Loading...
You are here:  Home  >  Sastra  >  Cerpen  >  Current Article

Sang Resi dan Pezina

By   /  January 19, 2018  /  No Comments

    Print       Email

sumber gambar: http://twitter.com

 

Oleh: Afif Muhammad*

Dahulu kala, di sebuah pedukuhan terdapat seorang perempuan dan seorang lelaki yang ketahuan berzina. Lalu, orang-orang di pedukuhan itu menyeret kedua makhluk pelaku dosa itu ke ladang terbuka untuk mereka rajam. Adat di pedukuhan itu mengatakan bahwa, pelaku zina harus dihukum rajam, dengan cara kedua pelakunya ditanam hidup-hidup di sebuah lobang sebatas kepala, lalu penduduk dukuh itu beramai-ramai melempari kepala mereka hingga tewas.

Di saat mereka mempersiapkan perajaman itu, datanglah Resi Banyu Biru ke kerumunan orang-orang yang sudah diamuk amarah itu. Beberapa di antara mereka sedang menggali dua buah lubang untuk menanam tubuh dua makhluk pelaku zina itu.

“Ada apa ini, ada apa?”, tanya Sang Resi kepada mereka.

Beberapa orang di antara mereka menjawab bersahut-sahutan, menjelaskan tentang dosa kedua orang itu.

Resi Banyu Biru termenung sejenak, lalu dengan teduh berkata, “Boleh, silakan kalian rajam mereka berdua, tapi dengan satu syarat”.

“Apa itu?”, tanya beberapa orang serempak.

“Silakan kalian rajam mereka berdua sampai mati, asal setiap orang yang merajamnya tidak pernah melakukan dosa”.

Mendengar itu, mereka semua terdiam, sepi, sunyi.

“Ayo, siapa yang akan memulai?”, tanya Sang Resi dengan nada tinggi.

Orang-orang saling berpandangan satu sama lain. Salah seorang di antara mereka menggerakkan kepalanya sebagai isyarat kepada kawan yang ada di sampingnya untuk memulai perajaman. Tetapi kawannya itu menggelengkan kepalanya. Yang lain saling menyentuh tangan kawannya agar ada di antaranya yang mau memulai.

Resi Banyu Biru memandang mereka satu per satu. Tatapan matanya yang tajam menyapu wajah-wajah mereka di segala arah. Angin musim kemarau yang panas berhembus kencang, menerbangkan debu-debu yang dengan kasar menerpa wajah mereka. Janggut putih Resi Banyu Biru yang biasanya rapih menjangkau dadanya, kini kusut diremas angin.

Tatapan tajam Resi Banyu Biru menyapu berkeliling. Lalu dengan langkah kokoh dia mendekati seseorang yang berwajah sangar, berjanggut kasar berewok, dengan udeng mengikat kepalanya. Di tangannya ada tiga cincin berbatu akik sebesar kemiri: dua di jari-jari kanan, satu di kiri.

Begitu sampai di depan laki-laki berewok itu, Resi Banyu Biru menatap matanya, dan dengan nada tajam bertanya, “Kau mau memulai, Guno?”

Guno, laki-laki berewok itu, menundukkan muka, tak berani beradu pandang dengan Resi Banyu Biru. Semua orang di dukuh itu tahu bahwa Guno adalah begal sapi yang tak pernah kenal arti dosa.

:Tidak?”, tanya Resi Banyu Biru dengan sengit, “Lalu, untuk apa engkau datang ke tempat ini?”

Guno tak sanggup menjawab.

“Pergi dari sini!”, hardik Sang Resi.

Dengan wajah masih tertunduk, Guno memutar tubuhnya, lalu dengan langkah gontai meninggalkan kerumunan orang-orang itu.

Masih dengan tatapan mata elang, Resi Banyu Biru berjalan mendekati orang-orang itu.

“Bagaimana denganmu, Truno?”, tanyanya kepada seorang laki-laki yang mengenakan beskap lurik hitam, dengan wajah kelimis, berkumis tipis.

Truno menggelengkan kepalanya perlahan.

“Kalau begitu, pulanglah!”, kata Sang Resi.

Truno pun mengeloyor pergi.

Resi Banyu Biru menyelusup di sela-sela orang-orang yang berdiri tanpa beraturan itu, lalu mendekati seorang lelaki yang tampak pias saat dia dekati.

“Bagaimana kalau kau saja yang memulai, Krambi?”

Krambi bagai disambar geledek. Lututnya seketika terasa lunglai, dan tubuhnya bergetar.

“Mboten Guru, kulo mboten wantun”, jawab Krambi meratap-ratap kepada gurunya itu. Sebagai murid senior Resi Banyu Biru, Krambi merasa masih banyak dosa, karena dalam hati dia masih sering mencela orang lain.

Melihat apa yang dilakukan Resi Banyu Biru, di jajaran belakang, diam-diam orang-orang meninggalkan tempat itu, sebelum Sang Resi menghampiri mereka. Yang masih tersisa pun segera menyusul kawan-kawannya.

Senja turun, semburat meganya berwarna jingga. Sinar-sinarnya tajam menyakitkan mata. Angin musim kemarau masih berembus kencang. Sesekali suaranya bersuit saat berlalu kencang ke arah selatan.

Resi Banyu Biru memandangi punggung orang-orang yang meninggalkan tempat itu. Satu per satu mereka hilang dari pandangan matanya. Kini tinggal dirinya, dan kedua makhluk pendosa itu. Sang Resi menarik nafas dalam-dalam.

Perlahan Resi Banyu Biru mendekati perempuan dan lelaki yang bersimpuh di tanah gersang itu. Wajah mereka tertunduk dalam mendekati tanah. Rambut dan baju mereka sudah compang-camping. Resi Banyu Biru berjongkok di depan mereka berdua, dan—sambil memegang pundak laki-laki yang sudah tidak berdaya itu—dia bertanya, “Kamu siapa?”. Suaranya terdengar lirih, pilu.

Lelaki itu tak kuasa menjawab. Tubuhnya longsor, dan wajahnya luruh di kaki Sang Resi yang kemudian basah oleh airmatanya. Tak ada jawaban.

“Kalau kamu, Nduk?”, tanya Sang Resi pada perempuan muda yang badannya sudah “modal-madil” karena didorong ke sana ke mari oleh warga dukuh yang marah itu. Sang Resi mengusap rambut hitam-tebal perempuan muda yang kepalanya terguncang-guncang karena tangis yang tak tertahankan. Juga tak ada jawaban. Yang terdengar hanya tangis terguguk-guguk.

Resi Banyu Biru menatap jauh ke barat. Matanya berkaca-kaca. Matahari berwarna merah jingga perlahan turun, dan angin musim kemarau hilang di rimba selatan. Malam datang merambat, dan sebentar lagi tegalan gersang itu akan sunyi…

Salam….

Banyu Biru, 17 Februari 2015

________________

Catatan: Cerita ini diadopsi dari versi “Mojopahitan” yang sangat sulit dilacak sumbernya.

*) Penulis adalah guru besar filsafat Islam di UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

    Print       Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like...

Jawawut: Ciung Wanara

Read More →
%d bloggers like this: