Loading...
You are here:  Home  >  Berita & Informasi  >  Current Article

MENAKAR ULANG PERJUANGAN

By   /  April 27, 2018  /  No Comments

    Print       Email

 

gambar oleh: Ilham Ramdani

 

Seorang tokoh Islam yang cukup santer menentang imperialisme adalah Ali Syari’ati. Pria kelahiran 24 November 1933 itu berasal dari keluarga yang agamis, kemudian tumbuh menjadi pemikir Iran yang kontroversial. Pandangannya tetang imperialisme ditalikan dengan negara dunia ketiga yang berpenduduk mayoritas muslim. Dari situlah ia berkesimpulan bahwa Islam tak terlepas dari hegemoni Barat. Dari sini pula ia punya misi pembebasan untuk negara mayoritas muslim dari belenggu Barat.

Ia memandang Islam sebagai jawaban dari situasi sosial, dan mencela elite muslim yang menggunakan Islam sekadar buat rutinitas ritual semata. Di negaranya, Islam berhasil dijadikan alat revolusi. Itu pun sempat membantu revolusi kemerdekaan Indonesia. Salah satunya lewat K.H. Hasyim Asy’ari. Dari sini terlihat bagaimana sumbangan Islam pada perjuangan melawan kezaliman tersebut. Sementara itu, sekarang Islam tampil dengan terorisme yang menghantui dunia dan masyarakat Islam itu sendiri, di lain pihak ada yang tampil dengan kelesuan sikap politiknya. Karena itulah kita perlu membahas konsep perjuangan Islam itu sendiri, pijakannya dari konsep yang diperjuangkan Ali Syari’ati.

Kelompok muslim yang perlu diperhitungkan perjuangannya adalah kaum sufi. Seperti yang dilakukan oleh tarekat Qadariyah, yang kerap mengkritisi kebijakan pemerintah yang dinilai zalim. Kaum sufi juga berjasa di baris pertahanan Islam di kala Mongol menginvansi pemerintahan Abbasiyah. Perjuangan kaum sufi itu galibnya disebut perjuangan religio-politik. Pada titik ini, kita perlu membuka catatan sejarah perjuangan kaum sufi tersebut, dan mengkaji konsep perjuangan dari kacamata tasawuf itu sendiri.

Perjuangan tampil dengan wujud yang beragam, misalnya dalam bentuk karya sastra. Salah satu turunan dari kebudayaan ini bukan hanya sebatas seni bahasa, tetapi juga cerminan dari kehidupan manusia. Di dalamnya ada gugatan, sambutan, dan keraguan akan gagasan nilai-nilai kemanusiaan. Maka siapa pun yang hendak mengenal manusia, ia mesti membaca sastra. Begitu pun kita yang hendak tahu perjuangan manusia, maka perlu membaca sastra-sastra perjuangan.

Beralih ke kajian sosial, kita akan menemukan ‘gerakan sosial’ sebagai istilah untuk alat perjuangan. Isinya adalah beragam tawaran perubahan pada tatanan sosial, yang dimotori oleh berbagai kelompok masyarakat. Tawaran perubahan tersebut setidaknya meliputi dua hal, pertama perubahan di ranah ideasional dan kedua di ranah material. Tawaran pertama diusung oleh gerakan keagamaan konservatif. Sementara gerakan di ranah material, wujudnya berupa kelompok solidaritas rakyat anti penggusuran, solidaritas anti korupsi, dan lain-lain. Dari beragam orientasi gerakan tersebut, yang perlu jadi perhatian kita adalah syarat sah dari gerakan sosial itu sendiri. Dari sanalah perjuangan kelompok yang mendaku diri sebagai aktor gerakan sosial itu akan diukur.

Katakanlah perjuangan itu melawan kapitalisme. Salah satu pemikiran yang tak bisa dipisahkan dari diskusi ini adalah marxisme. Karena dari sinilah kita tahu krisis kapitalisme itu niscaya. Analisisnya disandarkan pada keyakinan akan basis ekonomi. Seiring perjuangannya untuk mewujudkan tatanan sosial yang lebih adil, marxisme tumbuh bercabang, hasil dari perdebatan di tubuhnya sendiri. Dimulai dari munculnya klaim kapitalisme tidak mengalami krisis, juga ada anggapan upah buruh industri semakin naik melulu, sampai pada perdebatan yang disebut ‘perselisihan revisionisme’. Namun itu bukan titik ujung perdebatan, masih banyak, dan mungkin akan ditemukan lebih banyak lagi bila kita mendudukkan perkara ini secara filosofis.

Aktualisasi perjuangan melawan kapitalisme itu ada di catatan sejarah Indonesia. Semua berkat dukungan berbagai pihak. Salah satunya adalah mahasiswa. Peran kaum terpelajar ini bisa dipetakan ke dalam empat fase. Di era pra kemerdekaan (1900-1945), periode Orde Lama (1945-1965), periode Orde Baru (1965-1998), dan periode reformasi (1999-sekarang). Walau mahasiswa bukan satu-satunya aktor pejuang, paling tidak dari sekeping mozaik ini kita bisa tahu tampilan semangat perjuangan itu dilangsungkan. Hasilnya, bisa jadi pelajaran bagi perjuangan kita sekarang.

Diskusi perkara perjuangan ini tidak berujung sampai di atas. Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK) akan mewadahinya ke dalam enam seri kuliah, di tiap seri akan dipandu oleh seorang dosen. Enam seri tersebut meliputi Kelas Keislaman: Ali Syariati dan Konsep Perjuangan dalam Islam (dipandu H.Miftah F.Rakhmat, Lc., MA), Kelas Tasawuf: Perlawanan Orang-orang Sufi atas Penindasan (Dr. Nur Samad Kamba, MA.), Kelas Sastra: Sastra dan Perlawanan (Dr. Hawe Setiawan), Kelas Sosial-budaya: Dinamika Politik dan Gerakan Sosial dari Masa ke Masa (Dianto Bachriadi, Ph.D), Kelas Filsafat (Dede Mulyanto, M.Hum.) dan Kelas Sejarah: Sejarah Gerakan Mahasiswa di Indonesia (Amin Mudzakkir, S.S., M.Hum).

Agenda ini selain dipersembahkan bagi siapa pun yang punya perhatian pada perjuangan, juga dalam rangka memperingati Milangkala LPIK XXII. Bila Anda sepakat bahwa perjuangan masih perlu dipersoalkan dan diperjuangkan, bergabunglah dengan kami!

Klik di sini untuk registrasi.

    Print       Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like...

Diskusi “Islam dan Komitmen Kebangsaan: Menyoal NKRI Harga Mati” Gambaran Umum

Read More →
%d bloggers like this: