Loading...
You are here:  Home  >  Sastra  >  Current Article

Corak Sastra Realisme-Sosialis

By   /  December 25, 2017  /  No Comments

    Print       Email
sumber gambar: merdeka.com

sumber gambar: http://merdeka.com

Oleh: Ryan Zulkarnaen*

Bermula pada 1905, Realisme-sosialis lahir sebagai bentuk praktik sosialisme di bidang kreasi-sastra. Muasalnya, ketika Marxim Gorki menulis Notes on Philistine ditangkap akibat telah menyebarkan tulisan proklamasi yang menentang  pemerintah berhubung dengan peristiwa “Minggu Berdarah” 22 Januari 1905. Upaya penangkapan itu tak berlangsung lama ketika mendengar protes-protes dari Internasional atas penangkapannya. Sedari itu Uni Soviet di bawah pimpinan Lenin melihat reaksi itu sebagai pentingnya kekuatan kultural pada tubuh masyarakat. Maka untuk memenangkan cita-cita sosialisme, sastra harus berafiliasi dengan politik; sastra harus menjadi bagian daripada kepentingan umum kaum proletariat dan sastra menjadi bagian dalam garapan partai gabungan sosial-demokratik yang terorganisasi dan terencana. Tujuan ini tak lain merupakan bagian integral daripada kesatuan perjuangan umat manusia dalam menghancurkan penindasan, atas penghisapan rakyat pekerja dalam menghalau imperialisme-kolonialisme.

Berbicara istilah ‘Realisme-Sosialis’ merupakan istilah yang menunjuk ke aliran realisme, yakni aliran kesusastraan pada abad ke-19 yang berorientasi pada pengamatan dunia nyata. Aliran ini memiliki khas gaya naratif, dan ciri penulisan realistik ialah memberikan informasi objektif tentang kenyataan zaman kini maupun masa lampau. Penulis aliran ini melukiskan secara serius masalah, hubungan, kejadiaan sehari-hari dan melukiskan manusia dalam kedudukan sosial. Sehingga dengan sendirinya, tulisannya berupa kenyataan yang dikonstruksikan berdasarkan sudut pandang pengarang tentang kenyataan, memilih dan memilah bahan-bahannya, berikut dengan pemilihan tokohnya.

Dunia nyata berperan sebagai objek mimesis dari realisme. Novel realistik menyajikan hal yang koheren sebagaimana dunia nyata. Koherensi sastra ini tercipta melalui berbagai sarana seperti penceritaan, dan pemeran utama. Contoh aliran realisme dengan pemeran utama yang diliputi pelbagai masalah dan pertantangan adalah roman Bumi Manusia (1998). Pramoedya menggambarkan tokoh pribumi, Minke berketurunan bangsawan yang banyak bergaul dengan bangsa Eropa. Ia bergaul dengan keluarga Robert Mellema, khususnya dengan seorang gundik, Nyai Ontosoroh dan anaknya Annelies sebagai wanita peranakan yang di kemudian hari dikawininya. Selain itu, ia pun sempat berurusan dengan polisi untuk memenuhi panggilan dari kota B, dan ia juga mesti menerima nasib nahas, ketika Robert Mellema meninggal. Tak berhenti di sana, ia mesti berpisah dengan Annelies saat umur pernikahannya masih sangat dini.

Setelah beranggapan mengenai aliran realisme sebagai suatu sarana pengamatan dunia nyata yang luas dan kompleks, dalam perkembangannya kata realisme ditambahkan dengan predikat “sosialis”, karena harus ditinjau secara sosialisme-ilmiah. Dalam artian, perkembangannya dalam dirinya mengandung arah penempuhan seorang sosialis dengan filsafat Materialisme-Dialektik-Historis. Kembali pada istilah ‘Realisme Sosialis’, ialah istilah yang terdiri dari dua kata yang dimajemukkan. Pengertian realisme sendiri adalah istilah kesenian dan sastra pada umumnya, bukanlah realisme yang dikenal di Barat. Realisme-sosialis ialah metode sosialis menempatkan realitas sebagai bahan global semata, untuk menyempurnakannya melalui pemikiran dialektik. Karena bagi realisme-sosialis, setiap realitas dan setiap fakta itu cuma sebagian dari kebenaran, bukan kebenaran itu sendiri. Realitas ialah satu fakta dalam perkembangan dialektik. Spesifiknya, reaslisme-sosialis dalam sastra mencakup teknik dan strategi, pengungkapan dalam sastra, baik plot, gaya bahasa, diksi,  metode penyampaian, konteks dan lainnya. Maka dari itu, tak lain bahwa reaslisme-sosialis ini sebagai alat perjuangan dan metode perlawanan untuk memenangkan sosialisme. Lantaran realisme-sosialis ialah istilah di bidang sastra yang melingkupi adanya front perjuangan.

Adapun watak dari gaya realisme–sosialis itu sendiri ada dua. Pertama, adanya militansi sebagai ciri tak kenal kompromi dengan lawan. Dalam hal ini, sastra realisme-sosialis tidak pernah memberikan kompromi dengan musuh-musuhnya, karena sastra bukanlah politik yang berusaha mendapatkan kemenangan semutlak atas lawannya. Kedua, meletakkan sastra sebaris dengan perjuangan politik sosialis, maka dia terus menerus melakukan offensive atas musuh-musuhnya dan pembangunan yang cepat di kalangan barisan.

Menurut Gorki dalam artikelnya He must be destroyed mengatakan bahwa If enemy does not surrender”. Dalam artikel tersebut Gorki membela humanisme-proletar, humanisme-rakyat pada urgensinya penghapusan pembagian manusia atas kelas-kelas dalam sosial tertentu. Pemisahan antara budak dan orang merdeka, melenyapkan setiap kemungkinan munculnya minoritas yang mengeksploitasi tenaga mayoritas yang produktif dan kreatif. Jadi watak sastra realisme-sosialis bukan saja nampak menganggap kapitalis adalah musuh manusia dan kemanusiaan, akan tetapi lebih jauh lagi dari itu, yakni militansinya mempertahankan dan mengembangkan semangat anti-kapitalisme internasional.

Adapun unsur-unsur setempat mengenai reaslisme-sosialis di Indonesia, yakni romantisme-patriotik dan realisme-kreatif atau revolusioner. Romantisme-patriotik beranggapan bahwa sastra realisme-sosialis adalah penganut paham sosialisme, sastra dari realisme-sosialis harus mengemban amanat penderitaan rakyat yang didasarkan pada kesadaran sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Bahkan sebelum penulis menggoreskan penanya, pengarang mesti menjawab lebih dulu dua pertanyaan ini; “untuk apa” dan “mengapa menulis”? Kemudian, materi-materi penulisan harus sesuai arah untuk menguntungkan sosialisme, yakni keadilan sosial.

Sementara itu, Realisme-kreatif atau revolusioner, mewujudkan dialektik perkembangan itu sendiri. Dengan kata lain, realitas sebagai bagian daripada kebenaran, sebelum dirangkum melalui perkembangan dialektik. Berarti pengarang harus mampu mengubah realitas sesuai perkembangan dan arah untuk sosialisme. Berdasarkan majalah Realisme di Perancis (1856-1867) sastra harus memiliki pengamatan maksimal dengan rekaan minimal.

Keduanya, antara romantisme-patriotik dan realisme-kreatif atau revolusioner merupakan batu alas keutuhan dari jiwa-jiwa sastrawan, integritas jiwa untuk menghalau timbulnya keterbelahan. Begitu pun para pengarang realisme-sosialis harus menguasai realitas, kata Mao dalam tulisan Goenawan Mohammad, seorang sastrawan penganut realisme-sosialis memang harus belajar hidup dengan kaum tani. Maksudnya, menguasai realitas bukan berarti dapat mengeksploitasi realitas beserta isinya, melainkan atas semacam keadilan yang menjadi barang langka. Maka dari itu, seorang pengarang yang kreatif harus mampu mengubahnya menurut tuntutan-tuntutan keadilan demi kepentingan masyarakatnya.

Tak hanya di Eropa, sastra-sosialis pun tumbuh di Indonesia sejak belasan tahun, kendati masih terbilang barang prematur. Salah satunya, Hikayat Siti Mariah  (1910) karya Hadji Moekti. Karya ini menggambarkan perbauran kompleks antara keadaan sosial, politik, dan ekonomi serta kultural yang saling campur aduk. Sehingga untuk mengidentifikasinya sebagai sastra yang bertendensi sosialis, bisa melewati telaah materialisme-dialektis-historis.

Dalam perkembangannya di Indonesia, mulai muncul sastra realisme-sosialis tahap pertama melalui Rasa Merdika sebuah novel oleh Mas Marco Kartodikromo. Novel tersebut menceritakan tokoh Sudjarno yang muak terhadap kehidupan birokrat-feodal dan menempuhnya melalui jalan politik.

Untuk menentukan ciri tertentu dalam sastra realisme-sosialis, berikut penggalan kutipan dalam kata pengantarnya, ‘’Maka kami tuliskan buku ini, dengan tiada memakai meja, artinya tertulis dengan tiduran di atas papan yang terlalu kerasnya, sedang dalam kamar itu pun hampir-hampir tak bisa melihatnya dengan terang karena kekurangan jendela’’. Kutipan tersebut menggambarkan kesaksian penulis melalui tokoh Sudjarmo semasa dalam suasana penjara, karena didakwa melanggar artikel 16 bis pidana, sampai ia didekam selama lima bulan. Yang menjadikan novel tersebut bernapaskan realisme-sosialis adalah tersematnya kesadaran akan sosial, ekomomi dan politik yang dialaminya pada zaman itu.

Adapun kutipan lain yang merepresentasikan keadaan bangsanya dalam masa penderitaan adalah berikut; ‘’Tetapi oleh karena alat-alat menghasilkan sekarang tergenggam dalam kekuasaan kemodalan, maka dengan begitu otomatis beberapa tanah-tanah kecil yang disebut ‘venderland’ itu lantas musnah. Sebabnya, yaitu: karena majunya mereka lalu membuka lain-lain tanah untuk jadi pasar-pasar jajahannya’’. Kutipan tersebut tak lain reaksi atas tindakan-tindakan kolonialisme terhadap pribumi.

Selain itu, roman Anak Semua Bangsa (1980) karya Pramoedya Ananta Toer, mengisahkan  periode di mana melakukan observasi dan turun ke bawah mencari serangkaian spirit lapangan dan kehidupan arus bawah pibumi yang tak berdaya melawan kekuatan Eropa. Berikut kutipan yang dapat merepresentasikan realisme-sosialisnya, ‘’Jangan agungkan Eropa sebagai keseluruhan, Di mana pun ada yang mulia dan jahat. Kau sudah lupa kiranya, Nak, yang kolonial selalu iblis. Tak ada yang kolonial pernah mengindahkan kepentingan bersama’’. Kutipan itu merepresentasikan keseluruhan dari isi buku tersebut, sangat jelas memiliki unsur realismenya yang memberikan informasi secara objektif mengenai masa lampau, lewat roman bernafaskan kesadaran sejarah dengan gaya penulisan naratif. Lebih jauh lagi, kutipan tersebut menampakkan watak realisme-sosialis yang militansi tanpa kompromi ‘’kolonial selalu iblis’’, dan materi  penulisan tersebut mempunyai arah pada sosialisme, yakni mengarah kepada keadilan sosial, ‘’Tak ada yang kolonial pernah mengindahkan kepentingan bersama’’.

Demikianlah corak sastra realisme-sosialis, yakni identik dengan paham sosialisme yang membicarakan manusia dan memperjuangkan kemanusiaan. Dengan memiliki watak militansi tanpa kompromi dan melihat realitas sebagai fakta dalam perkembangan dialektik. Sebagaimana estetika mengambil tempat terakhir dalam keadaan sosial, tidak pada aliran romantik. Menurut realisme-sosialis sendiri, estetika bergelimang jika didapatkan dari kemalaratan, kemiskinan, wabah, dan penindasan. Jadi estetika realisme-sosialis tidak terlepas dari pasang surutnya perkelahian untuk memenangkan sosialisme. Walaupun realisme-sosialis terasa adanya pengekspresian seni yang tidak bebas, jauh lebih bermanfaat jika seni dapat memikul tugas sosial. Sebagaimana Soe Hok Gie, “Apa ada yang lebih puitis selain membicarakan kebenaran?”

——-

Referensi:

Toer, Pramoedya Ananta, 2003. Realisme Sosialis. Jakarta: Lentera Dipantara.

Luxemberg, Jan van, Mieke Bal, dan Willem G. Westreijn; penerjemah Akhadiati Ikram, 1991. Tentang Sastra.  Jakarta: Intermasa.

Mohamad, Goenawan, 1993. Kesusastraan dan Kekuasaan. Jakarta: Pustaka Firadus.

——

*Penulis adalah mahasiswa Sastra Inggris Fakultas Adab dan Humaniora UIN SGD, bergiat di LPIK dan Jaringan Anak Sastra (JAS).

 

    Print       Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like...

Anime, Otaku dan Hiperrealitas

Read More →
%d bloggers like this: