Loading...
You are here:  Home  >  Opini  >  Current Article

Desa: Miniatur Peradaban

By   /  October 15, 2016  /  No Comments

    Print       Email

sumber gambar: http://narasidesa.com

Oleh: Nurhidayat

Peradaban dari masa kuno sampai sekarang tak terlepas dari proses perkembangan kebudayaan yang heterogen. Proses ini dapat dilihat dari miniatur pada suatu wilayah atau tempat yang memungkinkan tumbuhnya sebuah kehidupan. Secara geografis, tentunya suatu wlayah itu bisa berupa negara, daerah, dan sub-subnya sampai kepada ruang lingkup yang lebih kecil. Dilihat dari luasnya suatu peradaban, desa merupakan ruang lingkup paling kecil. Ada juga cakupan yang lebih luas, seperti negara atau kerajaan, tergantung sistem yang ada dan disepakati oleh masyarakat wilayah tersebut.

Di desa, masyararakat memiliki ciri khas dalam menciptakan kebudayaan. Bisa berupa kesenian, bahasa maupun mata pencahariannya. Umpamanya, di desa Pasigaran, kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang. Desa ini terkenal dengan kesenian tarawangsanya. Sehingga, banyak orang melakukan penelitian atau mencari tahu seperti apa kesenian tarawangsa di desa ini.

Sementara itu, asumsi mengenai desa merupakan miniatur dari suatu peradaban adalah beragam kebudayaan yang hadir dalam suatu desa. Demikian juga dengan seluruh sumber kehidupan yang ada di kota—seperti tanaman yang dihasilkan dari sektor perkebunan—diproduksi dari desa-desa. Ini pun, berdasarkan pada kebiasaan masyarakat desa yang senang dengan bercocok tanam. Dengan meninjau realita tersebut maka bisa dikatakan, jika sebuah desa meruapakan kolam penampungan sebagai muara dari berbagai kehidupan di kota. Maka, hal ini bisa dikatakan jika peradaban lahir di desa.

Setelah meninjau secara logis dan teoritis pengasumsian desa sebagai peradaban, maka perlu ditinjau juga substansi dari beradaban yang ada di desa tersebut. Dalam hal ini tidaklah perlu meninjau masa lalu terlebih dahulu untuk dijadikan sebagai cerminan, karena disini tidak akan membandingkan peradaban masa lampau dengan sekarang, akan tetapi lebih kepada pendeskripsian peradaban yang ada pada dewasa ini, dengan meninjau keluhungan dan kenistaannya. Dengan mata telanjang dan tidak perlu menggunakan berbagai macam teori dari para pemikir, dinamika dan realita peradaban saat ini sudah dapat dilihat dengan lensa mata telanjang secara jelas.

Peradaban di sesa yang akan dibahas detik ini sangatlah mengagumkan dan mengerikan. Hal itu diungkapkan berdasarkan kondisi peradaban yang sangatlah jauh dari nilai nilai norma kyang sudah disidangkan secara tersirat oleh eksekutor peradaban tersebut. Adapun ada ungkapan sangat mengaggumkan, didasarkan pada perilaku para eksekutor peradaban yang masih berjalan pada rel-rel norma yang telah disepakati dalam persidangan tersirat tersebut, akan tetapi hal semacam itu sangatlah minim pada dewasa ini.

Poin pertama yang akan dibahas, yaitu yang sangat mengerikan walaupun diatas disebutkan terlebih dahulu yang sangat mengagumkan, tapi tidak masalah karena yang mengagumkan itu sangat minim.  Hal yang mnegrikan dapat dimulai dibahas dengan melihat contoh kecil ini.  Dalam kehidupan masyarakat atau katakanalah peradaban desa itu, sudah tentunya memilki norma-norma yang sudah disepakati secara tersirat, seperti soapn santun atau secara kerennya bisa disebut etika.

Etika yang termuat dalam adat istiadat suatu kampong tentunya sudah dimofikasi sedemikian rupa dengan tujuan positif yaitu dapat menciptakan kehidupan yang normative dengan etika tersebut. Harapan dari penciptaan etika tersebut dewasa ini tidak sesuai dengan yang digharapkan, walaupun pada decade-dekade sebelumnya mungkin bias terlaksanakan dengan baik, akan tetapi setelah pengkontaminasian budaya-budaya dari luar terhadap budaya-budaya yang ada di kampong atau desa tersebut, maka mulailah nilai-nilai luhur yang selama ini dipertahankan dan dijalankan mulai terkikis dan terdegradasi oleh budaya-budaya baru yang masuk pada daerah tersebut sehingga seiring berjalannya waktu norma-norma yang terdapat dalam kebudayaan kampong selebihnya peradaban desa tersebut akan musnah.

Adapun hal yang dikatakan mengagumkan di muka taadi, adalah kebudayaan yang masih bias mempertahankan eksistensinya dengan tidak meninggalkan nilai-nilai normatif positif yang sudah dibentuk oleh para peletak batu pertama kebudayaan di daerah tersebut.

Untuk mengsfesifikasikan pembahasan kita ambil saja contoh dari negeri ini yaitu Indonesia. Negara kepulauan yang memilki beragam budaya dan bahasa dengan berbagai macam corak krhidupan masyarakat yang berpariatif sudah masyhur dengan keluhuran budayanya. Deskripsi seperti itu memang tidak dapat dipungkiri, akan tetapi seiring berkembangnya kehidupan manusia dari zaman kuno bahkan zaman pra-kuno sampai postmodern ini, nilai-nilai normative yang terkandung di dalam kebudayaan setiap daerah yang ada di negeri ini mulai terkontaminasi dengan kebudayaan-kebudayan asing yang di dalamnya berisi norma-norma yang berkembang di tempat kebudayaan itu berasal.

Contoh yang diambil mengenai realita yang telah dipaparkan diatas tak usah dari yang maksimatur atau katakanlah negara, akan tetapi dari yang miniature terlebih dahulu. Karena ketika miniaturnya sudah terbaca gambarannya maka yang maksimatur tidak akan jauh dari miniatur. Contoh miniatur yang akan diambil yaitu dari desa, sesuai dengan inti pembahasan yaitu desa (miniature peradaban). Peradaban desa yang ada di Indonesia dewasa ini sudah mulai terkontaminasi dengan budaya-budaya asing yang masuk ke desa tersebut. Nilai-nilai normatif positif seperti sopan santun dan sapa menyapa mulai hilang tergantikan dengan budaya yang bernuansakan teknologi, sehingga sangat jarang bahkan bias dikatakan tidak ada interaksi langsung antara masyarakat desa tersebut dikarenakan kecanggihan teknologi yang sudah menjadi jantung kehidaupan masyarakat tersebut. Aktifitas semacam itu tidak hanya berlaku dikalangan manusia dewasa saja, akan tetapi kaum muda bahkan anak-anak sudah diajarkan secara taidak langsung untuk membudayakan hal tersebut. Hal inilah yang dianggap memperihatinkan.

Dengan contoh singkat di atas maka dapat disimpulkan, ketika miniatur peradaban suatu bangsa sudah sangat memperihatinkan diakrenakan sudah jauh dari nilai-nilai normatif posirtifnya, maka tidak akan jauh maksimaturnypun akan seperti itu. Sedikit pesan dari coretan ngawur ini, ketika ingin memperbaiki peradaban suatu bangsa maka perbaikilah miniatur peradaban bangsa tersebut.

    Print       Email
  • Published: 2 years ago on October 15, 2016
  • By:
  • Last Modified: December 30, 2017 @ 4:25 am
  • Filed Under: Opini, Refleksi
  • Tagged With: ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like...

Kids Jaman Now Tak Dikoyak-koyak Sepi, Ia Dikoyak-koyak Galau (Risalah Serius di Sekitar Sastra dan Filsafat)

Read More →
%d bloggers like this: