Loading...
You are here:  Home  >  Filsafat  >  Current Article

Kids Jaman Now Tak Dikoyak-koyak Sepi, Ia Dikoyak-koyak Galau (Risalah Serius di Sekitar Sastra dan Filsafat)

By   /  January 24, 2018  /  No Comments

    Print       Email

sumber gambar: http://lpik.org

 

Oleh: Syihabul Furqon*

mampus kau

dikoyak-koyak

sepi

—Chairil Anwar

Soalnya adalah bahwa Chairil Anwar—yang menulis ‘ini aku si binatang jalang’ (ingat, bukan binatang lajang)—macam tahu benar bahwa betapa musykilnya menjadi manusia: terlebih di sebuah masa yang kini kita sebut ‘modern’ dipertaruhkan. Posisinya dalam kesusastraan Indonesia, bagi saya, serupa dengan penyair perantauan terakbar—Kahlil Gibran (sial, sampai sekarang, di kita, ejaan ‘Kahlil’ tak diubah, padahal secara transliterasi kita mustinya ‘Khalȋl’ [dengan i dua harakat], kecuali jika kita sepakat menggunakan transliterasi imporan, tidak pribumi. wkwk). Jadi begitu, sampai mana tadi, ah, ya, sampai satu leksikon dimana signifikansi Chairil identik dengan Kahlil.

Coba tengok, kedua penyair ini, masuk ke dalam soal pelik di zamannya. Manusia dan segala hal-ihwal yang lacur dan keparat. Manusia dan absurditasnya. Manusia dan kesepiannya. Soalnya kemudian adalah; bagaimana mereka keluar dari segala lintang-pukang hidup? Yang jelas adalah bahwa mereka habis ditelan kesepiannya sendiri. Sementara itu, di dalam puisi dan parabel, mereka adalah satu wajah heroisme. Sebab Chairil menandai satu tugu Avant-Grade dari kesusastraan Indonesia: gaungnya adalah gaung kemanusiaan yang adekuat.

Sementara Kahlil—yang ketika sajaknya dibaca terlalu dini akan menjerumuskan orang pada sindrom picisan nan lebay—melalui ‘Sayap-sayap Patah’, menyentuh esensi filosofis akan keberadaan. Di dalam batin puisi Kahlil, kita akan dipertemukan metafor yang bersahaja, yang menandai betapa sunyinya hidup. Sementara pada saat yang sama, dalam sunyi itu, ada sesuatu yang lain, yang luput ditangkap jiwa estetika Kahlil sendiri. Namun justru di dalam yang luput itulah hidup—termasuk manusia di dalamnya—menemukan gairahnya.

Memang, dibanding Kahlil, Chairil tampak macam pemuda Indonesia yang sedang dikobarkan kemerdekaan pada umumnya; lengkap dengan bumbu realisme yang kental dan menghardik. Chairil agaknya—sebagaimana sering pula saya bayangkan, dengan rokok tersulut dan kepulan asapnya macam lokomotif tumpah—tak suka menye-menye, tak terlalu peduli dengan akar-akaran yang menjuntai, awan-kemawan dan serak dedaunan. Puisinya, serupa tamparan pada orang melamun: melamunkan pacar, misalnya, atau mantan. Dan dari sajaknya menyembur sembilu dan seseorang menyeru: hidup ini perjuangan, bung! Pedih!

***

Ah, ya. Alienasi. Saya mau bicara ini tadi, tapi kerapkali melompat-lompat. Pada awal abad ke-20, modernisme mewujud-nyatakan dirinya dalam realitas mekanik nan kejam berupa dua perang akbar PD (Bukan pembantu Dekan, tapi Perang Dunia) I&II. Sebagaimana diwanti-wanti Heidegger, manusia mulai masuk dalam jeluk ‘angst’ yang diakibatkan oleh dikotomi sedemikian rupa antara “aku” dan “dunia” dalam kaitannya dengan “keber-ada-an”. Betul bahwa secara genealogis persoalan ini bahkan sudah mulai sebelum abad ke-20. Maka yang saya sebut sebagai soal di sini adalah soal paripurna, titik kulminasi.

Bayangkan saja, kemerdekaan individu pasca revolusi Perancis meletup ke mana-mana. Kemerdekaan ini membawa enigma yang kemudian lahir sebagai demokrasi dan humanisme, serta tetek-bengek positivisme. Dengan demokrasi, negara-negara memerdekakan dirinya. Imperealisme terguncang hingga ke akar-akarnya. Kolonialisme dicabik-cabik, meski sejumlah negara memilih kompromi.

Humanisme memungkinkan perambahan soal filosofis sampai se edan-edannya. Kemerdekaan Individu mengurai buhul tradisi; di mana-mana otoritas kian problematis, struktur sosial berubah drastis. Sementara positivisme mulai nakal memetakan, mengkotak-kotakkan, memilih dan memilah, bahkan lebih sinting lagi mulai mengusik soal kesahihan dan menentukan kebenaran. Nah, di abad 19 yang macam-macam ini belum lagi ramai, apalagi di abad 18; paling banter, masih sedang dirumuskan, dipostulatkan dan hangat-hangat suam.

Sementara bidak catur mulai tersusun, lalu ada dua ideologi yang beradu tanduk di jagat geopolitik yang meletuskan PD I—yakni Sosialisme yang coba menjajal dirinya dan Demokrasi yang egosentris. Tak jelas siapa yang menang, kecuali satu hal: teknologi. Teknologi genosida mulai dipatenkan di sana-sini, diinternalisasi, diakuisisi; bayi-bayi bedil dan granat yang kian canggih dan persisi, gas racun, dan terakbar: keparat nuklir! Kini narasi berubah secara filosofis dan faktual. Siapa menjajah siapa?

Diam-diam bual dan bujuk rayu Hitler—bapak “Haill!” se dunia—ditelan warga Jerman. Fasisme memulai karir dan menjadi bidak catur yang berangasan: sodok sini, tikam sana, camp konsentrasikan Yahudi laknatullah (sungguh, diksi terakhir hanya dimaksudkan sebagai satir). Alhasil, warga dunia mulai gusar. Sebab Yahudi tak melulu soal agama, melainkan marga kesukuan dan tentu saja ada di mana-mana. Di Amerika banyak, di Inggris juga, intinya di sekitar negara tetangga Jerman, makhluk Yahudi pasti ada. Dan sialnya, kita tahu bahwa Hitler mengidap paranoia akut atas manusia Yahudi. Digeruduklah negara-negara tetangga tanpa ampun di bawah panji-panji “Haill” yang meluncur dari bibir Hitler berkumis irit.

Di titik ini berita tersiar ke seantero dunia bahwa ada soal genting di jantung Eropa: kemanusiaan. Bergeraklah induk segala kemerdekaan di bawah panji demokrasi bernama Amerika, dan sekutu-sekutunya. Bagaimana dengan Komunisme Uni Soviet? Setidaknya mereka juga memerangi Fasisme Jerman meski dengan dalih yang tidak muluk-muluk macam Amerika, sebab terbukti bahwa mereka perang dengan hebat di Stalingard: setidaknya begitu yang saya lihat di film.

Sialnya, demokrasi Amerika adalah demokrasi paling edan. Sialan betul. Lihat, pasca gonjang-ganjing fasisme di eropa, mereka—dengan heroisme pongah—bertolak ke Vietnam, Kuba dan ke Soviet juga Cina—sambil memporak-porandakan Jepang dengan football nuclear. Dan kekalahan-kekalahan kubu yang dianggap berseberangan ini dielu-elukan sebagai kemerdekaan yang hakiki dan kaffah (kini kita menyingkatnya dengan: hqq).

Usut punya usut, demokrasi bagi amerika adalah demokrasi ilusif. Sebab setiap kali seseorang meninjau ulang fasad dan fondasi demokrasi, selalu persisi dan ideal. Apa yang menyebabkan demokrasi Amerika itu sebagai anomali? Kita tidak akan menemukannya selama kita tak kembali pada arus utama gerak dunia sebagaimana ditemukan Karl Marx bapak sosialisme kita semua (Tuhan, jauhkan generasi anak-anak kami dari buku LKS laknat yang menyebutkan bahwa beliau adalah bapak kapitalisme dunia): yakni pertemuan kelas sosialisme proletariat dengan kapitalisme borjuis. Nah, dalam duduk ini, Amerika adalah demokrasi yang menyelubungi kapitalisme borjuis. Faham ente?

Sebentar-sebentar; apa hubungan semua keributan di atas ini dengan alienasi manusia? Well, tidakkah kita lihat bahwa manusia ditelikung oleh cabik sekitar? Hingga menjadikan suara manusia adalah suara yang tertahan, sebab setiap kali suaranya kalis, ia dianggap tak memihak. Lihat nasib Pasternak, Neruda, Hesse, Gordimer, bahkan Bertrand Russel; mereka memang punya panggung dunia, tapi panggung mereka adalah panggung sunyi di antara desing mortir, banalitas keseharian, dan fanatisme ideologis.

***

Sebab itu, tak berlebihan jika kita kembali meninjau satu fragmen dari puisi Chairil: mampus kau dikoyak-koyak sepi. Kebisingan abad 20 membuat manusia terasing secara eksistensial. Ia sangsi atas apa yang diperbuatnya, bahkan atas apa yang diimaninya. Kesangsian adalah wajah lain dari alienasi. Seseorang dalam posisi teralienasi secara tak langsung sedang menunda keputusan. Yang teralienasi secara sosial menunda keputusannya atas klaim kesahihan sosial. Demikian pula yang teralienasi dari ototritas dan juga dari dirinya sendiri.

Alienasi adalah juga kesepian. Tapi kesepian yang muncul dari alienasi tak sama dengan kesepian akibat keputus asaan. Perbedaan tipis ini bisa diterangkan sebagai berikut: kesepian muncul dari alienasi karena di dalam alienasi ada energi kreatif, sementara dalam kesepian yang muncul dari sikap putus asa lebih merupakan fatalitas nihilis. Seseorang yang sepi, dan yang sendu macam Chairil dan Kahlil, tak memilih nihilisme sebagai puncak ekstase. Mereka memilih pembebasan dalam ‘kata’ dan ‘bahasa’—dalam keberadaan ontologis itu sendiri. Ontologis karena mereka berdua kukuh menjalani realitas yang koyak sambil mengetamnya jadi ‘ada’ melalui ‘kata’. Otentisitas mereka ada pada kepasrahan akan kedaifan, tapi kedaifan yang konstruktif, kreatif; bukan sebaliknya.

Jika saya membayangkan diri sebagai kritikus sastra, dua orang di atas tentulah merupakan tokoh susastra dan filsuf naturalis-magis. Aspek magis dalam duduk mereka berdua ada pada kepasrahan. Jika tidak percaya silakan baca Tagore dan Coelho; sebab saya ragu, sejumlah orang seringkali keliru memahami maksud dari aforisme Kahlil dan maksud Chairil, sehingga, membaca mereka berdua harus dengan perangkat tak langsung—macam kerja intertekstualitas.

Lalau sepi macam apa yang dapat menjelma dari keputus asaan dan mengakibatkan nihilis? Baca Nitzsche—sekalipun ia tetap iman pada tuhan yang pandai menari. Atau Kierkegaard, sekalipun ia cari selamat dengan lompatan iman. Atau bisa juga baca mengenai si celaka Schopenhauer. Atau—nah ini filsuf pentolan lebih gila dari Sartre dan Camus yang toh mereka dapat Nobel—coba baca E. M Cioran dengan kitab sintingnya On The Heights Of Despair (Bocoran lancang: kitab ini sedang diterjemahkan penerbit Trubadur dari Bandung). Tidak percara? Coba lihat:

“Kita begitu terisolir dari segala sesuatu! Tapi tidakkah sama halnya bahwa segala sesuatu juga tidak dapat terhubung kepada kita? Kematian paling dalam dan paling ragawi adalah kematian dalam kesendirian, bahkan ketika cahaya menjadi satu prinsip dari kematian. Pada saat-saat seperti itu kau akan terputus dari kehidupan, dari cinta, senyuman, kawan-kawan dan bahkan dari kematian itu sendiri. Dan kau akan bertanya kepada diri sendiri adakah sesuatu selain ketiadaan dunia dan ketiadaan dirimu sendiri.” […]

 

Sebagai catatan, E. M. Cioran musti kita bayangkan sebagai yang menolak rumusan metafisika macam apa pun; termasuk mistisisme, apalagi jauh-jauh ke Ibn ‘Arabi, sebab sejak sebermula saya tak hendak menyertakan asumsi metafisika—meski di muka saya memberi ‘penanda’ akan hal itu melalui kata ‘sesuatu yang lain’. Pokoknya, dia nihilis tulen, titik. Mari kita lanjutkan ke aforisma selanjutnya, lihat:

“Satu hal yang tidak boleh kita lupa yaitu, filsafat adalah seni menyembunyikan siksaan batin.”

Demikian karena kita bisa membayangkan bahwa bagi nihilis macam Cioran ini realitas bagai lautan tanpa batas dengan badai, tajam karang dan tajam taring hiu berkelindan kian kemari. Sementara perangkat yang boleh pada saat itu hanya cetusan-cetusan filosofis dan pertanyaan: maju tak tentu selamat, mundur bukan saja pecundang, namun sekaligus bunuh diri. Maka di sini Nietzsche dan Camus dan Cioran memilih maju; menaklukkan ketiadaan, sejauh bahkan jika ketiadaan itu ada. Nietzsche menganjurkan untuk membakar dermaga, mengarungi bahtera dengan sampan alakadarnya dan bermetamorfosa jadi manusia adikodrati. Sementara Camus malu-malu merumuskan bunuh diri filosofis. Sartre memilih sumpah serapah macam orang kebakaran jenggot. Dan Cioran memilih ini:

“Suatu kepastian dimana kau takkan bisa melepaskan diri dari takdir yang keras kepala dan waktu takkan melakukan apa pun selain membentangkan proses dramatis dari pembinasaan yang merupakan ekspresi dari penderitaan yang tak terenyahkan.”

Di tempat lain ia bertutur:

“Karena tak ada keselamatan baik di dalam keberadaan maupun ketiadaan, biarkanlah dunia ini dengan hukum-hukumnya yang kekal hancur berkeping-keping!”

Maka, distingsi mendasar antara kondisi teralienasi dan nihilis jelas berbeda. Yang pasti adalah abad 20 memungkinkan hal ini menggejala dalam benak orang-orang. Genealogi teatrikalnya sudah saya sketsakan di atas.

***

Terkaan saya, kini banyak orang kian linglung membaca sajak Chairil dan parabelnya Kahlil. Sebab membaca tulisan mereka di jagat yang kian bising dengan kodifikasi generasi milenial dan kids jaman now, ibaratnya seseorang yang berteduh dari hujan di rumah mantan. Tak ada sedikitpun nuansa lebih baik dari seting yang macam itu. Belum lagi munculnya perasaan keliru, bagi si jomblo yang membaca: mampus kau dikoyak-koyak sepi!

Gejala macam ini disebut sebagai gejala hyper—yang ketika dikenakan pada pembacaan atas teks, sebagaimana dikemukakan Eco sebagai hypertafsir. Orang kian kemari, kian berlebihan menafsir saban hal. Gejala ini menjangkit mula-mula dari latah generalisir keadaan, dari pembiaran di media cyber, sampai-sampai pada lingkungan suci (ehem), kesusastraan dan filsafat. Lihat sajak-sajak yang terpenggal jadi kata mutiara belaka, sekadar quotable.

Tapi, bagaimana pun, toh kini kita hidup di era yang koyak dan acak. Karenanya, boleh, dan tidak berjebihan pula bila kita sesekali bertamasya pada era-era kanon. Masa dimana kata tak sekadar bahasa, dan nihilisme tak sekadar gaya hidup; melainkan masa ketika kata adalah senjata dan nihilisme adalah prinsip. Sebab kadang, tak baik pula membiarkan yang banal merajalela—dan hidup bahkan tak lagi seksi untuk dipertanyakan. Aslina bray!

 

*) Penulis adalah alumnus mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prodi Studi Perbandingan Agama. Bergiat di Verstehn Community dan menjadi pengasuh di Stream of Consciousness Reading Club (Source).

    Print       Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like...

Kontingensi Sebagai Kritik atas Masalah Hume

Read More →
%d bloggers like this: