Loading...
You are here:  Home  >  Filsafat  >  Current Article

Kontingensi Sebagai Kritik atas Masalah Hume

By   /  November 12, 2018  /  No Comments

    Print       Email

Oleh: Muhammad Satria Abdul Karim

“Everything could actually collapse: from tree to stars, from stars to laws, from physical laws to logical laws; and this not by virtue of some superior law whereby everything is destined to perish, but by virtue of the absence of superior law capable of preserving anything, no matter what, from perishing” – Quentin Meillassoux

Buah apel yang dipotong pasti akan terbelah, bola yang ditendang pasti akan melesat dengan cepat berbanding tenaga yang dikeluarkan dalam sepakannya, seorang atlit paralayang akan jatuh tertarik dari gravitasi apabila ia terlepas dari paralayang miliknya. Artinya satu sebab terjadi, maka akan ada akibat yang terjadi oleh sebab itu. Ya, begitulah kira-kira bekerjanya hukum alam. Hukum yang dianggap menjadi penopang dalam jalannya segala gerak di dalam realitas ini.

Kita percaya bahwa hukum alam itu benar adanya. Kita yakin bahwa ada satu hukum tertentu yang mendeterminasi jalannya alam. Hukum alam biasanya diidentikan dengan kausalitas. Gerak adalah prinsip dasar dari sebab-akibat (kausalitas). Karena kausalitas adalah anggapan bahwa satu pergerakan akan menimbulkan pergerakan lain. Anggapan ini dimiliki karena satu gerak yang teramati selalu menimbulkan gerak yang lain. Misalnya, ketika kita membakar tangan kita dengan api pada sore hari maka tangan kita akan terbakar, lalu kita lakukan hal serupa di malam hari maka tangan kita akan terbakar, atau misalnya kita melakukan hal demikian di tempat yang berbeda, di Kutub Selatan misalnya, ternyata tangan kita masih terbakar. Pergerakan tangan kita ke dalam api akan menimbulkan pergerakan api membakar tangan kita di mana pun dan kapan pun. Dari situlah kita mendapatkan kesimpulan bahwa tangan ketika dibakar oleh api maka ia akan terbakar. Tangan yang dibakar akan terbakar, itulah prinsip dari kausalitas.

Prinsip kausalitas sudah dianggap pasti dan ia bersifat universal. Prinsip ini bahkan sudah menjadi postulat dasar hidup manusia. Karena sejauh realitas teramati ia tidak pernah kontradiksi. Artinya realitas selalu berjalan sesuai dengan kausalitas. Secara saintifik tidak mungkin ada kejadian yang terjadi tanpa sebab tertentu. Dan tentunya tidak mungkin batu yang dilemparkan dengan keras ke sungai yang deras tiba-tiba malah terbang ke angkasa.

Banyak juga filsuf yang pemikirannya sangat bertopang pada prinsip kausalitas, misalnya Aristoteles, pemikirannya tentang form dan matter meniscayakan kausalitas, juga formulasi logika miliknya pasti mengharuskan adanya kausalitas. Para filsuf penerusnya juga pasti mengakui adanya kausalitas, misalnya para filsuf Abad Pertengahan dan para filsuf di dunia Islam. Lebih jauh lagi kausalitas juga menjadi prinsip mendasar dalam sains.

Namun seiring berjalannya waktu, setelah kausalitas sudah menjadi pengetahuan umum yang tak perlu ditanyakan lagi, seorang filsuf Inggris bernama David Hume melayangkan kritik keras terhadap kausalitas. Ia mempertanyakan kembali prinsip-prinsip dasar kausalitas dan menggoncangkan pengetahuan dasar kita mengenai eksistensi dari hukum alam. Kritik Hume ini lebih dikenal dengan istilah Hume’s Problem atau Masalah induksi.

Hume memperkenalkan masalah induksi sebagai bagian analisa atas kausalitas. Saat Hume mengajukan kritiknya ini, dia sedang berada dalam satu kondisi diskursus filosofis dimana ada anggapan bahwa pikiran diisi oleh entitas mental yang disebut dengan “ide”. Hume lalu menyimpulkan bahwa seluruh ide kita dapat dilacak pada apa yang kita sebut sebagai “kesan” atau impresi. Intinya sebuah ide memasuki pikiran dengan cara dikopi dari kesan yang didapatkan indra. Lalu ide yang lebih kompleks diciptakan dari ide kombinasi ide-ide yang lebih simpel yang muncul dari kesan.[1]

Dalam mempertanyakan kembali kausalitas Hume mempertanyakan kembali di manakah pengetahuan paling dasar kita berasal. Pengetahuan atau yang biasa kita sebut ide pada dasarnya berasal dari pengalaman kita, baik itu bentuk, suara, atau apapun. Tidak ada satu pengetahuan pun yang berasal dari luar pengalaman kita. Pengalaman dasar kita nantinya akan mengakumulasikan kesan-kesan yang didapatkan menjadi ide-ide yang kompleks seperti bilangan, teori, imajinasi dan sebagainya.

Lalu apa yang menjadi masalah bagi Hume? Ia menjelaskan:

“Apa yang menjadi sifat dasar dari semua pemikiran kita mengenai fakta sebenarnya (matter of fact)? Jawaban yang tepat nampaknya ialah bahwa fakta sebenarnya ditemukan dalam hubungan kausalitas. Ketika ditanya lebih lanjut, apa yang menjadi dasar seluruh pemikiran dan keputusan kita mengenai relasi tersebut? Kita bisa menjawabnya dengan satu kata, pengalaman. Akan tetapi jika kita melanjutkan dan bertanya, apa yang menjadi dasar dari semua kesimpulan dari pengalaman? Jawaban ini mengimplikasikan pertanyaan baru.”[2]

Dapat dikatakan bahwa segala bentuk pengetahuan kita mengenai realitas berasal dari kausalitas. Akan tetapi kausalitas itu sendiri berasal dari pengalaman kita. Hubungan sebab akibat berasal dari pikiran kita, atau yang Hume sebut sebagai connexion atau koneksi. Seperti yang disebutkan diatas bahwa ide komplek berasal dari impresi sederhana. Dari impresi tersebut ia membentuk pengetahuan yang lebih rumit.

Hukum kausalitas yang kita percayai keuniversalannya pun merupakan bagian dari pengetahuan yang kita dapatkan dari pengalaman. Hume memberikan contoh:

“Ketika seorang anak kecil merasakan sensasi rasa sakit karena menyentuh api lilin, dia akan hati-hati meletakan tangannya di sekitar lilin tadi, juga dia akan mengira akan terjadinya akibat yang sama dari satu sebab yang kualitas dan penampilannya terlihat sama.”[3]

Penjelasan Hume akan contoh tersebut adalah:

“Di dalam kenyataan, semua argumen dari pengalaman berasal dari kesamaan yang kita temukan diantara objek alamiah, dan dari yang kita induksikan untuk menduga akibat yang sama dari kesamaan-kesamaan tadi…. dari sebab, yang muncul dengan kemiripan, kita pun mengira akibat yang sama dari sebab tadi. Itulah puncak dari kesimpulan eksperimental kita.”[4]

Pengetahuan kita mengenai realitas selalu merupakan sebuah rangkain kejadian yang sering berhubungan. Ketika tangan memegang bagian yang tajam dari pisau maka ia akan mengeluarkan darah karena ketajaman pisau. Lalu di kesempatan lain kita akan memegang pisau dengan lebih hati-hati karena dari pengalaman kita, benda yang tajam akan memotong benda yang lebih lembek. Dari sana kita menyimpullkan bahwa realitas berjalan dengan prinsip kausalitas.

Akan tetapi apakah kausalitas ini benar-benar niscaya? Niscaya artinya ia akan terjadi dengan pasti kapan pun dimana pun sejauh satu sebab mencukupi untuk mengakibatkan satu akibat. Hume menolak keniscayaan dari kausalitas. Bagi Hume akal murni tidak bisa memverifikasi atau secara absah mengakui bahwa ia bisa mengakses keniscayaan kausalitas. Bagi akal murni kausalitas, pada dasarnya, hanyalah kesan yang timbul dari pencerapan inderawi. Ia hanyalah akumulasi dari kesan-kesan yang disimpulkan secara induktif, namun karena ia selalu menunjukan efek yang sama dari setiap sebab dan akibat, maka rentetan kejadian yang terjadi dipercayai memiliki hukum dibalik itu semua. Namun jelas bagi Hume itu tidak mungkin, karena understanding dan reasoning kita pada akhirnya hanya bisa menyimpulkan bahwa kausalitas adalah kepercayaan bahwa dari keterhubungan kejadian yang terberi kepada indera lalu disimpulkan secara induktif terdapat hukum yang melandasi itu semua.

Lalu apa masalahnya jika kausalitas itu tidak niscaya? Jika kausalitas tidak ada maka pada dasarnya kejadian yang terjadi dalam realitas tidak bersifat sinkronis seperti yang kita bayangkan. Juga yang lebih jauh jika kita bersikeras menyatakan bahwa ada hukum kausalitas di realitas ini karena sejauh pengamatan kita selalu terjadi sebab-akibat. Tidak pernah sama sekali ada satu momen di mana realitas menjadi kontradiksi karena satu kejadian tidak mengikuti penyebabnya. Namun poin yang Hume tekankan adalah: bagaimana kita bisa melegitimasi bahwa ada satu hukum niscaya yang menjadi dasar dari realitas sedangkan pengetahuan kita hanya terbatas pada kesan belaka?. Penalaran induksi tidak bisa menguniversalkan apa yang kesan-kesan yang terberi pada kita. Pada akhirnya bersikeras mengatakan bahwa hukum kausalitas itu ada sama saja nilainya dengan mengatakan bahwa ada Ultraman yang sedang bertarung di planet Jupiter. Karena kedua premis itu sama-sama mensyaratkan pelegitimasian fakta yang ada di luar horizon manusia.

Mungkin seperti itulah penjelasan sepintas mengenai Hume’s Problem. Satu problem yang menjadi batu sandungan para filsuf setelahnya, ada juga yang tidak terlalu menghiraukan masalah ini. Meskipun terlalu reduktif, setidaknya beginilah salah satu problem filsafat yang bisa dikatakan belum selesai –jika diandaikan satu masalah filosofis bisa selesai. Yang perlu diingat, masalah ini bisa menggetarkan prinsip dari sains. Jika problem Hume ini tidak bisa diselesaikan maka sains tidak bisa mengatakan bahwa hukum kausalitas masih ada. Maka mau tak mau masalah ini harus diselesaikan atau harus ada jawaban lain yang disediakan bagi problem induksi ini.

Mau tak mau filsafat harus, setidaknya, menjawab pertanyaan Hume mengenai kausalitas tadi. Tanpa basis filosofis yang jelas maka kausalitas yang digunakan oleh sains tidak bisa melegitimasi prinsip sains dan mengabsahkannya secara epistemologis. Karena epistemologi selalu membicarakan relasi antara yang penahu dan yang diketahui, maka kausalitas tidaklah bisa membuktikan bahwa struktur realitas memiliki hukum tertentu yang mengaturnya. Karena pengetahuan kita terhadap realitas selalu merupakan kesan yang didapatkan dari pengalaman, bukan struktur realitas itu sendiri. Oleh karenanya filsafat, jika ia masih ingin memegang prinsip dasar realisme.[5] Menurut Quentin Meillassoux, terdapat tiga tipe respon terhadap masalah Hume, yaitu: jawaban metafisik, jawaban skeptis, dan jawaban transendental Kant.[6]

Jawaban metafisik terhadap masalah Hume akan dimulai dengan membuktika bahwa terdapat prinsip tertinggi yang mengatur dunia kita. Jawaban ini bisa kita temukan pada Descartes dan lebih dijelaskan oleh Leibniz. Descartes dengan skeptisismenya tidak ingin meragukan realitas eksternal. Karena dengan meragukan realitas eksternal maka ia sama saja mengkhianati teorinya tentang kualitas primer dan sekunder. Maka bagi Descartes keraguan terhadap dunia eksternal hanya bisa dilakukan dengan membuktikan eksistensi Tuhan. Karena Tuhan itu baik dan sempurna maka dia tidak akan menipu. Sekarang Tuhan telah memberiku sebuah kecenderungan kuat untuk percaya pada benda-benda yang jika tidak ada maka Tuhan akan menjadi penipu; karenanya benda-benda itu ada. Selain itu juga Tuhan memberiku kemampuan untuk mengoreksi kesalahan. Lalu aku menggunakannya untuk mengetahui matematika dan juga fisika.[7]

Bagi Descartes, kita tidak perlu meragukan relasi pengetahuan kita dengan realitas eksternal. Karena Tuhan telah menciptakan pikiran dan realitas sedemikian rupa, maka pastilah pikiran dan realitas kita akan selalu terhubung. Setiap pemahaman matematis sudah pasti benar karena ia adalah kemampuan yang diberikan Tuhan kepada kita, Tuhan tidak mungkin berbohong. Begitu juga dengan kontinuitas jalannya alam berdasarkan prinsip kausalitas yang dibahas lanjut oleh Leibniz.

Leibniz membawa Tuhan sebagai postulat dasar pengetahuan lebih jauh. Dia memulai dengan membuktikan eksistensi niscaya dari Tuhan melalui principle of sufficient reason atau prinsip alasan mencukupi. Prinsip alasan mencukupi pada dasarnya adalah prinsip yang mendasarkan diri pada hukum kausalitas, bahkan ia adalah prinsip hukum kausalitas itu sendiri. Tuhan sebagai penyebab pertama pastilah menciptakan menciptakan dunia terbaik dari sekian dunia yang mungkin, yaitu dunia kita. Maka, keabadian dunia kita, atau setidaknya prinsip-prinsip yang mengaturnya akan dijamin terjaga oleh kesempurnaan ilahiah yang abadi. Maka dari itu dapat dihasilkan pembuktian positif bahwa eksistensi Tuhan niscaya secara pasti.[8]

Namun jawaban metafisik semacam ini terlampau tidak kritis. Karena ia menjadikan eksistensi Tuhan yang masih belum terbukti benar adanya sebagai fondasi dari pemahaman kita terhadap realitas. Jawaban semacam ini bisa menjadi bunuh diri filosofis karena menganggap bahwa eksistensi Tuhan merupakan penjamin pengetahuan positif kita bagi realitas.

Lalu selanjutnya ada jawaban skeptis yang dicanangkan oleh David Hume, dalam Treatise ia mengatakan:

“Ketika saya, melihat bola biliard bergerak dalam garis lurus menuju satu sama lain; pergerakan yang disengaja dalam bola kedua secara tidak sengaja terpikirkan olehku, sebagai hasil dari kontak ataupun dorongan bola itu satu sama lain; barangkali aku tidak mengerti, bahwa ratusan kejadian bisa terjadi dari satu sebab itu (bola pertama yang digerakan)? Mengapa bola pertama tidak kembali di dalam garis yang lurus atau meloncat dari yang kedua dari garis atau arah manapun? Semua anggapan ini bersifat konsisten dan juga bisa dipahami. Lalu mengapa kita memberikan pilihan kita pada yang pertama, yang mana tidak lebih konsisten dan lebih dipahami daripada yang lain? Semua penalaran apriori kita tidak akan pernah bisa menunjukan fondasi apapun dari pilihan ini.”[9]

Apa yang coba Hume sampaikan ialah bahwa penalaran semacam itu sepenuhnya tidak bisa diakses oleh pikiran, kita tidak bisa menjelaskan bahwa hukum akan tetap sebagaiamana adanya. Kita tidak bisa membuktikan apakah bola biliard yang kita dorong selalu pasti mengenai bola A dan bukannya bola B, kita tidak bisa membuktikan keniscayaan semua fakta yang terjadi, ia bisa menjadi yang lain dari yang terjadi. Tidak ada alasan untuk segala sesuatu untuk menjadi tetap sama.

Tapi bagi Quentin Meilassoux, Hume sama sekali tidak menjawab permasalahannya ini sama sekali. Karena kita tidak bisa membuktikan hubungan niscaya dari kausalitas, maka kita harus berhenti mempertanyakan mengapa terdapat hukum niscaya dan lebih mempertanyakan kepercayaan kita terhadap hukum niscaya semacam itu. Kesimpulan semacam itu memindahkan pertanyaan tentang hakikat dari sesuatu kepada pertanyaan tentang hubungan kita dengan sesuatu, tidak ada lagi yang menanyakan mengapa hukum, hukum alam misalnya, pasti niscaya, tapi mengapa kita yakin bahwa ia niscaya.[10]

Lalu respon selanjutnya datang dari Kant. Bagi Kant, skeptisisme Hume terhadap akal murni membangunkannya dari tidur dogmatis. Kant yang awalnya adalah Leibnizian berubah menjadi seorang filsuf yang memiliki orisinalitas setelah membaca karya Hume. Salah satu pemikiran Kant yang orisinal adalah responnya terhadap masalah Hume.

Kant dengan transendentalismenya menyeselaikan masalah Hume dengan penyelesaian reductio ad absurdum atau pembuktian secara tidak langsung. Penyelesaian transendental bisa diringkas seperti ini: kita memulai dengan berasumsi bahwa tidak ada hukum kausalitas atau keniscayaan kausal, lalu kita menguji apa yang terjadi kemudian. Tetapiapi apa yang terjadi, menurut Kant, adalah penghancuran total bagi segala bentuk representasi, kekacauan semacam itu tidak akan bisa dibayangkan secara fenomenal oleh kesadaran. Kant tidaklah mengatakan bahwa sangatlah tidak mungkin jika kausalitas dapat berhenti untuk mengendalikan dunia di masa depan; dia hanyalah mengatakan bahwa sangatlah tidak mungkin bagi kejadian tersebut untuk terjadi dan memanifestasikan dirinya dalam pikiran.[11]

Berbeda dengan Hume yang meragukan kemampuan pikiran untuk mengakses kausalitas, Kant menjadikan kausalitas sebagai salah satu kategori yang ada dalam pikiran. Kategori berifat transendental, artinya ia ada sebagai prasyarat pengetahuan. Tanpa prasyarat tersebut pengetahuan tidak dimungkinkan. Kategori transendental ada dalam pikiran begitu saja. Tanpanya modus fenomenal kesadaran kita tidak dimungkinkan. Kita tidak mungkin bisa membayangkan dunia yang berjalan tanpa hubungan kausalitas, kita tidak mungkin membayangkan kontradiksi yang terjadi di realitas. Oleh karenanya kausalitas sudah termanifes di dalam pikiran sejak awal.

Dengan jawaban seperti itu Kant merespon masalah Hume mengenai ketidakmungkinan akal murni mengakses struktur kausal realitas dengan menarik kausalitas menjadi prasyarat mungkinnya pengetahuan. Ia tidak memosisikan kausalitas di ranah realitas, namun di dalam pikiran. Karena tanpa adanya kausalitas, tidak mungkin pengetahuan bisa ada, karena kausalitas adalah hubungan kontinyu dari satu kejadian ke kejadian lain yang saling memadai (suffice) satu sama lain. Kant mengusahkan demikian agar filsafat bisa selamat dan menjadi dasar bagi sains.

Akan tetapi ketiga respon tersebut menghindar dari implikasi penuh dari pembuktian hukum kausalitas. Daripada menyingkirikan konsep kausalitas sepenuhnya, dia malah mengafirmasinya dengan mengangap bahwa kausalitas itu melampaui pembuktian, dan juga kebal dari skeptisisime. Hume menerima dengan kepercayaan buta bahwa setiap kejadian di dalam realitas pastilah diatur oleh “satu hukum”, yang tidak bisa diakses oleh penalaran dan juga rasa penasaran manusia.[12]

Ketidakpuasan tersebut dilayangkan oleh Quentin Meillassoux. Baginya ketiga respon tadi pada dasarnya tidak menjawab masalah kausalitas sama sekali. Hume hanya mengajukan masalahnya tanpa menyelesaikannya secara langsung. Apalagi jawaban yang diajukan oleh para metafisikawan, jawaban mereka terlalu dogmatis karena mempostulasikan satu entitas niscaya sebagai dasar dari sufficient reason untuk menalar kausalitas. Akan tetapi jawaban dari Kant mendapatkan perhatian lebih dari Meillassoux, karena jawaban Kant sangatlah kuat secara epistemologis.

Meillassoux adalah seorang filsuf yang membangun bangunan filsafatnya berdasarkan radikalisasi dari masalah Hume. Bukunya yang berjudul After Finitude: an Essay on The Necessity of Contingency berbicara mengenai keniscayan kontingensi. Keniscayaan kontingensi adalah jawaban langsung bagi masalah Hume yang membicarakan kausalitas. Seperti yang kita ketahui bahwa Hume menolak bahwa kita bisa mengetahui satu pengetahuan mengenai hukum alam apapun dan juga hubungan niscaya antara satu kejadian dengan kejadian yang lain. Hanya itulah penjelasan masuk akal untuk membuktikan bahwa dunia itu stabil. Maka dari itu kesimpulan yang dapat diambil adalah hukum kausalitas itu tidak ada (absence), yang ada hanyalah kontingensi. Penggambungan antara kontingensi dan stabilitas dunia adalah fokus utama pemikiran Meillassoux.[13]

Pertama-tama marilah kita definisikan terlebih dahulu apa itu kontingensi. Di dalam After Finitude, Meillassoux menjelaskan:

“Kontingensi berasal dari bahasa Latin yaitu contingere yang artinya ‘menyentuh, menimpa’, yang artinya setiap kejadian yang terjadi, karena ia terjadi hanya cukup terjadi kepada kita. Kontingen adalah sesuatu yang akhirnya terjadi, sesuatu yang mana di dalam ketaktereduksiannya pada seluruh kemungkinan yang sudah direncanakannya, mengakhiri kesia-siaan dari sebuah permainan dimana segalanya, bahkan yang tidak mungkin, dapat diprediksi”.[14]

Kontingensi adalah kondisi dimana realitas yang muncul di hadapan kita bisa menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Kontingensi mengandaikan realitas yang chaos. Karena ia meniscayakan bahwa tidak ada hukum yang mengkonstitusi dunia. Karena tidak ada hukum maka realitas bisa menjadi sesuatu yang lain. Apel yang terjatuh bisa tiba-tiba terbang ke angkasa, ombak lautan bisa tiba-tiba melayang dan menghujani manusia yang ada di bawahnya dan lain-lain.

Bagi Graham Harman, kontingensi Meillassouxian membawa kita untuk berimajinasi tentang sebuah kosmos liar yang mengandung perubahan, transisi dan mutasi yang tiba-tiba tanpa alasan. Filsafat semacam ini mengizinkan kemungkinan dari kelahiran semacam keajaiban/mukjizat. Semuanya bisa terjadi tiba-tiba tanpa adanya alasan yang jelas.[15]

Namun alam yang muncul dihadapan kita tidak bersifat kontingen. Kita tidak pernah melihat kejadian semacam itu. Tak pernah ada kontradiksi yang muncul di dalam realitas. Karena pikiran kita selalu terhubung kepada realitas yang non-kontradiktif. Apakah kontingensi yang dibayangkan Meillassoux adalah kekacauan realitas tanpa stabilitas? Apakah Meillassoux hanya menarik pemikiran Hume sampai ke akar-akarnya saja tanpa memikirkan bahwa pikiran kita tidak pernah bisa memikirkan non-kontradiksi? Dengan menimbang pertanyaan-pertanyaan tadi maka Meillassoux haruslah menghubungkan antara kontingensi, sebagai radikalisasi pemikiran Hume, dan juga stabilitas, sebagai lokus akal murni dalam mencerap realitas.

Inilah rumus untuk memahami kontingensi yang stabil:

  1. Jika hukum dapat berubah tanpa alasan –mereka dapat berubah dengan sering tanpa alasan.
  2. Tapi hukum alam tidak berubah dengan sering tanpa alasan.
  3. Konsekuensinya, hukum alam tidak bisa berubah tanpa alasan, dengan kata lain hukum alam bersifat niscaya.

Tidak ada yang bisa menentang proposisi kedua, yang menyatakan bahwa stabilitas memang benar-benar ada. Sedangkan kontingensi dicirikan dengan perubahan terus menerus. Lantas apakah kontingensi Meillassouxian gugur karena proposisi kedua tersebut?

Penggabungan kontingensi dan stabilitas sekarang menjadi masalah utama Meillassoux. Bagi yang berpikir bahwa pandangan Meillassoux tak masuk akal bahwa dunia mungkin akan tetap stabil bahkan setelah digempur oleh kontingensi murni. Untuk menjawab hal itu Meillassoux menggunakan analogi yang sugestif. Dia menggunakan geometri Nikolai Lobachevsky untuk membuktikan postulat pararel Euclid lewat reductio ad absurdum. Postulat Euclid ialah: gambar satu garis dan gambar satu titik di luar garis tadi, hanya satu garis yang bisa digambar melewati titik yang pararel kepada garis awal. Geometri Lobachevsky ialah: jika kita ingin memulai dengan mengasumsikan bahwa jumlah tak terbatas dari garis pararel bisa digambar lewat satu titik tadi, lalu absurditas akan muncul, tetapi postulat Euclid bisa dibuktikan. Tapi geometri Euclid bekerja dengan cara yang berbeda. Alih-alih mendapatkan bukti reductio yang diinginkan, Lobachevsky malah menemukan geometri baru yang sama solidnya dengan geometri Euclid , namun berbeda.[16]

Dari geometri Lobachevsky Meillassoux ingin membuktikan bahwa realitas yang terberi kepada kita pada dasarnya berasal dari kemungkinan-kemungkinan yang tak terbatas bukan hanya berasal dari satu sumber atau dari satu sebab saja. Apel yang jatuh dari pohon bisa jadi menyebabkan hal lain yang tidak pernah terbayangkan oleh pikiran kita. Tapi yang jelas dari pikiran adalah bahwa ia hanya bisa memikirkan non-kontradiksi. Sehingga apa yang selalu ada di depan kita adalah apa yang bisa kita pikirkan yaitu non-kontradiksi. Namun non-kontradiksi yang menjadi tanda stabilitas tidak mengandaikan bahwa ia hanya berasal dari satu penyebab memadai saja, ia berasal dari kemungkinan tak terbatas.

Maka yang harus diselesaikan oleh Meillassoux adalah bagaimana mungkin satu event atau satu kejadian yang terberi kepada kita berasal dari kemungkinan tak terbatas. Dari sini Meillassoux menggunakan matematika transfinit George Cantor sebagaimana digunakan juga oleh Alain Badiou dalam Being and Event. Namun penggunaan Badiou dan Meilassoux berbeda dalam beberapa aspek.

Ketika jumlah kemungkinan di dalam situasi sebesar apapun bersifat terbatas, maka kita dapat menghitung kemungkinan dari setiap kejadian yang tejadi. Bahkan tak terbatas juga bukan penghalang untuk menghitung kemungkinan. Untuk dapat mempertahankan hukum kemungkinan tak terbatas tadi, harus ada sebuah totalitas dari kemungkinan yang dapat diketahui, baik terbatas maupun tak terbatas. Maka Meillassoux membedakan antara kejadian yang terjadi di dalam dunia dan dunia sebagai keseluruhan.[17]

Teorema Cantor bisa dicontohkan sebagai berikut: ambil satu himpunan, hitung elemennya nya, lalu bandingkan nomor ini ke nomor dari penggabungan yang dimungkinkan dari elemen-elemennya. Pasti akan selalu didapatkan hasil yang sama bahwa himpunan B dari bagian himpunan yang mungkin dari himpunan A selalu lebih besar daripada A –bahkan A adalah terbatas. Akan tetapi penghitungan tadi tidak bisa ditotalisasi, dengan kata lain ia tidak bisa dikumpulkan dalam satu bilangan mutlak. Maka himpunan (T) Totalitas dari smua bilangan berisi bilangan dari himpunan yang menjadi bagian dari T (Totalitas). Konsekuensinya, bilangan totalitas ini bukanlah diartikan sebagai terlalu besar untuk dicerap oleh pikiran –namun diartikan karena tak ada. Totalitas yang terpikirkan ini secara logis tak bisa dipahami, karena pasti akan menimbulkan kontradiksi.[18]

Dengan Teorema Cantor Meillassoux mengatakan bahwa realitas yang terberi kepada kita selalu merupakan bagian dari kemungkinan-kemungkinan tak terbatas. Misalnya, ketika kita memikirkan satu angka genap, misalnya enam. Bagi Cantor dan juga Meillassoux, pada dasarnya dari angka enam ini terdapat angka-angka lain yang terhimpun dalam kategori angka genap. Angka-angka yang terkategori ini adalah dua, empat, sampai tak terbatas. Tak terbatas atau infinte bukanlah angka, akan tetapi ia adalah konsep dari ketakterbatasan angka yang berada dalam himpunan tertentu.

Jika dikaitkan dengan matematika Cantorian, maka realitas merupakan kemungkinan-kemungkinan tak terhingga. Kemungkinan-kemungkinan tidak akan bisa terbayangkan karena akan menimbulkan kontradiksi, namun bukan berarti bahwa kemungkinan-kemungkinan tadi tidak ada. Akan tetapi secara aksiomatik, satu kejadian atau satu himpunan secara matematik selalu merupakan bagian dari bilangan-bilangan tak terbatas.

Meillassoux membawa kembali nafas beberapa filsuf modern awal yang menggunakan matematika sebagai pembuktian prinsip realisme namun dengan epistemologi yang benar-benar beda. Meillassoux menggunakan matematika transfinit untuk membuktikan prinsip tak beralasan sebagai tandingan dari prinsip alasan memadai-nya Leibniz. Prinsp tak beralasan merupakan radikalisasi dan revitalisasi masalah Hume yang belum selesai. Karena dengan prinsp tak beralasan dapat dijelaskan bahwa pada dasarnya realitas yang terberi kepada kita bersifat kontingen. Tak ada hukum tertentu yang mengatur jalannya realitas. Akan tetepi horizon penalaran kita tidak bisa memikirkan non-kontradiksi sehingga Meillassoux menggunakan matematika transfinit untuk membuktikan bahwa realitas kontingen. Karena jika kita bersikeras mengatakan bahwa hukum alam dan kausalitas yang niscaya benar-benar ada maka pada akhirnya pikiran kita akan mempostulaskan metafisika sebagai penjamin adanya hukum tersebut, dan itu tentu saja sangat cacat secara epistemologis.

Meillassoux menawarkan cara pandang baru akan realitas dan alam yang berbasiskan kontingensi, yaitu pandangan dunia secara virtual. Virtualitas menekankan bahwa tidak ada prinsip yang superior dari pada kekuatan murni kacaunya kemenjadian realitas; non-metafisik dalam penolakan radikalnya pada seluruh keniscayaan yang nyata menjamin kita untuk melepaskan kepercayaan kita kepada prinsip alasan memadai atau principle of sufficient reason (kausalitas).[19]

Demikianlah telaah kritik atas masalah Hume yang ditawarkan oleh Quentin Meillassoux. Ia akhirnya menawarkan cara pandang dunia yang sama sekali baru. Masalah Hume yang mengatakan bahwa penalaran tidak mungkin menyimpulkan adanya hukum alam yang niscaya karena yang kita ketahui pada dasarnya adalah kesan saja. Masalah ini adalah masalah epistemologis yang harus diseleseaikan, apalagi tanpa kausalitas maka sains akan tak akan memiliki fondasi. Mungkin jawaban dari Meillassoux bisa dikritisi kembali, namun yang jelas adalah bahwa telaah filosofis kita akan alam belumlah selesai. Karena setelah Hume muncul kausalitas masih menjadi prestasi bagi sains dan malah menjadi skandal bagi filsafat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • Makalah ini disampaikan pada diskusi rutin LPIK

Daftar Pustaka

Hallward, P. (2011). Anything is Possible: A Reading of Quentin Meillassoux’s After Finitude. In L. Bryant, N. Srnicek, & G. Harman, The Speculative Turn: Continental Materialism and Realism (pp. 130-142). Melbourne: re:press.

Henderson, L. (2018, September 22). The Problem of Induction. Retrieved from https://plato.stanford.edu: https://plato.stanford.edu/entries/induction-problem/

Hume, D. (1999). An Enquiry concerning Human Understanding. Oxford: Oxford University Press.

Katsoff, L. (2004). Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Meillassoux, Q. (2007). Potentiality and Virtuality. Collapse II, 55-81.

Meillassoux, Q. (2008). After Finitude: an Essay on the Necessity of Contingency. London: Continuum.

Russel, B. (2004). Sejarah Filsafat Barat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

 

 

[1] Leah Henderson, The Problem of Induction, (https://plato.stanford.edu/entries/induction-problem/, diakses pada tanggal 22 September 2018)

[2] David Hume, An Enquiry concerning Human Understanding, Oxford: Oxford University Press, 1999, hlm. 113.

[3] Ibid, hlm. 118.

[4] Ibid, hlm. 116.

[5] Prinsip dasar dari realisme adalah bahwa realitas bisa ada meskipun dengan atau tanpa adanya manusia. Lih. Louis Katsoff, Pengantar Filsafat, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2004. Hlm. 148

[6] Quentin Meillassoux, After Finitude: an Essay on The Necessity of Contingency, (London: Continuum), hlm. 87.

[7] Bertrand Russell, Sejarah Filsafat Barat, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004. Hlm. 743.

[8] Op.cit, hlm. 87.

[9] David Hume, Enquiry Concerning Human Understanding. Hlm. 111.

[10] Quentin Meillassoux, After Finitude: an Essay on The Necessity of Contingency. Hlm. 88.

[11] Ibid. hlm. 89.

[12] Peter Hallward, Anything is Possible: A Reading of Quentin Meillassoux After Finitude, dlm, The Speculative Turn: Continental Materialism and Realism, Melbourne: re:press, 2011. Hlm.131

[13] Graham Harman, Quentin Meillassoux: Philosophy in The Making. Edinburgh: Edinburgh University Press, 2011, hlm. 45.

[14] Quentin Meillassoux, After Finitude. Hlm. 108.

[15] Op.cit, hlm. 44.

[16] Ibid, hlm. 92.

[17] Ibid, hlm. 102.

[18] Ibid, hlm. 104.

[19] Quentin Meillassoux, Potentiality and Virtuality, dlm, Collapse II, 2007. Hlm. 75.

    Print       Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like...

Manusia dan Agama, Tuhan, serta Makna.

Read More →
%d bloggers like this: