Loading...
You are here:  Home  >  Sastra  >  Kritik Sastra  >  Current Article

Dr Faust, Apa Agamamu?

By   /  January 17, 2018  /  No Comments

    Print       Email

sumber gambar: http://poetryintranslation.com

 

Oleh: Acuz*

 

Wenn Islam Gott ergeben heist in Islam leben und sterben wir alle” –Goethe

Tak dinyana, seorang Goliath sastra asal Jerman suatu ketika sempat membaca riwayat hidup sang Nabi SAW. Konon saking begitu menarik perhatiannya, ia juga meluangkan banyak waktu untuk membaca ajaran-ajarannya. Kutipan di atas adalah salah satu komentarnya terhadap Islam yang kurang lebih berarti:

“Jika Islam artinya berserah diri kepada Tuhan, maka kita semua hidup dan mati dalam Islam”

Sang sastrawan sekaligus pemikir raksasa itu tak lain adalah Johann Wolfgang Von Goethe (1749-1832) yang juga seorang filsuf Jerman yang masyhur. Rupanya ia banyak mempelajari tatakrama dan keyakinan orang Timur, bagaimanapun ia seorang orientalis yang jeli.

Satu dari ragam karyanya yang terbesar yakni Faust, sebuah naskah drama yang lebih mirip narasi autobiografi. Dr Faust, tokoh utama dalam naskah itu, sebagaimana Goethe, atau laiknya kita, yang di tiap-tiap helaan napas tak henti mencari kesempurnaan (perfection) dan arti sebuah hidup.

Syahdan, pada abad ke-16 silam, di Jerman pernah hidup seorang bernama Faust, atau Faustus. Ia dikenal karena telah menukar jiwanya kepada setan demi mendapat pengetahuan dan kekuasaan. Dengan kehebatannya, Faust pun kian tersohor di seantero Jerman, ia banyak pelesiran ke banyak negeri. Tapi bagi orang yang awam, ia dikenal sebagai manusia yang terlanjur terperangkap oleh hasrat gelap iblis. Sebaliknya, bagi para tokoh pencerahan Jerman kala itu, Faust digadang-gadang sebagai simbol gairah besar ilmu pengetahuan. Maka begitu banyak cerita mengenainya dari mulut ke mulut—ia kian melegenda.

Kisah Faust secara diam-diam merasuki kaum terpelajar Eropa. Pada tahun 1587, muncul buku anonim berjudul Faustbuch. Di Inggris, 17 tahun setelah itu, Christopher Marlowe menggubah The Tragic of Doctor Faustus. Hampir seabad kemudian Gotthold Lessing, seorang Jerman, menghidupkan tokoh Faust dalam sebuah lakon yang tak sempat tuntas.

Kemudian Goethe dalam usahanya menghidupkan kembali legenda Dr Faust yang terkenal itu rupanya cukup gemilang. Melalui Goethe pula, Faust akhirnya dikenal oleh dunia sebagai sosok kompleks yang dipersonifikasi sebagai semangat Barat yang begitu mengagungkan pengetahuan.

Faust, demikian ia disapa, seorang manusia yang akhirnya melego jiwanya demi hasrat akan pengetahuan, demi keabadian yang ia dambakan, dan demi sejumput cinta seorang kembang desa (Margarete). Hingga suatu ketika di penghujung kisah cintanya, ia berada pada sebuah situasi sulit, ia mesti memilih antara hidup lama di bawah naungan hasrat gelap sang iblis (Mephisto) atau lebih memilih mati bersama kekasih hati sebagai syarat kembali ke pangkuan Ilahi. Tapi Faust selalu punya pilihan, terkadang kekuatan hidup bukan hanya persoalan kebimbangan ketika dihadapkan pada dua jurang pilihan. Lebih dari itu justru keberanian memilihlah yang menjadi penentu hidup seseorang.

Faust akhirnya memilih pergi bersama Mephisto. Kepergian yang mengundang banyak tanya, “kemanakah ia? Keyakinan hidup seperti apa yang dicarinya? Atau dengan kemampuan pikirannya yang di atas rata-rata, masihkah ia mengharapkan sebuah kepercayaan pada agama?”. Goethe berhenti mengisahkan Faust dengan sebuah tanda tanya besar. Entah sengaja atau tidak, atau barangkali ia tengah berteka-teki.

Namun Goethe dalam dunia nyata begitu percaya, bahwa manusia di atas dunia seringkali menyerah pada ruang gelap yang ditawarkan setan (evil). Ketimbang berjuang untuk tegar hidup dalam iman pada Tuhan. Sehingga setiap hari-hari yang dijalani laiknya Faust di bawah bimbingan Mephisto—selamanya gelap dan menyusuri jalanan bengkok.

Maka dari itu, manusia musti merdeka. Dan kemerdekaan hakiki versi Goethe adalah manakala manusia berada di zona perang melawan iblis yang tak ayal bersemayam di masing-masing iga kiri, yakni mewujud hawa nafsu yang tak terkendali.

Pada titik ini, Goethe begitu mirip dengan aturan main religiusitas Timur semacam Islam, yang menekankan bahwa kepasrahan pada Tuhan adalah di atas segalanya, sebagai syarat untuk merdeka dari kerangkeng duniawi. Tentu Goethe bukan seorang mualaf apalagi seorang Muslim secara an sich, tapi barangkali ia sampai pada semacam pendirian membenarkan ajaran Islam. Namun bukan dengan wahyu dan ceramah para ustaz, melainkan intuisi dan akalnya yang tajam.

Laiknya anak itik yang dierami seekor induk ayam. Meski belum pernah sekalipun sang induk mengajaknya bermain di kolam, tapi begitu melihat kolam, ia langsung terjun berenang. Instingnya yang menggerakannya untuk turun berenang sesuai fitrahnya sebagai unggas yang mahir bermain air.

Demikianlah kisah Faust yang mengalir lewat mulut Goethe. Meski berakhir jeda, entah ia sengaja demi mempersiapkan kisah tualang Faust di episode selanjutnya atau tidak, tapi yang pasti, hingga di penghujung kematiannya, kisah kelanjutannya Dr Faust tak pernah terjadi.

Kemudian adakah kita sehebat Doktor Faust yang begitu besar kekuatannya untuk memilih? Atau sekhidmat Mephisto yang begitu patuh pada Tuhan meski menjalankan kutukan?

 

*) Penulis adalah Eksponen Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK).

    Print       Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like...

Sastra, Sensor dan Negara: Seberapa Jauhkah Bahaya Novel?

Read More →
%d bloggers like this: