Loading...
You are here:  Home  >  Studi Islam  >  Current Article

Penulisan Sejarah: Antara Sunni dan Syiah

By   /  March 18, 2016  /  1 Comment

    Print       Email

sumber gambar: http://worldshiaforum

Oleh: Ahmad Sahidin

Salam. Tulisan ini melanjutkan kajian terdahulu tentang penulisan biografi Nabi Muhammad Saw antara Sunni dan Syiah, yang memiliki perbedaan. Tidak hanya penulisan sejarah Nabi Muhammad Saw, juga dalam penulisan sejarah Islam secara umum.

Sedikit berbagi, dan ini juga hanya sekadar kajian awal.  Barangkali nanti ada yang bisa melanjutkan kajian ini.

Sunni

Saya memahami berdasarkan pembacaan atas buku-buku sejarah. Bahwa dalam penulisan sejarah Islam versi Sunni modern, biasanya dimulai dari Nabi Muhammad kemudian periode Khulafa Rasyidun (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Imam Ali bin Abi Thalib), daulah-daulah Islamiyah beserta kemajuan umat Islam dalam peradaban dan kebudayaan Islam, dan gerakan pembaruan yang dipelopori tokoh Islam modern seperti Muhammad Abdul Wahab, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Muhammad Ali Jinnah, Muhammad Iqbal, dan perubahan-perubahan yang terjadi di negeri mayoritas umat Islam seperti Turki, Indonesia, Iran, Mesir, Arab Saudi, Pakistan, dan lainnya.

Dalam penulisan sejarah Islam yang disusun versi sejarawan Sunni, (pemabakan sejarah, red.) meliputi masa klasik, pertengahan, dan modern. Kalau dilacak lagi pembabakan ini lebih mirip bangunan sejarah yang dibangun oleh sejarawan-sejarawan Barat, seperti Marshal GS Hodgson dan Ira M. Lapidus.

Syiah

Sementara dalam versi Syiah, setelah pembahasan historis Nabi Muhammad Saw, dilanjutkan periode Imamah. Dalam hal ini, diuraikan kisah para Imam Ahlul Bait dimulai dari Imam Ali kemudian Imam Hasan dan Imam Husain, terus sampai periode gaibnya Imam Mahdi Al-Muntazhar pada 230 H/875 M, yang sezaman dengan masa berkuasanya Daulah Abbasiyah.

Kemudian periode marjaiyah, yaitu masa wewenang agama dipegang para ulama terpilih yang berlangsung hingga muncul Imam Mahdi. Periodisasi versi Syiah ini saya kira lebih bernuansa teologis, karena disesuaikan dengan hadis yang menyebutkan khalifah yang melanjutkan risalah dan syiar Islam dari keturunan Rasulullah Saw. **

 

Penulis, mahasiswa magister Prodi Sejarah dan Kebudayaan Islam, Program Pasca Sarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

 

Gambar utama: tampak bawah kubah masjid Agung Cordoba (Sumber:  islamic-arts.org)

    Print       Email

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like...

Islam dan Soal Penggusuran

Read More →
%d bloggers like this: