Loading...
You are here:  Home  >  Opini  >  Refleksi  >  Current Article

Silet, Kualitas dan Ketetapan

By   /  February 6, 2016  /  No Comments

    Print       Email

Silet adalah sebuah alat untuk memotong sesuatu. Silet terbuat dari sebongkah besi yang ditipiskan yang hanya memiliki tebal sekitar 1 mili, dan pada umumnya memiliki bentuk persegi panjang disertai ujungnya yang dilancipkan agar dapat memotong sesuatu, namun yang dilancipkan hanya ujung bagian bawahnya saja, artinya sisi sebelah kanan dan kirinya beserta atasnya tidak dilancipkan. Pada umumnya silet memiliki panjang sekitar 2-3 cm, dan memiliki lebar sekitar 4-5 cm.  Di tengahnya diberi lubang yang simetris namun tidak berbentuk persegi atau bulat, namun memiliki lekukan-lekukan yang diikuti oleh bentuk persegi, panjang dari lubang ini berjarak beberapa mili saja dari tepi ujung silet. Guna dari lubang ini adalah untuk menyatukan silet dengan alat lain, biasanya pencukur jenggot, kumis dan rambut jambang. Siletpun sangat identik dengan alat pencukur jenggot, bahkan silet dianggap hanya sebagai alat untuk pencukur rambut (seperti yang telah disebutkan diatas) yang disatukan dengan medianya, yaitu gagang atau “alatnya”.

Silet kebanyakan berwarna abu-abu warna besi, karena memang begitulah orang-orang membuatnya, apakah ini suatu kesepakatan atau bukan silet berwarna demikian, tidak ada yang mengetahuinya, karena kebanyakan silet berwarna abu-abu besi.

Silet perlu diketahui juga bukan hanya sebagai alat untuk mencukur rambut saja, tapi silet juga bisa digunakan untuk memotong benda lain. Misalnya,  memotong tali rapia yang terikat pada sesuatu namun kita malas untuk membukanya secara manual, karena memakan waktu yang sangat lama, maka silet hadir untuk mempermudah dan menghemat waktu untuk melepaskan ikatan tali rapia. Bahkan siletpun sangat cocok untuk digunakan seseorang yang ingin mengakhiri hidupnya, dengan cara memotong urat nadi yang berada pada pergelangan tangan. Bisa dibilang silet hadir untuk mempertemukan seorang hamba dengan Tuhannya dengan lebih cepat.  Dalam hal ini, akan terlalu berlebihan jika silet disebut alat yang kejam, karena silet digunakan untuk memotong sesuatu. Memotong biasanya kita identikan dengan menguraikan sesuatu yang sebelumnya bersatupadu.  Tapi patut kita akui karena memang demikianlah kerja silet, dan kita juga bisa sebut silet adalah saudara dari pisau dan kapak, karena sama-sama memiliki kegunaan yang sama, yaitu memotong sesuatu.

Ketika silet disandarkan dengan pisau atau kapak, maka timbul pertanyaan, apa perbedaannya dari masing-masing benda tersebut ? kita bisa menjawab bahwa barang-barang itu memiliki tingkatan tersendiri terhadap “apa” yang akan dipotong. Silet digunakan untuk memotong sesuatu yang halus, tipis dan lembut, kapak digunakan untuk sesuatu yang keras misalnya kayu, dan kedudukan pisau berada diantara silet dan kapak, yaitu memotong benda-benda yang tidak halus dan juga tidak keras, misalnya buah-buahan, karena tidak mungkin ketika kita memotong buah durian menggunakan silet.  Dan sangat tidak memiliki nilai keindahan jika kita memotong apel menggunakan kapak yang ukurannya besar. Dan perbedaan selanjutnya adalah ukuran. Seperti sudah disinggung sebelumnya, kapak memiliki ukuran paling besar diantara silet dan pisau, dan silet memiliki ukuran paling kecil diantara pisau dan kapak, dan pisau berada dipertengahan, yaitu antara pisau dan kapak, tidak besar namun tidak kecil. Dan harus kita ketahui pula, bahwa silet, pisau dan kapak memiliki persamaan yang sama, yaitu dapat mempercepat pertemuan seorang hamba dengan Tuhannya.

Dari cerita kita mengenai silet kita bisa dapatkan suatu hal yang berada dibalik cerita tersebut. Pertama, kuantitas itu memberikan suatu perbedaan yang jelas, sedangkan kualitas meskipun memberikan suatu perbedaan, namun kualitas itu memiliki suatu persamaan, akan tetapi persamaan itu memberikan kedudukan porsi, dan kepantasan terhadap sesuatu. Kualitas itu bersifat subjektif dikarenakan, kita bisa merasakan perbedaan-perbedaan itu dan subjeklah yang menentukannya, dan subjek bebas untuk menentukan porsi beserta penempatannya. Tapi kuantitas itu perlu diingat, memiliki keterikatan subjek dan objek, namun yang lebih didominan adalah objek, karena objeklah yang menentukan dirinya (sesuatu itu). Dalam kuantitas subjek itu bersifat pasif, karena tidak berperan dalam menentukan kuantitas subjek, tapi objeklah yang menentukan dirinya. Sedangkan dalam kualitas, subjek itu aktif, karena subjek berperan dalam menilai suatu objek.

Kedua, seperti disinggung diatas mengenai warna silet, penentuan nilai terhadap sesuatu itu kadang-kadang bersifat semena-mena sehingga tidak ada yang mengetahui siapa yang menentukan suatu nilai. Atau dilain hal kita bisa jabarkan bahwa pasti ada sesuatu yang bersifat apriori, apriori adalah sesuatu yang sudah seperti itu sebagaimana adanya.

Ketiga, bentuk lubang yang simetris tapi didalanya terdapat berlekuk-lekuk. Kita harus fahami bahwa sesuatu itu, meskipun terlihat tidak simetris berlekuk-lekuk dan bermacam bentuknya, namun ketika kita melihatnya dari sudut pandang yang luas maka hal itu terlihat simetris, sebagaimana kita menghadapi masalah yang terlihat berlekuk dan berbentuk namun jika kita melihat dari sudut pandang yang luas, maka akan terlihat simetris.

    Print       Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like...

Kids Jaman Now Tak Dikoyak-koyak Sepi, Ia Dikoyak-koyak Galau (Risalah Serius di Sekitar Sastra dan Filsafat)

Read More →
%d bloggers like this: