Loading...
You are here:  Home  >  Sastra  >  Cerpen  >  Current Article

Jawawut: Ciung Wanara

By   /  November 14, 2018  /  No Comments

    Print       Email

Oleh: Gofar Mladenova

Ketika matahari terbit dari timur, saat kicauan burung terdengar sampai ke seluruh pesawahan dan ladang, dan disaat itu aku terlahir kedunia. Dunia yang sama sekali aku tak tahu.

Awalnya ku mengenal suara-suara itu tetapi tidak tahu apa maksud dari semua yang ku lihat dan ku dengar saat itu. Seorang perempuan bertubuh besar yang kulihat sedang memegangku dan memberikan suatu benda yang mana terasa kenyal namun berisi padat. Orang saat ini mengenalnya sebagai ASI. Aku tak tahu pasti seperti apa waktu itu tetapi rasanya sangat mengenyangkan dan sekilas rasa lapar dan dahaga ku hilang begitu saja. Ternyata sosok itu mengenalkan dirinya dengan sebutan Emma.

Entah mengapa dia terus tersenyum dan bergegas ketika aku membutuhkan sesuatu tetapi aku tak tahu waktu itu apa yang sedang aku butuhkan. Dia tiba-tiba menyelimutiku dengan helaian kain yang amat sangat lembut dan memberikan ASI dan buat aku tertidur seperti di dunia yang sebelumnya di mana aku hanya merasakan hangat yang luar biasa tetapi tak seberwarna dan seluas saat itu kulihat.

Datanglah seseorang berkumis tipis bermuka yang aku tak kenal tubuhnya besar lebih besar dari sosok bernama Emma yang sedang memeluku.

Dia mengusap bagian atas tubuh ku seraya berkata “Nyalindung abdi ka Allah tina pirang-pirang godaan setan nu di laknat. Kalayan nyebat jenengan Allah nu Maha welas tur nu Maha Asih. Sadaya Puji kagungan Allah Pangeran sadaya Alam…” yang ku ingat hanya kata itu walau setelah kalimat itu aku tak mengerti bahkan samar-samar ku dengar. Entah apa arti ata itu aku tak memperdulikanya.

Lalu dia memelukku, dan membisikan suatu kalimat “Allahuakbar Allahuakbar, Allahuakbar Allahuakbar, Asyhadu allla illaha illallah, Wa ashadu anna Muhammadan Rasulullah …

sepintas dalam benakku bertanya “apa ini semua yang ku dengar, apa itu Allah yang selalu diucapkan berulang-ulang oleh sosok Pria berkumis tipis berbadan kekar itu?”

Emma ini berwajah putih kuning langsat, memiliki hidung yang tidak terlalu panjang dan juga tidak terlalu pendek, berambut hitam lebat dan panjang serta mengenakan kain yang memiliki motif yang sama ketika saat aku pertama kali melihat sebuah bunga di kebun.

Singkat cerita aku sedang berbaring disebuah kasur yang sangat empuk, tiba-tiba aku merasakan sakit yang kurasakan dari dalam perut dan seketika aku menangis karena aku amat sangat kesakitan, Emma datang dan memberikan aku benda itu lagi, dan aku menikmatinya. Ketika rasa sakit yang ada dalam tubuhku hilang dan rasa selanjutnya yang aku rasakan adalah perutku terasa penuh saat itu aku melepaskan benda yang dimiliki Emma itu.

Dia berkata “bismillahirahmanirrahim” dan menggendongku. Lalu tubuhku di ayun-ayunkan dan untuk pertama kalinya dia bersuara seperti suara si Pria bertubuh kekar lakukan “Yun, ayun ambing. Diayun ayun ku samping ..

dia selalu mengulang kalimat itu. Aku tak tahu kalimat itu tetapi rasanya sangat menenangkan, karena selalu di ulang-ulang akhirnya aku tertidur dibuatnya.

Ketika aku tertidur, aku bangun karena kaget dan sosok pria tetapi badanya tak sekekar pria berkumis tipis dan berkata “ jang, ieu aa… ieu aa ” aku tak mengerti maksud dari ucapan pria bertubuh sedang itu.

Kemudian sosok berkumis tipis mendekatiku dan berkata “sigana ieu mah mantes pisan mun di ngaranan Ciung Wanara pigagaheun siga Abah ..”

dari kalimat yang panjang itu ada dua kata yang aku ingat, Ciung Wanara dan Abah. Aku sendiri tak mengerti maksud dari ucapan sosok pria berkumis tipis itu. Singkat cerita, aku di gendong untuk kesekian kalinya dan aku bertemu dengan sosok pria berbadan sedang dan pria yang berkumis tipis. Dan semenjak itu aku tahu siapa yang menggendongku, dia adalah orang yang bernama Emma dan pria berkumis tipis bernama Abah dan pria berbadan sedang namun sama gagahnya dengan Abah ini bernama Aria Banga.

Ketika aku menginjak satu tahun kelahiranku sosok Emma ini mengeluarkan suatu benda yang keluar dari matanya, warnanya sama dengan yang ada di sekelilingku yakni air. Lalu entah kenapa satu bagian tubuhku sakit dan aku menangis aku dihanyutkan dalam sebuah nampan yang cukup untuk tubuhku yang mungil.

Aria Banga, Abah, dan Emma semakin jauh dari pandanganku semakin jauh dan semkain jauh. Aku menangis sepanjang jalan, sampai tiba dua orang pria bertubuh kurus bermuka sudah keriput. Dalam benakku “siapa dia?”

Tetapi dia menggendongku sama seperti yang dilakukan Emma padaku waktu itu. Lalu setelah sekian tahun, aku tahu siapa dua sosok ini. Dia adalah Emma dan Abah ku, tetapi bukan Emma dan Abah dulu yang pertama kali kulihat. Ketika aku menginjak anak-anak aku diajarkan berbagai hal oleh Abah yang aku temui disungai bernama Ciung Wanara.

Setelah sekian lama aku berfkir namaku Ciung Wanara karena aku lahir di sungai yang ditemukan oleh kedua sosok nenek-nenek dan kakek-kakek. Tetapi aku juga sempat berfikir lantas jika aku berasal dari sungai, lantas orang yang pertama memberiku nama Ciung Wanara itu siapa?

Akhirnya setelah aku bisa berbicara layaknya mereka aku bertanya pada Abah dan Emma ini. Ternyata aku adalah anak pungut mereka, namun benda yang ada di kalungku diberikan Emma yang pertama itu membawaku ke sebuah istana yang sangat megah dan di sanalah aku bertemu dengan sosok yang aku nampaknya kenal dengan sosok ini. Dia bernama Aria Banga. Tetapi sebelum aku bertemu dengan Aria Banga, aku diajarkan oleh Abah dan kini ku tahu nama dari Abah yang memungutku di sungai yaitu Abah Balangantrang.

Setelah sekian lama aku hidup di hutan yang penuh dengan pepohonan dan hewan-hewan yang aku gemari dan aku benci serta hewan yang selalu aku nikmati untuk ku santap bersama Aki dan Emma Balangantrang.

Dan tibalah waktunya untuk aku bertemu dengan sosok bernama Aria Banga dari kerajaan Galuh.

Aki Balangantrang memberitahukan sesuatu padaku “kasep, hampura aki. Aki teu tiasa masihan anu sae ka aden. Sa aya-aya we nu aya di leuweung jeung kebon. Didoakeun ku aki sing salamet dijalan na

Dan Emma Balangantrang memelukku dan berkata “Anaking jimat awaking, sing salamet dijalana basmalah heula sateu acan mulang ka karaton Galuh ”.

Lalu aku berpamitan pada mereka dan seperti yang diucapkan Emma Balangantrang untuk mengucapkan kalimat Basmalah sebelum aku pergi ke keraton Galuh untuk mempertanyakan mengapa aku dibuang ke sungai oleh Ibu yang saat ini menjabat sebagai Ratu dari Kerajaan Galuh.

Ku awali langkah pertama ku dengan bacaan Basmalah “kalayan nyebat jenengan Allah nu Maha Asih tur nu Maha Welas

Tibalah aku di kerajaan Galuh yang megah dan penuh dengan para pengawal kerajaan. Ketika aku bertemu dengan para pengawal yang sedang berlalu lalang di pasar, aku meminta mereka untuk mengantarkanku menghadap Raja Galuh. Tetapi, mereka malah mendorongku dan berkata

saha sia? lain sasaha oge hayang wani panggih jeung Raja

Sontak aku langsung marah dan menghabisi pengawal, kepalan tangan yang terbiasa ku gunakan untuk menghabisi sebongkah batu besar dan kini aku gunakan untuk menghabisi para pengawal kerajaan. Dan tidak ada satu luka pun yang bisa mengenaiku.

Dengan penuh amarah aku pergi menyebrangi jembatan yang amat panjang, jembatan yang menghubungkan antara kerajaan dan masyarakat kerajaan Galuh. Setiap pengawal yang mencoba menghalangiku akan aku habisi mereka.

Tombak, pedang, panah, dan perkakas tajam lainya tak sanggup mengenai tubuhku. Tak terasa sakit sedikitpun ketika hujan panah, puluhan pedang dan tombak yang ditujukan padaku dari para pengawal kerajaan. Yang ada malah mereka yang kesakitan ketika aku mengaum layaknya seekor harimau di hutan tempat aku dibesarkan.

Arrgh……. dan mereka jatuh kesakitan, setelah aku menghabisi para pengawal kerajaan yang berda diluar keraton akhirnya aku berhadapan dengan pengawal kerajaan keraton Galuh dan aku untuk pertama kalinya melihat sosok perempuan berambut panjang yang mengenakan Mahkota, dia amat sangat cantik dan dia lari terbirit-birit menghampiriku.

Dia berkata “eta anak aing, haling saria..!

Dan Ratu Galuh memelukku dan berkata “kamana wae kasep, Emma sono ka ujang

Lalu Raja Galuh keluar dari kediamanya dan berkata “Jang, hirup keneh? Aria Banga, kadieu ieu si Ciung hirup keneh

Dengan muka yang tegang dia menghampiriku, lalu Aria Banga yang dikabarkan telah resmi menjadi Putra Mahkota pewaris Kerajaan Galuh datang dari arah barat. Raja Galuh, Ratu Galuh, dan Aria Banga mengajakku untuk duduk di sebuah ruangan yang mana ruangan itu biasanya didiami oleh ketiga orang ini.

Setelah aku berganti pakaian, mengenakan pakaian kerajaan pakaian yang sama dengan apa yang dikenakan oleh Aria Banga dan menyantap hidangan kerajaan yang mana aku hanya tinggal menyantapnya tak seperti ketika aku hidup di hutan bersama Aki Balangantrang di mana ketika aku ingin makan aku harus berburu dan memasaknya.

Singkat cerita aku bertanya pada mereka perihal aku yang dibuang ke sungai, apa alasan mereka membuangku. Ratu Galuh yang kini ku tahu bahwa dia adalah sebenarnya ibu kandungku menjelaskan cerita bagaimana aku bisa dibuang ke sungai. Dengan hati yang tadinya reda, aku kembali marah pada Raja Galuh, namun aku dihadang oleh kakak ku sendiri Aria Banga dan terjadilah pertempuran di dalam keraton, namun Raja Galuh menyuruh kami untuk bertempur di lapangan tempat latihan Aria Banga bertempur.

Pertikaian terjadi antara aku dan Aria Banga, kami sama-sama sakti mandra guna tak ada yang kalah dan tak ada yang menang. Ibuku Ratu Galuh menangis tersedu-sedu dan kemudian Raja Galuh menghentikan pertempuran kami, hanya dengan petikan jarinya dan kami tak bisa bergerak.

Lalu kerajaan Jawawut dibagi menjadi dua bagian Jawa bagian barat milikku dan Jawa bagian timur milik kakakku Aria Banga.

Ibuku mengasingkan diri, sementara Raja Galuh bertapa seumur hidupnya.

    Print       Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like...

Darwis Aya di Puseur Dayeuh Persia

Read More →
%d bloggers like this: