Loading...
You are here:  Home  >  Linguistik  >  Basa Sunda  >  Current Article

Gara-Gara Ki Umbara: Pembacaan Sederhana Carpon Teu Tulus Paéh Nundutan Karya Ki Umbara

By   /  December 28, 2017  /  No Comments

    Print       Email

sumber gambar: http://kiblatbukusunda.blogspot.co.id

 

Oleh: Fikri A. Gholassahma[1]

Carpon Sunda: dari Kecambah Kecil, menuju Batang Pohon Besar tak Terpeluk

Dalam perjalannya di alam Kesusastraan Sunda, genre carpon (carita pondok) adalah genre sastra yang terbilang baru. Mengingat, genre yang lebih dahulu ada dan dianggap penting—meminjam istilah Duduh Durahman[2]—oleh orang Sunda kala itu, yakni genre roman & wawacan. Kehadirannya tak serta-merta mendapat sambutan hangat, terlebih mungkin karena carpon ini, adalah genre sastra yang datang dari tradisi sastra Barat.

Carpon adalah genre sastra yang dibawa dan diperkenalkan oleh kesusastraan Barat. Carita pondok adalah terjemahan dari istilah short story atau kort-veraal (Rosidi, 2013).  Lain Duduh, lain pula Ajip. Ia berpendapat bahwa carpon yang merupakan genre sastra baru tersebut, diterima dengan “kedua belah tangan” orang Sunda kala itu.

Antologi carpon yang pertama kali terbit berjudul Dogdog Pangréwong kaya GS, di tahun 1930. Lahir enam tahun lebih awal dari pada antologi cerpen bahasa Indonesia, yakni Teman Duduk-nya Muh. Kasim, pada 1936. Walaupun masih menjadi perdebatan apakah Dogdog Pangréwong, bisa dikategorikan ke dalam genre carpon atau hanya sekedar cerita yang ditulisakan saja. Memang belum bisa dipastikan sejak kapan dipakainya istilah tersebut[3] (Winangun, 2012). Tapi kita tunda dulu pembahasan itu, mungkin akan dibahas di lain kesempatan.

Bila Teman Duduk-nya Muh Kasim, setelah kelahirannya diikuti oleh terbitnya antologi cerpen lain (seperti; Suman Ks dengan Kawan Bergelut-nya, Jakarta: 1938; Hamka, dengan Dari Lembah Kehidupan-nya, Jakarta: 1940; Idrus, dengan Dari Avé Maria Ke Jalan Lain Ke Roma-nya, Jakarta: 1948, dll.), Dogdog Pangréwong tidak bernasib demikian. Bukan berarti tidak adanya orang yang menulis sastra bergenre carpon[4], akan tetapi pasca Dogdog Pangréwong terbit, tidak ada buku antologi carpon lain yang terbit. Hingga kurang-lebih tigapuluh tahun kemudian, barulah terbit antologi carpon berjudul Carita Biasa (Cerita yang Biasa), karya RAF pada tahun 1959.

Para pengarang Sunda, banyak memublikasikan karyanya lewat majalah. Dari masa sebelum perang/kemerdekaan, hingga pasca perang, pun dewasa ini. Sastra Sunda, sebagaimana juga sastra Indonesia, terhutangi jasa yang begitu besar—dalam perkembangannya—oleh majalah-majalah yang memuat karya-karyanya. Oleh majalah Parahiangan, salah satunya. Majalah mingguan yang diterbitkan oleh Balai Pustaka ini, sejak sebelum perang, hingga beberapa tahun pasca kemerdekaan, telah memuat karya-karya sastra Sunda. Ia juga punya andil besar, terutama dalam memopulerkan genre carpon. Darinya bermunculan para pengarang muda, yang kita kenal dewasa ini sebagai para maestro, seperti: Moh Ambri, MA Salmun, RAF, Rusman Sutiasumarga, Tini Kartini, Simonsuminar, dan Ki Umbara salah satunya[5] (Rosidi, 2013).

Disinyalir carpon digandrungi dan menjadi bagian genre sastra yang dianggap penting oleh orang Sunda, semenjak pasaca perang, atau ketika menyerbak majalah-majalah yang terbit (sepert Lingga, Sunda, & Tjandara). Hingga ramai istilah “sastra majalah” (Durahman, 1997).

Ki Umbara: mencegah kita agar tak paéh nundutan

Ki Umbara adalah nama samaran/sandi asma, dari W Ranusulaksana. Dilahirkan di Bandungan, Laragung, Kuningan, pada tanggal 10 Juli 1914 (Rosidi & Sutiasumarga, 2013). Pada taun 1954, ia sering memublikasikan karyanya di majalah Parahiangan. Pernah menjadi redaktur majalah Pélét, bersama dengan ERMAS. Menjadi redaktur majalah Manglé, pada tahun 1963-1967. Bersama SA Hikmat, mendirikan PP-SS (Paguyuban Panglawungan Sastrawan Sunda), sekaligus menjadi ketua pertama paguyuban tersebut, di tahun 1966 (Rosidi, 2014: 45).

Antologi carpon yang pertama kali dibukukan berjudul Béja Ti Maranéhna (1965). Carpon-nya yang menarik perhatian berjudul Kasilib[6], mengisahkan manusia yang terseret ke alam siluman. Sejak itulah ia sering menulis carpon bertemakan siluman[7]. Dalam carpon-carponnya, Ki Umbara dapat mengilustrasikan batin masyarakat Sunda tempo lalu, perihal kepercayaannya pada mahluk supranatural (sarupaning demit, onong, siluman, ririwa, jeung siluman). Bersama dengan SA Hikmat[8] ia menulis Pahlawan-Pahlawan Ti Pasantrén. Juga menulis Nu Tareuneung, Sempalan Tina Taréh, & Hamzah Singa Allah, sebagai refleksi dari pembacaannya terhadap kisah-kisah teladan dari khazanah tarikh Islam. Beliau meninggal pada 24 Desember 2004, di Bandung.  

Sebagaimana kita tahu, bahwa carpon/cerpen secara umum adalah bentuk cerita/narasi (bukan analisis argumentatif), yang fiktif (tidak benar-benar terjadi tetapi dapat terjadi di mana saja dan kapan saja) serta relatif pendek. Apa yang Ki Umbara—atau para pengarang lain—ilustrasikan dalam cerpennya adalah fiksi, namun sangat mungkin benar-benar dapat terjadi di mana saja dan kapan saja. Umumnya, cerpen dikonstruk oleh unsur-unsur yang  menjadikannya satu kesatuan yang utuh. Bila kita coba bedah, yang menjadi komposisi satu cerpen itu terdiri dari: plot, tokoh cerita (karakter/watak), tema cerita, suasana cerita (mood dan atmosfer cerita), latar cerita (setting), sudut pandang pencerita (point of view) dan gaya (style) pengarangnya (Sumadjo & Saini, 1986: 37).

Dalam Teu Tulus Paéh Nundutan (TTPN), setidaknya ada satu unsur yang paling menyita perhatian saya. Yakni unsur tokoh (watak/karakter) cerita. Karena tuntutan ekonomis dan efek pesan pada pembacanya, maka si pengarang—dalam cerpennya—hanya mementingkan salah satu unsur saja. Pementingan atau penekanan ini tidak serta-merta meniadakan unsur-unsur yang lain. Hanya saja pengarang dapat memusatkan pada satu unsur saja, yang akan mendominasi cerpennya (Sumardjo & Saini, 1996). Dalam Theory of Literature, Wellek & Warren (1989: 856) berpendapat, bahwa “yang menentukan suatu karya sastra atau bukan sastra, bukanlah unsur-unsurnya, tetapi bagaimana unsur-unsur itu disatukan dan berfungsi. Meskipun lebih menonjolkan salah satunya, unsur yang lain tetap berperan mengonstruk keutuhan cerpen tersebut. Pada TTPN saya dapati pengarang memberi tendensi tertentu pada karakter cerita, yakni Ki Pangsiunan & Mang Merebot.

Ki Pangsiunan, karakter yang tak punya pendirian. Pengarang menggambarkannya dengan perubahan sifat & perilakunya, tiap kali ia berada di lingkungan yang berbeda. Entah gejala psikis apa yang terjadi, tapi hal itu adalah sifat alami yang ia miliki. Ini menjadi pengenalan plot carpon TTPN. Jagat yang dilalui oleh Ki Pangsiunan, saya bagi menjadi beberapa fase.

Fase pertama, adalah masa kecil Ki Pangsiunan. Ia yang menjadi anak gembala, rutinitasnya tidak jauh dari sawah (rumput & lumpur), tegal, & kerbau. Intensitasnya bergaul dengan kerbau, membuatnya cenderung meniru beberapa perilaku teman dekatnya itu.[9] Awal mula konflik yang menjadi elemen (penyusun) plot carpon TTPN ini. Fase kedua, adalah ketika ia masantren (menjadi santri).  Ia dipesantrenkan oleh orang tuanya, berubah sifat dan perilaku lagi. Menjadi rajin salat dan haus akan berkat, jadi lebih religius.

Fase ketiga, kala ia pulang ke desa dan memutuskan untuk mengadu nasib di kota. Ia menjadi pegawai negeri. Konflik yang memuncak dalam plot TTPN ini. Dari santri menjadi priayi. Meninggalkan salat, melupakan puasa. Berdalih malu akan cibiran teman sekantornya, ibadah nanti saja bila telah tua, bila telah pensiun. Agar lebih leluasa.  Fase keempat, adalah klimaks plot TTPN. Ki Pangsiunan pulang ke kampung halaman, karena menurut hitung-hitungan, tunjangan pensiunannya tak akan cukup untuk menopang Ia-sekeluarga hidup di kota lebih lama.  Ia mulai merasa apa yang ia kejar selama di kota, tak menghasilkan apapun.

Sifat & perilaku Ki Pangsiunan, seringkali kita dengar dengan peribahasa (Sunda) lolondokan. Peribahasa/kiasan yang berkonotasi negatif ini, berarti: bisa berganti-ganti tindakan, supaya tak tertiban masalah. Istilah lolondokan, mungkin terinspirasi dari londok/bunglon (jenis kadal, reptil yang hidup di pohon, bisa berubah warna sesuai tempat yang ia diami). Pada tiap gradasi fase yang Ki Pangsiunan alami, adalah prosesnya menuju kesempurnaan lolondokan.

Memang, dalam falsafah hidup orang Sunda, ada pepatah dari orang tua (terkhusus dilisankan pada orang yang hendak merantau) “kudu bisa ka bula ka balé, kudu bisa pindah cai – pindah tampian”. Harus bisa hidup lebih fleksibel, luwes, gampang beradaptasi di perantauan. Namun, tidak harus sampai menghilangkan jati diri kita, apalagi sampai tergerus arus negatif-nya. Lebih parah, kebiasaan negatif itu dibawa pulang ke kampung halaman. Ini pun termasuk pepatah orang tua: ulah pindah jeung caina, di bawa jeung tampianana (Amin, 1982, hlm. 7).

Karakter ke dua dalam TTPN ini adalah Mang Merebot[10]. Di kampung, ia bertetangga dengan Ki Pangsiunan. Ia digambarkan seperti orang sufi (yang meninggalkan perkara keduniawian, dan lebih mementingkan perkara akhirat/zuhud). Bila berbicara dengan orang lain, sebisa mungkin ia tak membuat lawan bicaranya tersinggung atau sakit hati. Bila menasihati tak terkesan menggurui, dan serasa paling benar. ‘Nu boga lakon’ (protagonis) dalam TTPN.

Maka sampailah kita pada fase kelima (terakhir) dari perjalanan lolondokan Ki Pangsiunan. Yakni pemecahan masalah dalam plot TTPN ini. Dialog antara Mang Merebot & Ki Pangsiunan. Ki Pangsiuan yang menyesal dan pesimis dosanya akan dimaafkan oleh Allah SWT, dinasehati oleh Mang Merebot. Dengan menggunakan metode kisah, seputar tema khusnul khatimah dan suul khatimah. Bila mana Allah telah memberi pengampunan, maka tidak ada yang mustahil terjadi. Walaupun itu adalah penghapusan dosa yang telah dilakukan selama puluhan tahun. Diakhiri dengan mengucap basmalah, Ki Pangsiunan bertekad untuk bertaubat. Dan si londok-pun teu tulus paéh nundutan.

Banyak Sastrawan Sunda yang menyelipkan nilai-nilai dakwah dalam karya-karyanya. Seperti, RAF, MA Salmun, SA Hikmat, Ki Umbara, Ahmad Bakri, dan Usep Romli HM. Sebagaimana dalam pembagiannya, secara garis besarnya dakwah dibagi menjadi tiga bagian, yakni da’wah bi al-qaul/lisan (dakwah dengan ucapan), da’wah bi al-kitabah/qalam (dakwah dengan tulisan), dan da’wah bi al-hal (dakwah denga perbuatan)Dakwah tidak melulu harus ceramah di atas podium. Selama apa yang diperbuat itu yad’û ilâ sabîli Rabbik atau mengajak kepada jalan Tuhan, maka itu disebut dakwah. Bagaimanapun bentuknya. Wasilah (media) untuk berdakwah, apalagi dakwah lewat tulisan, begitu banyak. Lewat menulis prosa, misalnya.

Para sastrawan Sunda yang menulis karya sastra, dengan diselipi nilai-nilai dakwah, adalah representasi dari jiwanya sebagai orang Sunda—meminjam istilah Acep Zamzam Noor—yang  santai, juga sebagai Muslim yang santai (Noor, 2012). Tidak menggurui, tidak merasa paling benar. Karya sastra mereka tidak hanya bersifat rekreatif, didaktis, & religius. Kita telah tahu bahwa Ki Umbara, sering mengangkat tema jurig/siluman dalam karya-karyanya. Akan tetapi, ada pola yang hampir sama dalam setiap karyanya. Bahwa manusia adalah makhluk yang lebih tinggi derajatnya ketimbang siluman. Dan sebaliknya, demit, siluman, onong, yang menurut manusia, adalah makhluk bengis, kejam, dan menakutkan mereka dapat berubah, bertaubat.

Begitu kiranya pembacaan saya atas carpon Ki Umbara yang berjudul Teu Tulus Paéh Nundutan. Di akhir tulisan ini, saya teringat A. Teeuw, pernah mengutip ucapan Culler (1957) “reading is an innocent activity”, bahwa membaca bukanlah sesuatu tanpa bahaya & risiko. Membaca adalah petualangan terus-menerus dengan kemungkinan besar, saya sebagai pembaca akan kalah (Teeuw, 1983).  Ini bukan apologi, hanya pengakuan diri saja. Dan tiada lain yang diharapkan dari tulisan ini, agar ada manfaatnya bagi pembaca. Semoga.***

 

Daftar Rujukan

Amin, Syarif.  (1982). Di Lembur Kuring. Bandung: Penerbit Sumur Bandung.

Durahman, Duduh. (1997). Sastra Sunda Sausap Saulas. Bandung: CV. Geger Sunten.

Umbara, Ki. (1966). Teu Tulus Paéh Nundutan. Bandung: diterbitkan ulang oleh PT. Kiblat Buku Utama, 2013.

Sumardjo, Jakob, & KM, Saini. (1994). Apresiasi Kesusastraan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Cet. IV.

Rosidi, Ajip (Ed). (2003). Apa dan Siapa Orang Sunda. Bandung: PT Kiblat Buku Utama.

Rosidi, Ajip, & Sutiasumarga, Rusman,. (2013). Kandjutkundang: Prosa & Puis Sunda Sabada Perang (Edisi Emas 1963-2013). Bandung: PT. Kiblat Buku Utama.

Rosidi, Ajip. (2013). Mengenal Kesusastraan Sunda. Bandung: Pustaka Jaya. Cet. I

————– (2014). Kudu Di mimitian di Imah: Ku Basa Sunda Ngatik Manusa Indonésa. Bandung: PT Kiblat Buku Utama. Cet. I

Seri Sundalana. (2012). Aspek Visual Budaya Sunda: dan esai-esai lainnya mengenai kebudayaan Sunda. Bandung: Yayasan Pusat Studi Sunda. Cet. I

Teeuw, A. (1968). Membaca & Menilai Sastra. Jakarta: PT Gramedia.

Tim Penyusun. (2000). Ensiklopedi Sunda: Alam, Manusia, & Budaya. Termasuk Budaya Cirebon & Betawi. Pustaka Jaya, Cet. I.

Wellek, Rene & Warren, Austin. (1989). Teori Kesusastraan. (Terjemahan Melani Budianta) Jakarta: PT Gramedia. Cet. I.

Zam-zam, Acep Noor. (2012). Sunda Santai-Islam Santai. Pdf diunduh dari NU Online.com ,  tanggal 28 April 2015, jam 20.43 WIB.

 

[1] Kurawa LPIK, bergiat juga di komunitas bangbung ranggaék .

[2] Lihat Duduh Durahman dalam pembahasan “Tradisi Carpon dina Sastra Sunda”, Sastra Sunda Sausap Saulas. (1997), Bandung: CV. Geger Sunten.

[3] Darpan berpendapat, “sebetulnya ada kesan “gurung-gusuh”/ terburu-buru bila mana menyebut Dogdog Pangréwong adalah antologi carpon yang pertama”. Karena, baik dalam Dogdog Pangréwong atau dalam buku-buku yang terbit sesudahnya, tidak disebutkan secara tegas istilah “Carpon”. Lih. Winangun, Darpan, Arya, Maluruh Sajarah Carita Pondok Sunda, esai dalam antologi berjudul Aspek Visual Budaya Sunda, (2012). Pusat Studi Sunda, Bandung.

[4] Menurut penelitian Ajip, setelah Dogdog Pangrewong karya GS, mulai bermunculan pula para pengarang yang menulis dengan genre carpon. Mereka memublikasikan karyanya melaui majalah-majalah/surat kabar kala itu.  (Rosidi, Ajip, Mengenal Kesusastraan Sunda (2013), Bandung, Pustaka Jaya).

[5] Oleh MA Salmun, para pengarang ini dinamai pengarang “Angkatan Parahiangan”.

[6] Dimasukan kedalam antologi carpon “Sawidak Carita Pondok, kumpulan carpon pemenang sayembara mengarang yang diselenggarakan oleh Majalah Manglé. Carpon berjudul Kasilib ini, mendapat hadiah sastra tahunan Majalah Manglé, di tahun 1963.

[7] Antologi carpon bertema siluman/mistik ini dibukukan dengan judul Di Wadalkeun Ka Siluman (Dikorbankan Kepada Siluman), taun 1695, terbitan Pustaka Jaya; Teu Tulus Paéh Nundutan (Tidak Jadi Mati Kufur), pada 1966, yang telah diterbitkan kembali oleh penerbit Kiblat Buku Utama, 2013; dan Jurig Gedong Sétan, pada tahun 2003, dianugrahi hadiah Sastra Samsoedi, oleh Yayasan Kebudayaan Rancagé, sebagai katagori bacaan anak-anak. Lih. Ajip Rosidi (Ed), Apa dan Siapa Orang Sunda (2000). Kiblat, Bandung.   

[8] Memakai sandi asma Ki Ummat, singkatan dari Ki Umbara & S. Hikmat.

[9] Misalkan ketika gatal, ia tidak menggaruk bagian tubuhnya yang terasa gatal. Tapi malah menempelkan & menggosok bagian yang gatal, ke tembok atau apa saja yang dirasa bisa menghilangkan rasa gatalnya, seperti kerbau, dll.

[10] Merebot—dalam bahasa Sunda—adalah panggilan bagi penabuh bedug sekaligus muazin.

    Print       Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like...

Putusan Ajib Pikeun Perkara Ahéng

Read More →
%d bloggers like this: