Loading...
You are here:  Home  >  Berita & Informasi  >  Current Article

Diskusi “Islam dan Komitmen Kebangsaan: Menyoal NKRI Harga Mati” Gambaran Umum

By   /  March 8, 2018  /  No Comments

    Print       Email

Sudah lebih dari tujuh dekade Indonesia merdeka. Kemerdekaan Indonesia tidaklah dibayar
dengan harga yang murah. Berbagai pengorbanan diberikan untuk kedaulatan rakyat yang
tertindas. Penindasan yang dilakukan oleh imperialis ini dilawan sekuat tenaga.
Perlawanannya disertai dengan heterogenitas identitas masyarakat nusantara saat itu. Dimulai
dari perbedaan suku, ras sampai agama. Para pendahulu kita mengenyampingkan dulu
identitas mereka untuk bersatu melawan penindasan. Dengan segala perbedaannya rakyat
yang tertindas ini akhirnya berhasil melawan imperialis dan akhirnya bersatu dalam kesatuan,
yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Berbagai bentuk ekspresi akan romantika sejarah tersebut termanifestasikan dalam
kehidupan sehari hari. Di antaranya berbentuk berbagai slogan yang sudah tidak asing lagi
seperti Bhineka Tunggal Ika dan NKRI Harga Mati. Slogan tersebut menandakan ekspresi
nasionalisme serta penghormatan akan sejarah dimana kesatuan yang didapatkan dengan
susah payah ini tidak akan begitu saja dibiarkan. Dengan slogan ini kesatuan Indonesia akan
terus dijaga bahkan dengan mengorbankan nyawa kita sendiri.

Slogan NKRI Harga Mati awalnya digagas oleh KH. Moeslim Rifa’i Imampuro atau
lebih dikenal dengan nama Mbah Liem. Slogan tersebut menandakan semangat dari beliau
untuk terus menjaga kesatuan Indonesia dan juga mempertegas finalitas dari Pancasila.
Pancasila tidak bisa diubah dan kita sebagai masyarakat Indonesia mesti mempertahankan
dasar negara tersebut. Pancasila juga dianggap tidak bertentangan dengan Islam, justru
Pancasila itu sendiri merupakan ekspresi dari ajaran Islam sebagaimana tercantum dalam Sila
Pertama, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.

Untuk mempertahankan kesatuan dan berbagai nilai yang ada di Indonesia, kiranya
NKRI Harga Mati merupakan sebuah injeksi agar masyarakat Indonesia dapat
memertahankan kesatuan ini dan mencegah segala bentuk perceraian dan perpecahan.
Persaudaran yang dibangun di atas perbedaan harus terus dipelihara agar cita-cita bangsa dapat terwujud. Dengan bela negara sebagai aksinya, slogan ini pun mulai merakyat di tengatengah
bangsa Indonesia.

Kalimat yang awalnya menandakan euforia nasionalisme ini akhirnya tak luput dari
berbagai kontroversi. Salah satu penyebab kontroversi tersebut karena NKRI Harga Mati
dikhawatirkan akan menyeret pengucapnya kepada jurang kemusyrikan. Kalimat ini
mengandung tendensi fanatisme berlebihan terhadap negara. Kesiapan seseorang mati demi
negaranya memungkinkan kemusyrikan karena ia siap mati demi selain Allah. Alih-alih
mencurahkan ‘segalanya’ demi Allah, slogan tersebut sepertinya menandakan ada yang
‘segalanya’ selain Allah.

Orang-orang yang memiliki pengetahuan itu kiranya beranggapan bahwa kewajiban
muslim yang paling utama ialah tauhid atau dengan kata lain mencurahkan segala sesuatu
hanya untuk Allah. Dengan keadaan seperti itu, NKRI Harga Mati dikhawatirkan akan
merusak tauhid seseorang. Allah yang satu-satunya wajib menjadi tujuan pun dianggap
mempunyai saingannya, yaitu negara. Sehingga akhirnya slogan tersebut dianggap
menuhankan negara dan mencederai Sila Pertama.

Ujung-ujungnya slogan NKRI Harga Mati ini dianggap termasuk ke dalam dosa
syirik, yaitu menyekutukan Allah. Agar tidak terjerumus ke dalam dosa syirik itu maka
manusia haruslah bertaubat. Namun apakah penafsiran seperti ini dibenarkan dalam
pembicaraannya menyoal relasi antara negara dan Islam?

Pergesekan antara NKRI Harga Mati dengan ajaran Islam disebabkan oleh adanya
indikasi ketidaksesuaian slogan tersebut dengan faham-faham tertentu di Islam. Dikarenakan
nasionalisme tidaklah mengandaikan ‘penuhanan’ terhadap negara ataukah mungkin di saat
tertentu nasionalisme yang melampaui batas bisa menjadi penyakit bagi keimanan seseorang.
Pembelaan atas negara merupakan hal yang wajar dilakukan terutama sebagai warga negara
yang secara administratif melakukan timbal balik dengan negara. Akan tetapi mungkin di
titik tertentu bela negara ini bisa menjadikan Tuhan dinomorduakan.

Benarkah ekspresi nasionalisme yang terdapat dalam slogan NKRI Harga Mati ini
dapat mengantarkan kepada kemusyrikan? Apakah membela tanah air dapat dikategorikan
sebagai sesuatu yang dapat merusak tauhid? Apa batas-batas dari slogan tersebut sehingga bisa dikategorikan sebagai kemusyrikan atau tidak? Pembahasan mengenai hal ini menjadi
perbincangan yang hangat dan juga menjadi perdebatan yang panas.

Persoalan lain atas NKRI Harga Mati yang tak kalah ramai diperbincangkan hadir dari
kacamata yang berbeda. Slogan itu dianggap sebagai represi negara pada rakyatnya. Negara
mematok dan menekankan tidak boleh ada pemahaman atau ideologi lain selain NKRI Harga
Mati. Negara di titik ini menjadi alat represi, rakyat harus dipaksa mengikuti keinginan
negaranya.

Sebagaimana yang dikatakan Louis Althusser (1918-1990), seorang filsuf Marxis
berkebangsaan Prancis, melalui tulisannya Ideology and Ideological State Apparatuses yang
dimuat dalam Lenin and Philosophy and Other Essays (1971) represi negara itu dialirkan
lewat dua konsep represi yakni aparatus represi negara (ARN) dan ideologi represi negara
(IRN). ARN terbentuk dari kepolisian, pengadilan, tentara dan aparatus lainnya yang kerap
kali menebar represi pada rakyat apabila kehendak antara negara atau aparatusnya
bersilangan dengan rakyat. Sementara IRN adalah ideologi yang disalurkan oleh negara
secara diam-diam dan tidak terasa misalnya melewati jalur pendidikan. Jika meninjau pakai
perspektif ini, bisa saja slogan NKRI Harga Mati hadir sebagai alat represi dari negara untuk
pemahaman rakyatnya. Hal itu dilakukan agar rakyat terus patuh pada negara atau pada
orang-orang yang mengendalikan negara tersebut.

Terlepas dari perspektif itu apakah memang benar NKRI Harga Mati tiada lain
menjadi alat represi negara dengan menyelubungkan ideologi tertentu? Atau justru menjadi
alat pemersatu masyarakat Indonesia di tengah pluralitasnya dan untuk mempertegas finalitas
Pancasila?

 

Rumpi RIriwa LPIK 2018

Waktu: Selasa 13 Maret 2018 pukul 14.30 WIB.

Tempat: Aula SC lt.1 UIN SGD Bandung.

 

    Print       Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like...

MENAKAR ULANG PERJUANGAN

Read More →
%d bloggers like this: