Loading...
You are here:  Home  >  Opini  >  Current Article

Naluri Membunuh

By   /  February 23, 2016  /  No Comments

    Print       Email

Oleh Sabiq Ghidafian Hafidz*


Prolog

Siapa yang harus dibunuh dan bagaimana caranya membunuh?

Membunuh secara ontologis menghadapkan antara subjek sebagai aku dan subjek liyan yang dijelma sebagai objek. Dengan kata lain, pembunuhan pada pengalaman diri menjelma sebagai potensi—menjadi momen keberadaan dirinya, dan pembunuhan terhadap yang liyan menjadi proses “aktus”—mengharus-hadirkan subjek liyan, menjadi momen keberadaan diri dengan yang liyan, momen sosial.

Pada tataran epistemologis, eliminasi menjadi corak berpikir. Penghilangan, penyingkiran, penyisihan, merupakan bentuk yang hadir dari dirinya. Corak ini merupakan hasil kurang-tambah dari singgungan keinginan naluriah yang disebut id dengan realitas yang menghadirkan ego dan dengan kebakuan tatanan yang disebut super ego.

Negosiasi antara id dengan ego dan super-ego, adalah bagaimana pembunuhan ini dalam perjalanannya menemukan menjadi. Yakni aksiologi, memperjuangkan hasrat untuk bertahan hidup.

Ya, itu benar. Menjaga kesehatan dan kehidupan adalah dengan mengorbankan yang lain. Tapi, jika orang hanya mencari kekebalan tubuh tanpa memperkuat jiwa, tidak aneh kalau jumlah mayat hidup semakin bertambah. Apa menurutmu itu hal bodoh?

Dorongan dengan reaksi yang majemuk dan tidak disadari—naluri, setiap makhluk hidup melakukan hal ini dengan motivasi memertahankan kelangsungannya. Hasrat untuk memenuhi kebutuhan naluriah ini menjadi hal primordial. Pada perjalanannya, ketika dorongan naluri beradu dengan realitas, akan memunculkan medan pertaruhan—membunuh atau dibunuh; to be or not to be, kata Shakespeare. Yah, mengimbas pada relasi—siapa menjadi apa, apa menjadi siapa.

Mengandai pada oposisi biner, dalam artian dua posisi yang berlawanan. Relasi yang mengemuka merujuk pada makhluk dengan posisi keberadaannya berada dalam kediriannya, yakni tujuan keberadaannya ditentukan sepenuhnya oleh pihak lain. Berada dalam dirinya menjadikannya sebagai makhluk yang tidak berkesadaran. Dengan segala properti yang melekat dan tanpa celah atas definisi yang terberikan menjadi kesempurnaan bagi dirinya. Tidak ada yang mengritik dia sebagai dia, dia sempurna sebagai tembakau, kertas, kopi, korek api, dan buku, juga nyamuk.

Sedang keberadaan yang ditentukan dengan kediriannya mengharus-hadir-jadikan dirinya sebagai siapa. Posisi ini mengejawantahkan kesadaran sebagai alat untuk menjadi. Manusia, hanya manusia yang memiliki kesadaran ini. Dengan sendirinya menuntut diri untuk memaknai dan menentukan keberadaannya. Dengan titik proses menjadi ini, manusia memiliki kekosongan yang ditandai dengan munculnya berbagai keinginan menjadi. Celah atas kekosongan ini menghadirkan ketidaksempurnaan sebagai anarkisme, komunisme, sosialisme, liberalisme, konservatisisme, atau fasisme.

Sartre, dalam Essay on Phenomenological Ontology, mendikotomi menjadi être en soi, keberadaan berada dalam kediriannya dan être pour soi, keberadaan ditentukan dengan kediriannya.

Jiwa-jiwa mangsaku yang sedang ketakutan memberikanku kekuatanEnergi yang berasal dari sensasi perburuanItu adalah hadiah yang berbahaya, setara dengan kematian, kan? Benar, dalam berburu, semakin tangguh mangsamu, semakin segar kemudaan yang bisa kau dapatkan.

Kelangsungan hidup menggantung pada kehidupan yang lain mengimbas pada pertarungan antara aku dan yang liyan. Keberadaan akan siapa yang mengentara antara être en soi dan être pour soi. Manusia pada tataran ego, bagaimana untuk memenuhi kebutuhannya didapat dari hasil pencurian dari kehidupan yang lain.

Hal yang menyengaja ketika kita menggorok-sayat sapi untuk diambil dagingnya dijadikan bakso yang mengandung protein; memburu-bunuh nyamuk karena keberadaannya kita tentukan sebagai pengganggu; membumihanguskan rumah kuman beserta taman bermainnya yang bersemayam pada permukaan tubuh kita demi alasan konyol yang bernama kesehatan; menebang-iris pohon tembakau untuk dijadikan rokok sebagai suplemen peningkat daya melamun; mencacah-lumat habis-habisan pepohonan untuk diproses menjadi kertas.

Kecenderungan untuk menghilangkan rasa sakit; menyingkirkan hal yang membahayakan; menyisihkan gangguan. Penghindaran ini merupakan dorongan naluriah yang muncul ketika dihadapkan dengan peniadaan di luar dirinya—kematian. Begitu pun sebaliknya, ketika dihadapkan pada kehidupan—dorongan untuk bertahan hidup.

Aku ingat dulu pernah diserang gerilyawan dari salah satu negara, itu sekitar tahun tujuh puluh atau delapan puluhan. Waktu itu juga sama. Rekanku yang duduk tepat di sampingku tertembak. Dia yang sebelumnya menangis dan histeris tidak keruan, tahu-menahu tinggal onggokan daging. Darahnya berceceran dan menetes di kepalaku, baunya pun menempel di sekujur tubuhku. Jangan salah paham, sebenarnya itu kenangan indah di masa lalu. Saat kejadian itu, aku merasa hidup. Perasaan itu lebih kuat dari yang biasa aku rasakan.

Diri yang ada dengan keberadaannya menyata hadir sebagai ada, tidak serta-merta menjelma apa atau siapa. Penghadiran ada sebagai “apa-siapa” bertolak dari “kedirian” dengan modal yang dimilikinya. Raga sebagai bentuk dan naluri, didorong dengan kesadaran menjadi variabel penentu. Sebagai apa diri atas realitas yang hadir.

Sosok diri dengan kesendiriannya tentu memosisikan sebagai être pour soi. Namun akan bagaimanakah jika diri berdiri bersama-berbareng dengan être pour soi lainnya? Bagaimana posisi diri di atas diri yang liyan? Apakah diri yang hadir merupakan akumulasi dari bentukan-bentukan yang sudah ada? Apakah diri ini dalam relasinya harus mengobjekkan diri yang liyan, supaya berdiri sebagai diri yang otentik?

Descartes pernah berkata bahwa orang yang tidak bisa membuat keputusan, tidak akan mampu melakukannya karena hasrat yang terlalu besar, atau karena kurangnya kecerdasan.

Menjadi diri yang otentik, tentu harus membebaskan atas penentuan diri dari yang liyan. Apa-siapanya diri merupakan murni dari pemaknaan akan dirinya. Pemosisian seperti ini akan melahirkan nilai dan norma bukan dari bentuk pencangkokan dari yang sudah ada, dari pemilik nilai, pemilik modal. Pengotentikan atas diri ini menyebab hal pada keragaman—masing-masing diri yang otentik, menolak pada bentuk penyeragaman sepihak.

Pada tataran praksis—ketika menyikap-lihat, diri yang otentik tidak serta-merta mengamini bahwa manusia yang utuh itu adalah yang selalu mendapatkan nilai A di sekolah, menjadi ketua kelas di kampus, memakai laptop canggih dengan merek Fujitsu, mengantongi pujian sebagai penulis terbanyak di media, mendapat gelar bergengsi mahasiswa terlama di kampus, dan sebagainya, sebagaimana dikonstruksikan oleh sistem tatanan norma yang berlaku.

Menurutku, ketika seseorang bertindak berdasarkan kehendaknya sendiri, ia memiliki nilai yang tinggi. Karena itu, aku bertanya kepada banyak orang tentang kehendak mereka yang sebenarnya dan mengamati tindakan mereka selama ini.

Diri yang hadir bersamaan dengan diri yang lain—pada kasus keotentikan, satu sama lain saling mencerabut akan keberadaannya. Mengandai pada aku yang sedang menonton film sendirian. Keberlangsungan itu atas apa yang aku cerap lewat mata dan pendengaranku menjadi objek. Jadilah relasi utuh antara aku sebagai subjek dan film sebagai objek—hirarkis.

Ketika seseorang datang ikut menonton, situasi relasi menjadi lain. Apakah aku masih berada dalam posisi subjek? Mengharus pada ideal—satu subjek, pada akhirnya perebutan posisi ini berlangsung hingga salah satunya menjadi objek. Munculnya perasaan segan, kikuk, dan malu tanpa disadari merupakan awal menuju proses pengobjekan diri. Pada akhirnya posisiku telah diambil alih, seseorang telah merebut tontonanku, menjadikanku sebagai yang ditonton.

Setiap diri punya elastisitas yang dibangun-persiapkan untuk menghadapi diri yang liyan. Posisi saling berhadapan ini menghadirkan yang liyan sebagai lawan yang harus dilayani. Bilamana kalah, maka menjelma sebagai budak, pengikut. Sedang bilamana sebanding, maka diri menjelma sebagai kawan, rival.

Memangnya bagaimana kau mendefinisikan kejahatan itu sendiri? Apa dengan dominator yang kau pegang? Apa sistem sibil yang mengendalikan senjata itu yang memutuskannya. Segala reaksi vital dalam tubuhku pasti menegaskanku bahwa tindakanku adalah tindakan yang sehat dan wajar. Orang-orang seperti kalian tidak akan bisa mengukur kejahatanku. Jika memang ada orang yang mampu menyelidikku. Ia adalah, mereka yang mampu membunuh berdasarkan naluri mereka sendiri. Atau aku akan terbunuh, bukan oleh alat, tapi oleh nalurimu sendiri. Keputusan itu pasti sungguh mengagumkan.

Diri dengan keberadaan yang lain, menuntun pada tatanan. Mengupaya pada pengondisian dari tiap diri yang cenderung bebas. Kesepakatan-kesepakatan dirasa perlu untuk mengontrol diri yang heterogen. Dengan cita-cita menghadirkan tata kelola demi kepentingan bersama. Menjaga keharmonisan keberlangsungan hidup tiap diri di dalam satu ruang. Bentuk pengupayaan ini melahirkan sistem—norma, kebakuan.

Mengingat pada betapa pentingnya mempertahankan ego, karena merupakan akses pertama dari naluri namun harus berkompromi dengan yang lain—super ego, disadari bahwa bentuk negosiasi yang terjadi dibutuhkan pengorbanan diri—altruis. Kelahiran sistem merupakan kumpulan dari pengikisan ego tiap diri.

Kesadaran akan altruisisme ini memosisikan sistem sebagai yang harus dilindungi bersama. Dengan demikian memuncul kemungkinan untuk senantiasa diperbaharui. Pembaharuan sistem terjadi seiring dengan penyimpangan-penyimpangan—anomali—yang terjadi. Anomali ini merupakan hal naluriah dari sifat être pour soi. Menganggap kedirian senantiasa pada proses untuk menjadi.

Akan lain hal jika menganggap sistem sebagai tatanan baku secara absolut, tidak bisa diganggu gugat. Kesadaran yang muncul menjelma-hadirkan sistem sebagai pelindung. Dengan demikian, penghukuman berasaskan sistem menjadi kebanggaan tersendiri karena hal itu merupakan bentuk pengakuan akan keberadaan dirinya. Sedangkan anomali-anomali akan dibumihanguskan karena keberadaannya berada di luar sistem yang berlaku.

Epilog

Psycho-pass, film serial yang mencoba menyajikan tatanan masyarakat di mana kondisi emosi dan kecenderungan pribadi manusia bisa diukur. Dengan demikian segala macam kecenderungan dikontrol, dicatat dan diawasi oleh sistem. Sistem yang diterapkan mendekati gambaran ideal dari sistem birokrasi gagasan Max Weber. Birokrat yang ideal adalah mereka yang melakukan tugasnya tanpa rasa sayang atau kasihan, tanpa kepentingan pribadi, maupun amarah, cinta, dan benci.

 

PSYCHO-PASS サイコパス (Saiko Pasu) | Episode 11 Saint’s Supper (Seija no Bansan/聖者の晩餐) from 22 List of episodes | Genre Dystopia, Crime fiction, Cyberpunk | Directed by Naoyoshi Shiotani, Katsuyuki Motohiro | Produced by Koji Yamamoto (Chief), George Wada, Kenji Tobori, Wakana Okamura | Written by Gen Urobuchi | Music by Yugo Kanno | Studio Production I.G | Licensed by Madman Entertainment, Funimation, Manga Entertainment | Network: Fuji TV (Noitamina) | Original run: October 12, 2012 – March 22, 2013

*) Penulismahasiswa filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Setahu redaktur, pernah kuliah UIN Sunan Gunung Djati Bandung, menjadi Ketua Umum LPIK periode 2010-2011. Di tempat kuliahnya kini, bergiat di Teater eSKa dan LPM Arena.

Contekan penunjang

  • Freud, tentang id, ego, dan super ego.
  • Sartre, tentang eksistensi mendahului esensi, orang lain adalah neraka, être en soi dan être pour soi.
  • Weber, tentang tatanan masyarakat ideal.
    Print       Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like...

Mendudukan Makna Wahyu Memandu Ilmu

Read More →
%d bloggers like this: