Loading...
You are here:  Home  >  Berita & Informasi  >  Current Article

Dijadikan Sapi Perahan di Sektor Buruh, Kehilangan Tanah di Sektor Tani

By   /  March 1, 2018  /  No Comments

    Print       Email

LPIK.ORG — Peran perempuan di sektor buruh tak lain adalah sebagai sapi perahan. Demikian yang dikatakan salah seorang pembicara dari Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) Wawan. Menurutnya, keadaan buruh pabrik sangat miris, hal itu diperparah dengan maraknya sistem kerja kontrak. Ia menyampaikan ini di depan puluhan mahasiswa dalam diskusi publik yang diselenggarakan Women’s March Bandung, Kamis (1/3/2018) di Studen Center UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Dalam diskusi bertema “Bentuk-bentuk Kekerasan terhadap Perempuan di Sektor Buruh dan Tani” ini Wawan mengungkapkan, penerapan sistem kontrak tersebut tidak disertai dengan pengawasan yang ketat dari pemerintah, sehingga membuat pihak pabrik cenderung berlaku seenaknya terhadap buruh, bahkan untuk permasalahan yang sepele pun akan menjadi kesalahan yang fatal bagi buruh.

“Kawan-kawan buruh perempuan yang sekarang bekerja di perusahaan itu hak-haknya tidak dikasihkan. Hak melahirkan, hak cuti hamil. Itu yang terjadi”, ujar Wawan.

Sementara itu, salah seorang anggota Serikat Perempuan Indonesia (SERUNI), Yati memaparkan soal kekerasan terhadap perempuan di sektor tani. Menurutnya, baik di sektor tani maupun buruh, penindasan terhadap perempuan itu sama-sama ada. Hanya saja bedanya di di sektor tani, perempuan ditindas dengan perampasan lahan, sehingga mesti berjuang mempertahankan lahan pertanian tersebut.

Perampas yang ia maksud tersebut adalah PT AGRO Jabar yang mengklaim lahan pertanian itu adalah aset miliknya, bukan masyarakat Pangalengan. Pengklaiman aset oleh perusahaan yang memonopoli tanah di beberapa titik di Jawa Barat ini, sudah berhasil dilakukannya di Desa Sindangsari, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut, dengan lahan seluas 2 ribu hektare.

“Yang terjadi di Pangalengan saat ini sejak kemarin, hampir sudah dua bulan petani Pangalengan berbondong-bondong terus ke lahan (mempertahankannya-red). Karena PT AGRO Jabar akan mengambilalih lahan yang akan kita garap oleh 1.500 jiwa,” tutur Yati.

Menurutnya, perusahaan tersebut punya modal besar untuk mengakui lahan, yakni sebesar 150 milyar. Sedangkan Yati bersama kawan petani perempuan yang lain, hanya punya modal semangat untuk mempertahankan lahan yang sudah dimilikinya sejak 16 tahun tersebut.


Diskusi ini selengkapnya terangkum di sini: Bagian 1, Bagian 2, Bagian 3.

    Print       Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like...

MENAKAR ULANG PERJUANGAN

Read More →
%d bloggers like this: