Loading...
You are here:  Home  >  Berita & Informasi  >  Current Article

Catatan di Yogyakarta

By   /  February 8, 2015  /  No Comments

    Print       Email

sumber gambar: http://krjogja.com

Aku dihadapkan pada suatu problematika, ketika Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK) “memaksaku” untuk menghadiri pelatihan Advokasi Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan yang diselenggarakan oleh Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF) serta Jaringan Mahasiswa Lintas Agama (Jarilima). Bagaimana mungkin aku meninggalkan Cibiru, kemudian pergi ke Yogyakarta kalaulah tugas-tugas kuliahku banyak sekali? Tapi ketua rimba itu terus “memaksa”, kata-katanya membuatku berada dalam tingkatan keraguan. Akhirnya karena Cibiru tidak mampu memberi jawaban antara ‘tidak atau iya’, aku bergegas pulang ke rumah. Kebijaksanaan kedua orangtuaku terlihat dari sini. Mereka berkata, “terserah, kamulah yang menentukan”. Singkat cerita aku membulatkan tekad untuk menghadiri pelatihan advokasi tersebut di Yogyakarta.

Ada yang menarik perhatian sesampainya di sana, pada hari itu orang-orang berbeda agama dan keyakinan turut melebur menjadi satu. Kita berbincang, makan, tidur dan melakukan aktivitas bersama-sama. Terasa aneh mungkin, karena sebelumnya aku tidak pernah melakukan suatu kegiatan bersama orang-orang yang berbeda keyakinan denganku. Ada Syi’ah, Ahmadiyah, NU, Muhammadiyyah, Gusdurian, Katolik, Protestan, yang menganggap dirinya tidak percaya akan Tuhan tetapi tidak mau disebut sebagai ateis,  dan penghayat dari Jawa yaitu aliran Surya Dharma.

Aku turut berbincang dengan mereka, menyoal konflik antar umat beragama, filsafat, dan kegiatan peribadatan yang ada di dalamnya. Ada yang banyak menyita perhatianku mengenai aliran yang mereka anut masing-masing. Aliran tersebut adalah aliran penghayat dari Jawa yang diberi nama Surya Dharma.

Menurutnya, wahyu itu di turunkan di daerah Pare kepada Sri Gutama, dia adalah penuntun ajaran Surya Dharma. Aku pun baru melihat peribadatannya, mereka menemakannya sujud. Dalam sujud kita dituntut untuk pasrah atau mungkin dituntut lebih pada tingkatan pasrah ketika menghadap kepada Allah. Allah yang dibicarakan bukanlah konsep Allah seperti halnya Islam, karena mereka juga berpendapat bahwa aliran ini bukan berasal dari Islam.

Ketika anggota dari Surya Dharma meninggal, mereka dihadapkan pada dua pilihan, mau dikubur atau dikremasi. Katanya secara sosial dikremasi lebih baik karena tidak perlu menghabiskan banyak tempat. Hasil dari pembakaran jenazah lebih efektif secara sosial, sebab nantinya orang-orang yang meninggal tidak akan mengganggu hak orang lain yang masih hidup. Dalam artian menurut mereka dengan mengubur jenazah bisa menghabiskan tanah yang tidak sedikit, alangkah baiknya tanah itu digunakan oleh orang-orang yang masih hidup. Namun aliran Surya Dharma ini, tidak mewajibkan kepada para anggotanya untuk dikremasi ketika nanti dirinya telah meninggal.

Setelah perbincangan dengan aliran serta agama yang berbeda dengan saya selesai, saya dan kawan-kawan kembali masuk ke aula. Di sana kami saling memperkenalkan diri. Ada dari Jakarta, Bandung, Tegal, Yogyakarta, Demak, dan kebanyakan peserta dari daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Hari pertama lebih banyak pada perkenalan serta peserta diajak menganalisis suatu hal apakah termasuk kebutuhan atau kepentingan dan hak atau kewajiban.

Secara sederhana yang dimaksud dengan kebutuhan ialah apa yang melekat dalam diri manusia, kalaulah hal tersebut tidak bisa dipenuhi maka manusia itu akan mati. Sedangkan yang dimaksud kepentingan ialah sesuatu yang dianggap penting akan tetapi ketika hal itu tidak terpenuhi maka tidak akan mengakibatkan sesuatu yang buruk bagi kelangsungan hidup manusia. Dalam sesi ini peserta diberi 20 pertanyaan dan disuruh menganalisisnya, apakah dimasukan ke dalam kebutuhan atau kepentingan.

Selesai sesi tersebut, peserta diberi waktu kurang lebih sekitar satu jam untuk makan, bersantai, serta menunaikan ibadahnya masing-masing. Sesi kedua dimulai sekitar jam 14.30, dalam sesi ini kita disuruh lagi untuk menganalisis dan memisahkan suatu hal ke dalam hak atau kewajiban. Setiap kelompok memiliki argumentasinya masing-masing. Ketika waktu menganalisis sudah selesai, setiap kelompok memaparkan hasil analisis tersebut. Pada waktu itu juga tejadi banyak perdebatan antara yang pro dengan yang kontra.

***

Hari pertama ditutup dengan perbincangan-perbincangan kecil agar para peserta lebih jauh mengenal satu sama lain. Esoknya saya bangun jam lima pagi, untuk melaksanakan shalat Shubuh. Kali ini saya terlambat bangun mungkin karena hari sebelumnya kegiatan begitu padat dan melelahkan sehingga saya nyaman dan keenakan berada di atas kasur yang empuk.

Setelah makan pagi, sekitar jam delapan peserta bersama-sama memasuki aula. Para peserta diajak untuk berdiskusi perihal konflik yang terjadi antar umat beragama terutama di Indonesia. Acara itu tidak dipenuhi dengan perdebatan seperti sebelumnya, mungkin karena waktu yang mendesaknya, sebab saat itu adalah hari Jum’at. Sesudah acara selesai, peserta dipersilahkan untuk bersiap-siap melaksanakan shalat Jum’at bagi yang melaksanakannya. Untuk menemukan masjid, kita berjalan beberapa meter ke daerah atas dari wisma Omah Jawi.

Dari awal sampai akhir, ibadah shalat jum’at itu kira-kira berlangsung selama 30 menit. Sepulangnya dari masjid kami sudah dihadapkan pada nasi, daging, sayur dan pelengkap lainnya untuk makan siang. Di saat itu Aswar temanku dari UIN Yogyakarta, tiba-tiba menghampiri ke arah meja yang saat itu aku dan Halim gunakan. Dia mulai memancing kami berdua dengan mengatakan bahwa ‘kebenaran itu tidak bisa berkumpul dari beberapa bagian’. Maksudnya dalam aliran yang masing-masing kita anut sekarang ini pasti ada suatu kebenaran, dan yang lainnya salah. Dalam artian kebenaran itu adalah satu, bukan beberapa. Baginya kebenaran adalah pencarian, kita mencari kebenaran dengan nalar dan rasionalitas. Sebaliknya dia benci terhadap penerimaan begitu saja, lebih tepatnya benci atas dogma. Begitulah kiranya temanku itu berpendapat.

Kebetulan apa yang dibicarakan Aswar sebelumnya, pernah saya diskusikan dengan Mas Sukron, panitia dari LSAF yang tidak percaya akan adanya Tuhan ataupun hal-hal ghaib lainnya. Dalihnya sebab semua itu tidak logis. Semisal apa itu Tuhan, neraka, dan surga. Baginya dia tidak menemukan kenyamanan dalam diri suatu agama.

Jawaban yang sama aku lontarkan kepada Aswar. Bagiku pembangunan agama bukan sekedar dibangun dalam kerangka logis dan masuk akal. Dunia ini terbagi menjadi dua bagian; ada yang logis atau ada juga yang tidak bisa ditafsir oleh akal. Kita tidak bisa terlepas dari keduanya, dan aku memiliki anggapan bahwa suatu hal yang dibangun dalam kerangka logis akhir-akhirnya akan merujuk pada sesuatu yang sulit untuk diterima dengan nalar. Dengan menanyakan pertanyaan apa, mengapa, bagaimana, dimana atau pertanyaan lainnya maka pada akhirnya akan sulit untuk dijawab. Seperti halnya kita menganalisis bahwa pembentukan alam semesta dibentuk dari teori Big Bang. Kemudian kami bertanya kenapa ada teori Big Bang? Semua itu akan bermuara pada ‘kebetulan’. ‘Kebetulan’ adalah sesuatu yang tidak masuk akal, dan kita tidak lepas dari hal demikian. Ketika kamu mengatakan bahwa semua itu harus logis, maka kamu telah memaksakan kehendak dan memperkosa sesuatu. Bagi saya apa pun yang diungkapkan secara logis, bermuara pada si pengirim kelogisan itu sendiri yaitu Tuhan. “Ujung-ujungnya kita tidak bisa terlepas dari dogma, tidak ada sesuatu pun yang murni, termasuk apa yang dibicarakan oleh kita sekarang” ucapku kepada Aswar. Kita berbicara persepsi, tentunya persepsi kita masing-masing dibangun dari sebuah bacaan atau ajaran. Maka tetap menjadi suatu hal yang tidak murni ketika ajaran dan bacaan kita simpulkan menjadi suatu kesimpulan yang dianut oleh kita sekarang. Sebab kesimpulan yang kita miliki tidak terlepas dari hal demikian. Termasuk bahasa Indonesia yang kita bicarakan sekarang, tidak ada bahasa yang murni. Karena bagiku yang murni dengan tanpa adanya pembatasan adalah sebuah hal yang tidak jelas dan sulit difahami.

Begitulah kiranya pengalaman saya ketika berada di Yogyakarta, saling berpendapat, berdiskusi tetapi tidak menjadikan kami bermusuhan. Kami menjadi saling memahami argumentasi yang dipegang oleh masing-masing umat beragama.

    Print       Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like...

Diskusi “Islam dan Komitmen Kebangsaan: Menyoal NKRI Harga Mati” Gambaran Umum

Read More →
%d bloggers like this: