wilayah basis). Hal ini dipandang melemahkan kaum proletar yang kehidupannya ditekan oleh kelas atas. Kelas proletar lantas terbuai akan janji surga dan lupa akan keadaannya di dunia ini yang sebenarnya.

Jika Marx melihat kehidupan manusia didasari oleh sebuah mekanisme ekonomi, maka Freud melihat kehidupan manusia didasari pada sebuah psikologi tertentu.[11] Bagi Freud, Tuhan tentu tidak ada. Tetapi Freud melangkah lebih jauh; ia hendak mengetahui mengapa manusia begitu dikuasai oleh gagasannya tentang Tuhan. Menurut Freud, “agama menurut kodrat psikologisnya merupakan sebuah ilusi.”[12] Agama menurut Freud adalah pelarian neurotis atau infantile dari realitas. Ciri neurotis dan infantile dari agama adalah bahwa manusia tidak berani menghadapi kenyataan hidup sesungguhnya melainkan melemparkan semua itu kepada sesuatu yang tidak ada yakni Tuhan.

Mazhab Frankfurt dan Teologi

            Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, Mazhab Frankfurt meski pun menempatkan diri mereka sebagai refisi atau pencarian kembali pada pemikiran Karl Marx, di dalam bidang agama dan teologi mereka tidak sepenuhnya mengikuti Karl Marx. Marx tidak secara spesifik mengkritik agama karena menganggap agama adalah bagian dari superstruktur sehingga agama tidak bisa tidak dikondisikan oleh keadaan basis (ekonomi). Agama adalah candu bagi masyarakat sebagai kalimat dari Marx perlu dipahami bahwa agama menghilangkan daya revolusioner masyarakat untuk ke luar dari penindasan yang dirasakannya sekarang.

            Mazhab Frankfurt dalam melihat agama dan teologi cukup beragam dan tidak sepenuhnya mengikuti pemikiran Karl Marx di atas. Pemikir Mazhab Frankfurt justru menghormati agama sebagai suatu fenomena budaya yang penting.[13] Mereka juga tidak melihat sisi pengkondisian agama oleh keadaan basis tetapi seolah-olah hendak melihat unsur messianisme dari agama sebagai unsur yang membangun semangat emansipasi. Pemikir Mazhab Frankfurt lebih lanjut hendak memahami peran agama di dalam kehidupan manusia.[14]

            Walter Benjamin dilihat cukup representative untuk melihat bagaimana Mazhab Frankfurt melakukan kritikan atas agama.[15] Setidaknya dalam pemikiran Benjamin tentang sejarah dan juga bahasa, ia membicarakan pula unsur agama dan teologi. Benjamin menurut Swindal menunjukkan keberadaan Tuhan dan etika mengenai agama melalui pemikiran tentang sejarah. Benjamin menganggap agama yang benar harus tidaklah percaya pada waktu yang linear menuju kerajaan surga, sebaliknya pemahaman waktu yang dialektis.[16] Demikian Benjamin:

Nothing historical can relate itself on its own account to anything Messianic. Therefore the Kingdom of God is not the telos of the historical dynamic; it cannot be set as a goal.[17]

Lebih lanjut, messianisme sejarah ada dalam waktu-sekarang (Jetztzeit). Hal ini tentu saja berbeda dengan messianisme dalam agama Yahudi dan Kristiani yang mana messianisme adalah sesuatu yang ditunggu muncul di masa depan. Dengan kata lain, ciri messianisme agama yang menggantungkan harapan pada sesuatu yang lain yang berada di luar manusia ditolak oleh Benjamin. Bagi Benjamin, messianisme haruslah sebuah kekuatan yang ada pada manusia dalam pengertian sosialnya.

            Perbedaan pandangan akan agama dan teologi tampak ketika kita membandingkan pemikiran Benjamin tentang sejarah ini dengan pemikirannya tentang bahasa.[18] Dalam pemikirannya tentang bahasa, Benjamin menyatakan bahwa pemahaman yang paling utama dari bahasa atau makna paling asli dari bahasa bisa dilihat dalam penamaan secara biblikal. Dalam Kitab Kejadian menurut Benjamin Tuhan menjadi agen dari bahasa. Kalimat “biarlah ada” (“let there be”) bagi Benjamin menunjukan unsur kekuatan kreatif dari bahasa dan bahwa semua hal mengambil bagian dalam bahasa.[19] Selain itu manusia juga diberikan kemampuan berbahasa yang mana membuatnya berada di atas ciptaan yang lain. Demikian Benjamin:

God set  language, which had served him as medium of creation, free. God rested when he had left his creative power to itself in man.[20]

Meskipun demikian, menurut Benjamin benda-benda yang diciptakan Tuhan tidaklah memilkiki nama. Manusialah yang pada akhirnya memberi nama padanya.             Teologi bagi Benjamin selalu ada secara laten dalam pemikiran atau pandangan mengenai sejarah begitu juga bagi materialisme historis. Teologi membantu materialisme historis untuk menangkap kebenaran yang ada jauh di masa lalu.[21]

            Horkheimer dalam banyak tulisannya membicarakan hubungan antara agama dan masyarakat sekuler. Ia juga dalam beberapa tulisannya melihat hal yang positif dari hubungan kedua hal itu.[22] Dalam sebuah esainya, Horkheimer mengkritik pandangan religius yang dibawa Kristianisme. Baginya, sebelum adanya kristianisme—katakanlah di zaman Yahudi Kuno—agama adalah jawaban atau muncul dari sebuah keberadaan material manusia. Dengan Kristianisme, hal itu hilang dan Tuhan atau agama menjadi sesuatu yang ideal, terlepas dari keduniawian. Kristianisme juga membuat keadilan manusia di bumi menjadi suatu utopia karena keadilan hanya mungkin ada dalam kerajaan Allah yang ada setelah kehidupan di dunia.[23]

            Horkheimer melihat bahwa agama tidaklah hilang lantaran Pencerahan meski pun kritikan atas agama melalui metafisika begitu gencarnya. Di dalam masyarakat borjuis, agama tidak hilang. Sebaliknya ada perubahaan yang terjadi di dalam praktik kemartiran agama itu sendiri. Demikian Horkheimer:

It is a vain hope that contemporary debates in the church would make religion once again the vital reality it was in the beginning. Good will, solidarity with wretchedness, and the struggle for a better world have now discarded their religious garb. The attitude of today’s martyrs is no longer patience but action; their goal is no longer their own immortality in the afterlife but the happiness of men who come after them and for whom they know how to die.[24]

Horkheimer melihat juga bahwa meski pun agama hilang, ia akan meninggalkan jejak yang mendalam pada masyarakat. Hal ini membuat masyarakat sulit untuk mencapai sebuah pemikiran yang optimis. Meski pun melihat agama sebagai sebuah penghambat otpimisme masyarakat, Horkheimer pada periode setelah kembali ke Jerman terlihat cukup menaruh harapan pada agama. Ia mencoba mencari pembebasan di luar jalur politik. Salah satunya melalui agama. Agama menurutnya memungkinkan adanya cinta. Demikian Horkheimer:

In the eyes of the Jewish mother shone the realization that long after her death her son might experience the Messiah’s coming or even himself be the Messiah. The love of the Christian mother was – in all humility and less assurance – sustained by the belief that her child belonged to the elect and had an immortal soul.[25]

Secara umum, panorama pemikiran para pemikir Mazhab Frankfurt yang diangkat Swindal dalam tulisannya ini—Walter Benjamin, Max Horkheimer, Theodor Adorno, dan Jurgen Habermans—terkesan cukup mendua. Pada satu sisi mereka melihat agama dalam kaca mata seperti Marx dan Freud yang mana melihat agama sebagai efek dari hal yang lain. Pada Marx efek dari ekonomi dan pada Freud efek dari ketakutan. Namun lebih jauh Mazhab Frankfurt meneliti agama tidak secara teologis dalam pengertian berdasarkan iman, tetapi melihat agama sebagai fenomena sosial. Dengan melihat agama dan teologi demikian acap kali Mazhab Frankfurt pun berpegang pada daya emansipasi agama. Bisa dikatakan mereka tidak membuang begitu saja agama tetapi mengambil hal-hal yang baik darinya untuk kepentingan emansipasi.

            Namun, ada juga kecenderungan untuk melihat agama sebagai sebuah kenyataan atau daya yang ada di luar manusia. Hal ini kentara misalnya ketika Benjamin membicarakan peran Tuhan dalam pemikirannya mengenai bahasa. Ketika membicarakan hal yang demikian, kentallah aroma metafisika. Ketika agama atau Tuhan menjadi sesuatu yang mendasari segalanya maka patut dipertanyakan upaya restorasi marxisme dari Mazhab Frankfurt. Untuk itu kita akan melihat secara spesifik perjalanan pemikiran Benjamin.

Paradoks Benjamin

Benjamin, seperti kebanyakan pemikir lainnya mempunyai tahapan-tahapan dalam pemikirannya. Pada awalnya, Benjamin dekat dengan tradisi romantis Jerman. Marxsisme secara serius baru dipelajarinya melalui pembacaan atas buku Gregory Lukacs History and Class Consciousness. Pada 1924, Benjamin mengunjungi Capri. Di sana, ia berkesempatan membaca karya Gregory Lukács. Di situlah, pertama kalinya Benjamin berkenalan dengan materialisme historis secara serius; sebuah konsep sejarah yang nantinya akan dielaborasi lebih jauh oleh Benjamin dalam tulisan-tulisannya. Bersamaan dengan ia membaca buku Lukács ini, Benjamin berjumpa dengan Asja Lacis, seorang sutradara teater yang juga adalah anggota partai Bolshevik. Lacis memperkenalkannya pada politik kiri radikal. Mulai saat itu Benjamin mendalami tulisan-tulisan Marx. Ia menggambarkan hal itu di dalam surat untuk Gershon Scholem, ”saya harap suatu hari sinyal-sinyal Komunis akan datang padamu dengan lebih jelas sebagaimana yang mereka lakukan di Capri.[26] Titik di mana ia mulai mendalami pemikiran Marxisme ini merupakan sebuah belokan pemikiran Benjamin yang sangat signifikan.[27]

Jika kita melihat karya-karya Benjamin tentang Bahasa yang dikutip oleh Swindal dalam tulisannya tampaklah bahwa karya-karya itu berada pada periode sebelum terjadinya belokan pemikiran Benjamin ini. Dua tulisan tersebut yakni “On Language as Such” ditulis Benjamin pada 1916 ketika ia belum bersama Frankfurt School dan juga belum mendalami Marxisme. Tulisan ini pun tidak dipublikasikan semasa Benjamin hidup. Sedangkan “The Task of Translator” adalah tulisan yang dibuat sebagai pengantar terjemahan bahasa Jerman untuk buku Charles Baudelaire, Tableaux Parisiens pada 1921. Tulisan kedua ini pun ditulisnya sebelum ia mempelajari Marxisme dengan serius. Bahkan, perkenalannya dengan Institut Penelitian Sosial Frankfurt dalam rupa berkontributor pada jurnal Institut itu baru terjadi pada 1928.

Dengan fakta sejarah yang demikian, patutlah dipertanyakan sejauh apa pemikiran Benjamin tentang bahasa mewakili pemikirannya sebagai bagian dari Mazhab Frankfurt. Kita tahu Mazhab Franfurt ini didirikan dalam landasan Marxisme dengan tujuan mencari pemikiran Marxisme secara benar. Hal ini menjadi cukup penting ketika kita melihat bahwa Benjamin mulai mempublikasikan tulisannya di Jurnal yang diinisiasi oleh Institut Penelitian Sosial Frankfurt setelah ia mendalami marxisme dengan membaca karya seminal Lukacs sebagaimana yang diungkapkan di atas.

Namun demikian pemikiran Benjamin sendiri memang cukup kontroversial. Yang paling mendulang polemik adalah pencampurannya antara marxsisme dan messianisme. Messianisme adalah term dari teologi Yahudi dan Kristianisme, dari tradisi teologi tertentu. sedangkan kita tahu teologi dan marxisme kerapnya tidak pernah seiring sejalan. Kontroversi dari percampuran ini sangat kentara pada Tesis I—yang kita kutip pada bagian awal tulisan ini—dari On the Concept of History, salah satu karya terakhir Benjamin. Pada tesis I ini Benjamin menggambarkan materialism historis sebagai boneka turki yang duduk di depan papan catur dan menghadapi lawan mainnya. Boneka ini akan selalu menang lantaran ia dibantu oleh kurcaci buruk rupa yang ada di bawah meja. Kurcaci buruk rupa itu adalah teologi.

On the Concept of History berisi pemikiran Benjamin tentang sejarah. Ia menolak model sejarah yang linear, meski pun juga Benjamin bukannya mendukung pembacaan sejarah yang siklis. Sejarah baginya adalah dialektika dan di dalam sejarah ia menekankan unsur messianik sebagai daya menuju emansipasi. Inilah letak kontroversi Benjamin. Di masa hidupnya sendiri, di mata teman-temannya pun, paradoks ini sudah muncul; Theodor Adorno, misalnya, melihat penggunaan kosakata teologi oleh Benjamin menjauhkannya dari materialisme historis, sedangkan Gershom Scholem melihat justru pengabaian terhadap teologi—khususnya Yudaisme—oleh Benjamin cukup disayangkan karena hanya melalui itulah pemikirannya bisa menuju ke arah yang lebih positif.[28]

Dari teks yang kontroversial ini, paradox pemikiran Benjamin muncul. Menurut Friedrich Jameson dan Terry Eagelton, teologi dan messianisme dalam pemikiran Benjamin tentang sejarah hanya digunakannya sebagai alat.[29] Menurut Kia Lindroos, teks Tesis I On The Concept of History jika dibaca dengan saksama tampaklah materialisme historis tidak meminta bantuan dari teologi melainkan teologilah yang memberi pelayanan terhadap materialisme historis. Benjamin hendak menunjukkan bahwa di balik jubah setiap konsep filsafat sejarah sekuler tersembunyi konsep teologi. Ketika jubah itu ditanggalkan, maka yang tetap tinggal adalah konsep sejarah teologis ini.[30] Di dalam setiap konsep sejarah sekuler tersimpan warisan pandangan sejarah teologi Yahudi-Kristen yakni sifat perjalanan ke depan menuju sebuah akhir atau keselamatan yang bukan datang dari manusia sendiri melainkan datang dari sesuatu yang lain (dalam hal ini dari Yang Ilahi).

Banyak interpretasi tentu saja atas perihal hubungan materialisme historis dan teologi ini. Interpretasi lain misalnya oleh Michael Löwy yang mengatakan bahwa Benjamin hendak memasukan unsur spirit messianisme yang memungkinkan materialisme historis menang atas fasisme. Sedangkan Rolf Tiedemann menganggap kurcaci kecil itu (teologi) sudah mati. Namun demikian, Löwy punya poin penting bahwa konsep teologi, setidaknya, penggunaan istilah teologi dalam “On the Concept of History” sangatlah kuat dan menjadi pokok-pokok pikiran yang utama seperti “remembrance“ dan “messianic redemption”.[31]

Mengikuti interpretasi dari Lindoors maka kita akan sampai pada kesimpulan bahwa dalam anologi permainan catur, materialism historis akan selalu menang, dengan kata lain menjadi konsep sejarah yang benar, lantaran ia dibantu oleh konsep teologi. Kita tahu konsep teologi dengan unsur telelologi yang kental memang ada juga dalam materialism historis. Jika dalam teologi Kristen-Yahudi telos itu dikenal sebagai hari akhir di mana kerajaan Allah tiba, maka dalam materialisme historis telos itu dalam rupa akhir sejarah di mana terciptanya masyarakat tanpa kelas. Adanya keyakinan bahwa sistem kapitalisme akan menyebabkan krisis dalam dirinya. Dengan demikian kapitalisme akan runtuh dan dengan sendirinya terciptalah masyarakat tanpa kelas.

Alih-alih mengamini unsur telelologi dalam materialisme historis, Benjamin justru menentangnya. Hal ini tampak pada Tesis X dari On The Concept of History di mana dinyatakannya bahwa kemunculan Fasisme di Eropa adalah konsekuensi dari optimisme berlebihan kiri Eropa kala itu yang melihat materialisme historis sebagai keotomatisan sejarah yang berujung pada kemenangan kaum tertindas di akhir sejarah.[32] Benjamin sebaliknya lebih menekankan pada kenangan atau ingatan akan generasi terdahulu. Karena dari ingatan dan kenangan atas merekalah daya kekuatan untuk mencapai emansipasi bisa tercipta.

Penolakan terhadap teleologi ini kentara juga pada tesis IX On The Concept of History. Tesis ini merupakan tesis paling terkenal dan sering dikutip. Di sana Benjamin menggambarkan malaikat sejarah yang memunggungi masa depan dan memandang penuh kengerian pada masa lalu. Gambaran malaikat sejarah yang demikian jelas menunjukkan keberatan Benjamin pada konsep sejarah yang telelologis. Dengan demikian, keberatannya pada materialism historis dengan unsur teleologis yang kuat dan juga unsur telelologis dari teologi serta juga konsep sejarah lain yang berciri demikian seperti idealisme Jerman.

Sampai di sini, kita lihat bahwa Benjamin dalam On The Concept of History justru mengkritik dan tak setuju pada konsep teologi Yahudi-Kristen yang merasuk pula dalam konsep sejarah sekuler. Dan kita tahu, karyanya ini, On The Concept of History, adalah karya yang ditulis setelah ia dengan serius membaca marxisme. Dengan kata lain, karya yang dibuatnya setelah ia mengalami pembelokkan pemikiran yang penting seperti yang sebelumnya sudah kita lihat. Namun, di dalam On The Concept of History ini masih ada pandangan messianisme dari Benjamin. Pandangan messianisme inilah yang juga menuai kontroversi di mana Benjamin bisa dilihat sebagai teolog, sebagai marxis, mau pun pemikir yang kompromistis di antara kedua hal itu.

Messianisme Benjamin sendiri oleh Giacomo Marramao disebut sebagai “Messianism Without Delay”.[33] Sebutan ini menurut Marramaoi memang bermasalah lantaran messianisme sendiri adalah konsep yang kental akan laku menunggu sehingga tentu saja mencakup juga sebuah penundaan. Messianisme Benjamin pun harus dilihat dalam kerangka materialisme historis. Dalam Tesis XVIII On The Concept of History Benjamin mengatakan bahwa dalam ide untuk kelas sosial, Marx mengsekularisasikan ide waktu Messianis dan hal itu merupakan sesuatu yang baik. Masalah muncul menurut Benjamin ketika para marxsist zamannya memaknai itu sebagai sebuah laku menunggu. Giacomo Marramao menginterpretasikan Tesis XVIII ini sebagai sebuah poin penting untuk Messianisme dalam pandangan Benjamin, yakni Messianisme yang ditempatkan pada persimpangan antara momen sekarang dan masa lalu, tanpa ada orientasi pada masa depan sebagai simbol dari menunggu.[34]    Messianisme Benjamin dipahami sebagai sebuah aksi politik terhadap situasi politik pada setiap momen sejarah. Yang terpenting pada Messianisme Benjamin bukanlah sebuah menunggu—yang berarti juga menegasikan Waktu-Sekarang—tetapi pada aksi revolusioner yang memungkinkan terjadinya perubahan yang dimungkinkan pula oleh kenangan akan peristiwa-peristiwa pertarungan kelas di masa lalu. Messianisme Benjamin bisa dikatakan sebagai sebuah penantian masa lalu untuk generasi masa kini. Generasi masa kini perlu menangkap harapan dan penantian masa lalu itu dan melihat kemungkinan keselamatan itu terjadi di saat ini.

Dengan demikian messianisme Benjamin tentu saja bukan sebuah messianisme dengan penantian pada sesuatu yang ilahi atau sesuatu yang ada di luar diri manusia sendiri. Justru messianisme Benjamin adalah sebuah kekuatan yang harus ada dalam generasi manusia itu sendiri. Sebuah kekuatan yang datang dari ingatan akan masa lalu. Jelaslah di sini bahwa teologi yang digunakan Benjamin pasca mendalami marxisme—sebut saja Benjamin yang Marxsis—jauh dari teologi sebagai iman atau adanya sesuatu yang ideal di luar manusia yang diandaikan ada. Hal ini masih bisa kita temukan pada karya-karya awal Benjamin misalnya tentang Bahasa sebagaimana karya-karya yang dikutip Swindal dalam tulisannya. Benjamin yang marxsis adalah Benjamin yang menggunakan teologi dan agama sebagai alat. Konsep-konsep dari teologi dipinjamnya dan dimodivikasinya demi kepentingan social dan emansipasi manusia.

Penutup

            Demikianlah sudah kita lihat secara garis besar pemikiran Mazhab Frankfurt tentang teologi. Kesimpulan yang paling kokoh yang bisa kita pegang adalah Mazhab Frankfurt melihat agama dan teologi sebagai sebuah kenyataan budaya. Dengan demikian ia adalah bagian dari dialektika masyarakat. Perbedaan Mazhab Frankfurt dengan Marx lantas bisa dilihat sebagai Marx hanya menempatkan agama dan teologi pada tingkatan suprastruktur dalam skema masyarakatnya sedangkan Mazhab Frankfurt justru menelisik salah satu entri suprastruktur ini dengan begitu serius.

            Pembacaan Swindal bisa dikatakan juga adalah sebuah pembacaan semena-mena. Hal ini lantaran dari penelusuran atas sejarah pemikiran Benjamin sendiri, Swindal seolah-olah mencampur-adukkan Benjamin pra Marxsisme dengan Benjamin Marxsisme. Hal ini terlihat ketika Swindal mencampurkan pemikiran Benjamin tentang bahasa dengan merujuk pada On the Langage as Such dan The Task of Translator. Pemikiran Benjamin dari kedua karya ini lantas dicampurkannya dengan pemikiran Benjamin tentang sejarah dalam karya The Arcade Project serta On the Concept of History.

Memang Swindal memberikan periode bahwa dua karya awal adalah karya yang lebih dahulu sedangkan dua karya kemudian adalah karya yang lebih belakangan. Namun dengan tidak spesifik membuat batasan antara kedua periode itu Swindal membangun anggapan seolah-olah Benjamin pada kedua karya awal dan karya belakangan adalah Benjamin dengan duduk soal atau titik berangkat latar belakang pemikiran yang sama. Padahal dalam pemikiran Benjamin sendiri, dua karya awal tentang bahsa itu adalah dua karya ketika Benjamin lebih cenderung berdiri pada posisi Romantisisme Jerman sedangkan dua karya yang lebih kemudian ia berada pada posisi Marxsisme.

Maka barangkali tidak berlebihan jika kutipan Tesis I On the Concept of History dipergunakan pada bagian awal tulisan ini. Keseluruhan tulisan ini berkesimpulan utama sama seperti kutipan tersebut bahwa bagi Mazhab Frankfurt transendensi, kemistikan, kesakralan agama dan teologi tidak berarti. Agama dan teologi dilihat sebagai realitas budaya yang lantas digunakan dalam rangka kebutuhan kesosialan manusia oleh para pemikir Mazhab Frankfurt.***


[1] Walter Benjamin, “On the Concept of History”, dalam Walter Benjamin, Selected Writings Volume 4 (1938-1940), diedit oleh Howard Eiland dan Michaels W. Jennings. London: The Belknap Press of Harvard University Press. 2003, hlm. 389.

[2] Martin Jay, The Dialectical Imagination: A History of the Frankfurt School and the Institute of Social Research 1923-1950, (London: Heinemann Educational Books), 1973, hlm. 3-25.

[3] Ketika Institut Penelitian Sosial Frankfurt kembali ke Jerman, Herbert Marcuse memilih untuk tetap berada di Amerika.

[4] Mengenai periodesasi Mazhab Frankfurt ini saya sarikan dari Tom Bottomore, The Frankfurt School and Its Critic, (London: Routledge), 2002, hlm. 12-13.

[5] James Swindal, “Critical Theory, Negative Theology, and Transcendence”, dlm M. Joy (ed.), Continental Philosophy and Philosophy of Religion, (New York: Springer), 2011.

[6] David Ferris, Cambridge Introduction to Walter Benjamin, (Cambridge: Cambridge University Press), 2008, hlm. 18.

[7] James Swindal, “Critical Theory, Negative Theology, and Transcendence”, hlm. 188.

[8] James Swindal, “Critical Theory, Negative Theology, and Transcendence”…, hlm. 188.

[9] Karl Marx dan Friedrich Engels, The German Ideology: Part One, diedit oleh C. J. Arthur, (London: Lawrence & Wishart), 1991., hlm. 42.

[10] T. Borodulina (peny.) K. Marx, F. Engels, V. Lenin On Historical Materialism: A Collection, (Moscow: Progress Publishers), 1972, hlm. 294.

[11] Penjelasan mengenai Freud ini disarikan dari Franz Magnis-Suseno, Menalar Tuhan, (Yogyakarta: Kanisius), 2006, hlm. 84-85.

[12] Sebagaimana dikutip dalam Franz Magnis-Suseno, Menalar Tuhan…, hlm. 85.

[13] James Swindal, “Critical Theory, Negative Theology, and Transcendence”…, hlm. 188.

[14] Bdk. James Swindal, “Critical Theory, Negative Theology, and Transcendence”…, hlm. 189.

[15] James Swindal, “Critical Theory, Negative Theology, and Transcendence”…, hlm. 190. “To a large extent, Benjamin set the tone for how critical theorists were to analyze religion”.

[16] James Swindal, “Critical Theory, Negative Theology, and Transcendence”…, hlm. 191.

[17] Sebagaimana dikutip dalam James Swindal, “Critical Theory, Negative Theology, and Transcendence”…, hlm. 192.

[18] Bdk. James Swindal, “Critical Theory, Negative Theology, and Transcendence”…, hlm. 192.

[19] James Swindal, “Critical Theory, Negative Theology, and Transcendence”…, hlm. 192.

[20] Sebagaimana dikutip dalam James Swindal, “Critical Theory, Negative Theology, and Transcendence”…, hlm. 192.

[21] James Swindal, “Critical Theory, Negative Theology, and Transcendence”…, hlm. 193.

[22] James Swindal, “Critical Theory, Negative Theology, and Transcendence”…, hlm. 194.

[23] James Swindal, “Critical Theory, Negative Theology, and Transcendence”…, hlm. 195.

[24] James Swindal, “Critical Theory, Negative Theology, and Transcendence”…, hlm. 195.

[25] James Swindal, “Critical Theory, Negative Theology, and Transcendence”…, hlm. 196.

[26] Sebagaimana dikutip dalam David Ferris, Cambridge Introduction to Walter Benjamin…, hlm. 11.

[27] David Ferris, Cambridge Introduction to Walter Benjamin…, hlm. 11.

[28] Kia Lindroos, Now-time, Image-space: Temporalization of Politics in Walter Benjamin’s Philosophy of History and Art, (Jyvaskyla: Sophi), 1998, hlm. 35.

[29] David Ferris, Cambridge Introduction to Walter Benjamin…, hlm. 144.

[30] Kia Lindroos, Now-time, Image-space…, hlm. 35.

[31] Michael Löwy, Fire Alarm: Reading Walter Benjamin’s ‘On the Concept of History,diterjemahkan oleh Chris Turner, (London: Verso), 2005, hlm. 26.

[32] Walter Benjamin, “On the Concept of History”…, hlm. 393.

[33] Giacomo Marramao, “Messianism Without Delay: On the “Post-religious” Political Theology of Walter Benjamin” diterjemahkan oleh Luca Follis. Constellations Volume 15, Number 3, 2008, hlm. 397-405.

[34] Giacomo Marramao, “Messianism Without Delay”…, hlm. 401.imesime

 

 

Daftar Bacaan:

Benjamin, Walter. “On the Concept of History”, dalam Walter Benjamin, Selected Writings Volume 4 (1938-1940), diedit oleh Howard Eiland dan Michaels W. Jennings. London: The Belknap Press of Harvard University Press. 2003, hlm. 389-411.

Borodulina, T. (peny.), K. Marx, F. Engels, V. Lenin On Historical Materialism: A Collection. Moscow: Progress Publishers. 1972.

Bottomore, Tom., The Frankfurt School and Its Critic. London: Routledge. 2002.

Ferris, David., Cambridge Introduction to Walter Benjamin. Cambridge: Cambridge University Press. 2008.

Jay, Martin. The Dialectical Imagination: A History of the Frankfurt School and the Institute of Social Research 1923-1950. London: Heinemann Educational Books. 1973.

Magnis-Suseno, Franz., Menalar Tuhan. Yogyakarta: Kanisius. 2006.

Marramao, Giacomo. “Messianism Without Delay: On the “Post-religious” Political Theology of Walter Benjamin” diterjemahkan oleh Luca Follis. Constellations Volume 15, Number 3, 2008, hlm. 397-405.

Marx, Karl dan Friedrich Engels, The German Ideology: Part One, diedit oleh C. J. Arthur. London: Lawrence & Wishart. 1991.

Swindal, James., “Critical Theory, Negative Theology, and Transcendence”, dlm M. Joy (ed.), Continental Philosophy and Philosophy of Religion. New York: Springer. 2011

 

* Penulis adalah mahasiswa Program Magister FIlsafat, STF Driyarkara, Jakarta dan redaktur Lembar Kebudayaan IndoPROGRES.

 

    Print       Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like...

Politik Tani di Indonesia

Read More →
%d bloggers like this: