Loading...
You are here:  Home  >  Linguistik  >  Basa Sunda  >  Current Article

Upaya untuk Memetakan Strategi Kebudayaan Masyarakat Sunda

By   /  March 3, 2016  /  No Comments

    Print       Email

sumber gambar: http://baabun.com/

 

oleh: Ahmad Gibson Albustomi**

A. Latar Asumsi

Dalam perspektif klasik, kebudayaan lebih dilihat dalam wujud artifak kebudayaan, koleksi benda, barang-barang kebudayaan (kata benda). Kini, kebudayaan lebih dilihat sebagai kata kerja, dalam arti kegiatan (aktivitas, proses kreasi) yang membuat benda-benda (artifak) kebudayaan. Kebudayaan kini lebih bermakna sebagai cerita tentang perubahan-perubahan: riwayat manusia yang selalu memberi wujud baru kepada pola-pola kebudayaan yang sudah ada (C. A. van Peursen, Strategi Kebudayaan, 1976).

Dengan demikian, ketika kita melihat suatu artifak kebudayaan, yang kita lihat bukan hanya tampilan karya budaya tersebut sebagai sesuatu yang bersifat otonom, terlepas dari konteks yang melingkupinya—seperti kondisi masyarakat, alur rentang sejarah, dinamika politik, ekonomi, agama- keyakinan, filsafat, dan lain sebagainya. Kebudayaan tidak pernah berhenti di satu titik sepi pojok sejarah. Kebudayaan selalu terlahir sebagai kristalisasi dari berbagai inspirasi yang mendorong dan memberi spirit kepada penciptanya. Dan, selanjutnya kebudayaan itu memberi dan memancarkan kekuatan inspiratif bagi lahirnya kebudayaan lain dan selanjutnya. Seperti sarang laba-laba, saling terhubung dan saling menguatkan. Namun demikian, pada setiap bagiannya terdapat unsur-unsur khas yang mencirikan dan menjadi stempel bagi masyarakat dan zamannya.

Dalam ketersambungan dan keterhubungan tanpa henti itu, dan karakteristik mandiri setiap masyarakat dan zamannya, bila kita amati secara seksama, akan membentuk suatu peta yang khas, suatu pola yang teratur dan dinamis.

Van Peursen, sebagai contoh, menggambarkan pola kebudayaan manusia dalam tiga pola perkembangan yang saling berhubungan dan berkelanjutan. Namun demikian, pola perkembangan tersebut tidak dalam pola bangun muncul-lenyap, melainkan muncul hal baru. Akan tetapi pola lama masih tetap hadir dan memberikan evaluasi dan kritik terhadap pola-pola baru yang muncul. Pola- pola baru itu muncul pada dasarnya sebagai suatu hasil kritik dan evaluasi terhadap pola kebudayaan sebelumnya. Akan tetapi, kelahirannya tidak pula luput dari evaluasi dan kritik dari pola sebelumnya.

Van Peursen memaparkan bagaimana pola-pola itu sebagai suatu strategi (kebudayaan) reposisi “Subjek-Objek” dalam sejarah perkembangan kebudayaan manusia. Relasi antara sesama manusia, alam, serta kekuatan-kekuatan yang melingkupinya. Kebudayaan dan perkembangan kebudayaan pada dasarnya lahir dari dinamika perubahan cara pandang manusia terhadap dirinya, sesama manusia, alam, dan kekuatan-kekuatan yang melingkupinya. Dalam konteks itulah kebudayaan hadir sebagai sesuatu yang dinamis, tidak statis. Relasi yang kemudian dirumuskan dalam relasi: Mitik, Ontologis, dan Fungsional.

Untuk memahami konstruksi strategi kebudayaan, kita tidak bisa hanya memahaminya dari cerita temuan sejarah (ilmiah), akan tetapi dari khazanah cerita rakyat (legenda dan, bahkan, mitologi) yang hidup dalam ingatan masyarakat Sunda, sejarah ingatan. Karena apa yang membentuk tata pikir, perilaku, dan sistem nilai yang hidup dalam masyarakat bukan hanya peristiwa yang sesungguhnya, akan tetapi terutama penafsiran masyarakat atas peristiwa dan informasi yang diterimanya memalui media yang ada dan populer pada masa itu. Hal-hal itu (sistem nilai, tata pikir, dan prilaku) diwariskan dan masih membekas sampai sekarang. Perspektif orang (masyarakat) Sunda tentang kesundaannya tidak bisa terlepas dari warisan masa lalunya.

Suatu masyarakat bagaikan seorang manusia, dan kebudayaan serta tradisinya adalah perjalanan hidup, kreativitas, dan karakter kepribadiannya. Masyarakat tidak bisa dipisahkan dari sejarah masa lalunya dan dipenggal-penggal-pisahkan antara satu babak dengan babakan lainnya.

B. Membaca Pola Kebudayaan Masyarakat Sunda dalam Rentang Sejarahnya

1. Pertemuan Kebudayaan Sunda-lndia Sunda-lndia (Abad 1 – 6,7 M, dan Abad 7- 14,15; 723- 1579)

Bila membaca sejarah masyarakat Sunda, sejarah kebudayaan Sunda, selalu diawali oleh hadirnya kebudayaan baru dalam masyarakat Sunda yang dibawa oleh pendatang dari India, pada perkisaran abad 1-4 Masehi. Yang diawali oleh munculnya kerajaan Salakanagara (negeri perak) yang bermula dari pernikahan Dewawarman (pendatang, pedagang dari India) dengan Pohaci Larasati (putri Aki Tirem). Aki Tirem, alias Sang Aki Luhur Mulya, adalah penghulu atau penguasa daerah pesisir barat Jawa Barat. Setelah Aki Tirem meninggal, Dewawarman menggantikan kedudukan Aki Tirem menjadi penghulu atau penguasa daerah itu, dan selanjutnya mendirikan kerajaan yang diberi nama Salakanagara (berdiri tahun 130 M hingga tahun 362 M).

Persoalannya adalah, apakah Salakanagara merupakan sistem kerajaan pertama di Tatar Sunda? Apakah sistem masyarakat sebelum itu tidak mengenal konsep kerajaan, kecuali semacam sistem kesukuan yang dipimpin oleh seorang kepala suku, penghulu, kepala daerah, dan bukan seorang raja? Ini berkenaan dengan asal mula kebudayaan kerajaan, sistem pemerintahan. Selanjutnya, bagaimana proses asimilasi kebudayaan yang berbeda ini terjadi, baik dalam hal tradisi pemerintahan (dari sistem pemerintahan lama ke sistem pemerintahan baru), asimilasi simbol-simbol tradisi, keyakinan, seni dan lain sebagainya? Tradisi Hindu yang dibawa oleh pendatang dan menjadi penguasa baru di Tatar Sunda ini secara bertahap menjadi ciri khas yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Kalau pun mungkin sebagaimana diduga oleh para ahli bahwa tradisi Hindu hanya berlaku di kalangan istana.

Kerajaan selanjutnya adalah Tarumanagara (358-669 M), raja pertamanya adalah Jasingawarman. la adalah seorang maharesi dari Salankayana di India yang mengungsi ke Nusantara, karena daerahnya diserang dan ditaklukkan Maharaja Samudragupta dari Kerajaan Magada. la adalah menantu Raja Dewawarman VIII, raja terakhir Salakanagara.

Sementara itu, data sejarah yang menceritakan tentang Kerajaan Sunda terungkap dalam prasasti Kebon kopi. Kerajaannya adalah kerajaan Galuh, atau Sunda-Galuh (669-1579). Raja pertamanya adalah Tarusbawa, menantu Linggawarman (Raja Tarumanagara terakhir).

Persoalan mendasar dari kelahiran kerajaan-kerajaan tersebut adalah bagaimana strategi kebudayaan dalam mempertemukan dua sistem kebudayaan, yaitu: Kebudayaan India (notabene Hindu/Buddha) dan kebudayaan asli masyarakat Sunda?

Dalam wacana terdahulu dalam pembicaraan ini, ada kecenderungan yang berasumsi bahwa masyarakat Sunda “sama sekali” (hampir tidak) terpengaruh oleh sistem budaya India, Hindu-Buddha. Hal ini terutama, pada saat itu belum ditemukan artefak-artefak Candi yang menjadi ciri khas kebudayaan India (Hindu/Budha). Dan kini ditemukan sejumlah Candi di Tatar Sunda, asumsi tersebut tentunya harus segera dirumuskan ulang. Persoalan ini tersirat pula pada struktur kosmologi Sunda yang di dalamnya terdapat unsur-unsur yang mengindikasikan adanya pengaruh Hindu. Demikian juga dengan keberadaan tradisi pewayangan yang alur ceritanya jelas-jelas bersumber dari cerita Hindu.

Dalam konteks hadirnya kerajaan Salakanagara dan Tarumanagara, saya pernah bertanya kepada Prof. Hasan Jafar (Guru Besar Arkeologi UI), apakah sejarah dua kerajaan tersebut bisa disebut sebagai sejarah Kerajaan India di Tatar Sunda? Atau tetap saja harus dilihat sebagai sejarah Kerajaan Sunda? Pada saat itu, Prof. Hasan Japar kesulitan memastikan jawaban.

Kerajaan Galuh (di wilayah timur Jawa Barat, Ciamis) dan Kerajaan Sunda (wilayah barat Jawa Barat)—yang kadang berpisah, dan kadang menyatu, tampaknya lebih bisa dilihat sebagai kerajaan yang betul-betul mengusung kebudayaan (keyakinan dan tradisi) “Sunda” yang memberikan dasar pada sistem kebudayaan Sunda selanjutnya. Oleh karena itu, bila kita bertanya tentang akar budaya klasik Sunda, selalu merujuk pada kedua kerajaan tersebut, dan terutama pada Kerajaan Pajajaran, atau Pakuan Pajajaran (Gabungan terakhir dari kedua kerajaan Galuh dan Sunda), yang didirikan oleh seorang raja yang sangat dikenal dan melegenda dalam masyarakat Sunda, yaitu Prabu Siliwangi.

Itu adalah babak awal dinamika sejarah kebudayaan Sunda, pergumulan antara kebudayaan dan tradisi Sunda klasik dengan kebudayaan dan tradisi India, Hindu-Buddha. Yang, bila didasarkan oleh munculnya kerajaan Sunda yang ditandai oleh lahirnya kerajaan Galuh (Ciamis) dan Sunda (Bogor), tampak bahwa dominasi India (Hindu-Buddha) bisa “dinetrlalisir.” Walaupun tentunya bukan berarti konstruksi kebudayaan India hilang lenyap begitu jasa. Kebudayaan India meresap dan menjadi pilar serta fondasi yang cukup kokoh dalam pembentukan kebudayaan Sunda yang baru saat itu.

2. Pertemuan Kebudayaan Sunda-lslam

Kehadiran masyarakat Islam di Tatar Sunda dari kalangan istana, ditandai oleh hadirnya tokoh Haji Purwa yang nama aslinya adalah Bratalegawa atau Haji Baharudin Aljawi, putra kedua Raja Galuh Pangadiparamantajayadewabrata atau Sang Bunisora yang bertahta di Kerajaan Sunda (1357- 1371 Masehi). Dan oleh hadirnya tiga serangkai Pangeran Walangsungsang Cakrabuana (Haji Abdullah Iman, Mbah Kuwu Cakra Buana) pendiri Caruban Nagari, Prabu Kian Santang (Raja Sangara), dan Lara Santang (Hajjah Syarifah Mudaim), yang merupakan anak-anak dari Prabu Siliwangi dengan istri keduanya, Nyi Subang Larang atau Kubang Kencana Ningrum, putri dari Ki Gedeng Tapi (Syah Bandar di Cirebon) yang juga santri Syekh Kuro atau Syekh Hasanuddin dengan pesantrennya di Karawang. Demikian juga dengan keberadaan tokoh Syaikh Datu Kahfr, yang konon menjadi guru ketiga tokoh tersebut. Ketiga tokoh tersebut selanjutnya mengerucut pada dua tokoh, yaitu Syarif Hidayatullah pendiri kesultanan Cirebon-lslam, putranya yaitu Hasanuddin (Sultan Banten).

Relasi Sunda-lslam, pada awalnya (konon) tidak menimbulkan maslah yang berarti, apalagi dengan terjadinya pernikahan antara Nyi Subang Larang dengan Pamanahrasa atau Prabu Siliwangi. Persoalan baru muncul ketika relasi itu bergeser menjadi persoalan kekuasaan-politik, ketika Syarif Hidayatullah memproklamirkan Cirebon sebagai Kesultanan yang terpisah dari Pajajaran (Sunda, Pakuwan-Galuh).

Mitologi dan atau legenda yang mengemas relasi Sunda-lslam ini tampak pada mitologi pertemuan antara Kian Santang dengan Sayidina Ali. Dan legenda tentang pengejaran yang dilakukan Kian Santang terhadap Prabu Siliwangi, untuk diislamkan. Legenda dan mitologi ini memiliki versi yang sangat beragam (berbeda) di tiap wilayah.

Mitologi pertemuan Kian Santang dengan Sayidina Ali bisa ditafsirkan sebagai upaya untuk menemukan relasi mitologis antara Sunda dengan Islam, pertemuan antara tokoh muda Sunda yang sakti, dengan tokoh muda Islam yang juga sakti.

Bersamaan dengan semakin menurunnya pamor Kerajaan Pajajaran, tegak dan semakin kuat pula Kesultanan Cirebon-Banten di Jawa Barat. Menjadi salah satu pusat kebudayaan dan pengetahuan di Tatar Jawa. Sejarah Kesultanan Cirebon-Banten merentang dari abad 15-18 M.

3. Sunda-lslam-Mataram

Pendudukan Mataram lslam di Tatar Sunda, diawali di penghujung abad ke-17 M yang melatarbelakangi lahirnya sejumlah Kabupaten di Jawa Barat, menggantikan Kerajaan dan Kesultanan Sunda di Jawa Barat. Struktur yang digunakan oleh Mataram di Jawa Barat adalah menggunakan jalur keturunan Raja Pajajaran, kecuali di wilayah Cirebon dan Banten.

Pendudukan Mataram di Jawa Barat tidak sampai satu abad, dilanjutkan oleh pendudukan Belanda selama tiga abad lebih.

 

*) Tulisan ini disajikan dalam Rumpi Ririwa LPIK, September 2015.

**) Penulis, dosen Teologi dan Filsafat UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

    Print       Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like...

Politik Tani di Indonesia

Read More →
%d bloggers like this: