Loading...
You are here:  Home  >  Opini  >  Current Article

Oksigen

By   /  February 6, 2016  /  No Comments

    Print       Email

Sejak pertama munculnya Alam Semesta ini, yang banyak diperdebatkan teori keterbentukannya, sampai banyak juga diramalkan akhir dan kehancuran Alam ini, keberadaannya selalu diikutsertakan dan membuat tandatanya-tandatanya yang bergelayutan disetiap pikiran mereka yang berfikir.

Siapa tak pernah membutuhkanya? Apa yang menjadi lengkap jika tak menyertakannya? Bagaimana jika tak ada dia ? Mengapa harus selalu ada peran sertanya? contoh  bisakah anda merokok jika tak disertainya? dan terus berdatangan sejuta pertanyaan mengenai dirinya, tidak akan selesai sampai pertanyaan-pertanyaan berunjuk jari sehingga bertumpuk hampir menyamai jumlahnya.

Sebuah kata benda berurutkan huruf o-k-s-i-g-e-n (oksigen), yang rumus kimianya O2, susunan dari dua senyawa “oksida”. Oksigen merupakan zat yang harus selalu ada demi keberlangsungannya hidup setiap yang bernafas. Dalam setiap langkah, kedipan mata, dan segala gerakan, semua yang dikategorikan sebagai mahluk hidup pasti akan menghelakan nafas, merebahkan hidung lalu menarik setiap udara yang terkandung oksigen di dalamnya.

Alangkah Agung dan Maha Kuasanya Engkau Pencipta oksigen, sungguh berharaga dan tiada tak bermanfaatnya segala yang Engkau ciptakan. Setiap detak jantung dan detik jam oksigen selalu dibutuhkan, sehingga ingatan setiap insan menjadi segar saat menghirupmu. Sebuah perpaduan dua senyawa itu bersatu melayang-layang disekitar bola bundar raksasa berlapiskan atmosfir, tidak terhingga jumlahnya. Jutaan bahkan miliyaran zat yang dinamai oleh urtan huruf o-k-s-i-g-e-n tak pernah habisnya menyelimuti bumi kehidupan.

Tak pandang bulu engkau berjasa, kepada tamu-tamu yang baru hadir di alam ini, pemberontak, pembuat rusak, orang-orang suci, besar ataupun kecil ukurannya, kau bagikan dirimu sampai mereka tak lagi dapat menghirupmu karena lelah menjalani hidupnya. Air takkan menjadi air jika tak ada oksigen, api tak akan menyulutkan lidahnya jika tak ada oksigen.

Siapa yang tak mau menghirupmu, dapat dikatakan ia adalah orang yang tak mau dirinya berada. Sedangkan bagi orang-orang yang mengabaikan pentingya dirimu, dan mereka yang serakah malah mungkin menginginkanmu sebagai emas, sehingga mereka puas lalu setelahnya harus membayar mahal sebuah penyesalan.

Maka dari itu aku tidak akan meminta pada Tuhan bahkan langsung padamu untuk berubah menjadi apapun, walaupun menjadi emas yang mengalahkan melimpahnya emas freeport di Papua, ataupun BBM (bahan bakar minyak) sehingga tak perlu ada lagi penghamburan subsidi untuk itu dan tak perlu repot lagi untuk menaikan atau menurunkan harganya yang menyebabkan orang dalam kemelut yang sulit dipadamkan.

Terimakasih.

    Print       Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like...

Kontingensi Sebagai Kritik atas Masalah Hume

Read More →
%d bloggers like this: