Loading...
You are here:  Home  >  Opini  >  Resensi Buku  >  Current Article

Manusia dan Agama, Tuhan, serta Makna.

By   /  November 25, 2018  /  No Comments

    Print       Email

sumber gambar: https://lpm.com.br

 

Oleh: Tommy Renaldie

Homo Sapiens: manusia yang bijak, adalah satu-satunya hewan yang bisa menciptakan mitos bersama, menciptakan sesuatu yang tidak ada di alam material dan hanya eksis di alam pikiran kolektif (Harari, 2017). Walaupun mitos itu berbentuk abstrak akan tetapi dipercayai keberadaanya dan kenyataannya sebagaimana kita mempercayai akan kenyataan bahwa matahari itu terbit dari timur.

Banyak mitos-mitos yang telah diciptakan oleh manusia, mulai dari hantu-hantu, partai hingga perusahaan seperti Samsung, semuanya imateril tetapi mereka diperlakukan selayaknya manusia: memiliki nama, asal-usul, bahkan bisa dituntut ke pengadilan atau bahkan seperti statmen Presiden Indonesia yang akan menggebuk partai PKI jika menampakan hidungnya, bukankah PKI itu tidak memiliki tubuh materi selayaknya manusia memiliki tubuh. Bukankah semua itu tidak benar-benar nyata?

Salah satu mitos yang sama tuanya dengan sejarah umat manusia adalah tentang suatu eksistensi yang maha kuasa serta dapat menciptakan segala sesuatu dan hidup diluar jangkauan dan realitas manusia.

Selanjutnya konsep suatu dzat yang maha kuasa dan dapat menciptakan segala sesuatu itu kita kenal sebagai sosok dengan sebutan Tuhan atau Dewa dalam perbendaharaan kata manusia. Akan tetapi dalam sejarahnya konsep tuhan itu tidak tunggal dalam wujud nyatanya banyak konsep tentang tuhan-tuhan yang bertebaran dimuka bumi dan berbeda, konsep tuhan suku Aztec kemudian sangat berbeda dengan konsep tuhan yang disembah oleh umat Kristen.

Manusia adalah satu-satunya hewan yang menyembah sesuatu, dia berbeda dengan hewan-hewan lain yang seperti singa ataupun gorila; singa dan gorila selama hidupnya hanya terbatas pada aktifitas seperti makan, tidur, dan kawin. Singa dan gorila tidak berkumpul setahun sekali di suatu padang savana untuk melakukan ritual mengelilingi batu dan melakukan persembahan kepada sesuatu yang mereka anggap telah melindungi mereka selama ini. Sedangkan manusia melakukan suatu prosesi ritual yang disebut dengan ibadah, seperti meratapi tembok sambil merafalkan puji-pujian, bersujud lima kali sehari secara teratur, atau memakan roti dan meminum anggur sambil berimajinasi tentang kisah penebusan dosa.

Hubungan manusia dengan tuhan dimulai setidaknya ketika munculnya revolusi agrikultur. Setelah manusia berhenti berpindah-pindah sebagai pemburu-pengumpul dan mulai melakukan cocok tanam serta mendomestikasi hewan, maka interaksi manusia dengan alam semesta digantikan dengan interaksi antara manusia dengan tuhan. Manusia melakukan kontrak dengan tuhan, tuhan memberikan hujan untuk menyuburkan lahan-lahan pertanian serta peternakan, manusia melakukan penyembahan dan pengorbanan kepada tuhan-tuhan mereka yang telah menyuburkan lahan pertanian (Harari, 2018).  Dahulu masyarakat agrikultur di Yunani sangat memuja seorang dewi prokreasi bernama Demeter, yakni dewi pertanian dan kesuburan. Demeter pun dimitoskan sebagai sosok yang mengajarkan manusia bercocok tanam sehingga meninggalkan cara berburu untuk bertahan hidup. Masyarakat agrikultur Yunani mempercayai bahwa Demeter telah memberikan kesuburan akan kelangsungan pertaniannya, sebagai gantinya mereka melakukan pemujaan dengan cara mendirikan kuil di Sagesta.

Selanjutnya hubungan manusia dan tuhan yang sudah terjalin sejak lama itu kemudian ter-institusionalisasi dalam sesuatu yang kita sebut sebagai agama. Mengutip Wallace, Madjid mengemukakan bahwa agama ialah suatu kepercayaan atas makna dari alam semesta (Madjid, 1987).  Agama dengan segala prosesi peribadatannya adalah memberi makna pada manusia. Bagaimana manusia muncul dimuka bumi, bagaimana manusia diciptakan, dan untuk tujuan apa manusia turun ke bumi? Pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan tadi berusaha dijawab oleh agama melalui narasi transenden yang diberikan tuhan melalui perantara nabi-nabi.  Agama Abrahamik misalnya, memberikan  narasi makna bahwa manusia diciptakan dari tanah, dibuang dari surga ke bumi karena memakan buah terlarang, manusia diciptakan untuk beribadah kepada Tuhan, kiamat terjadi, lalu Tuhan akan menentukan siapa yang masuk neraka atau surga. Atau misalkan Hindu, memberi makna kepada manusia tentang reinkarnasi, karma, dan mencapai moksa. Agama dengan tuhan-tuhan yang maha kuasa ini berusaha memberikan makna bahwa manusia ada untuk tujuan kosmis.

Agama-agama pada sejarah permulaanya itu bersifat lokal, eksklusif dalam artian hanya terbatas pada masyarakat tertentu sedangkan agama universal dan dakwah muncul sekitar milineum ke-1 sebelum masehi (Harari, 2014). Setiap suku atau kebudayaan memiliki agamanya sendiri yang memberikan makna berbeda antara satu kebudayaan dengan kebudayaan lain. Agama suku Toraja tentu akan sangat berbeda dengan agama suku-suku di Skandinavia, akan tetapi agama orang Toraja dan Skandinavia tidak didakwahkan, artinya terbatas pada komunitasnya sendiri. orang Viking tidak berkehendak mendakwahkan ajaran mereka pada orang Yunani, agar orang Yunani berpaling dari Zeus kepada Odin. Berbeda kemudian dengan agama Islam yang bersifat universal dan melalukan kegiatan dakwah dengan tujuan agar seluruh umat manusia dimuka bumi menyembah Allah dan meyakini bahwa Muhammad sebagai seorang rasul.

Sejarah terus bergulir, rodanya terus berputar kedepan tanpa ada yang bisa menginjak pedal rem. Setelah manusia meninggalkan cara hidup berburu dan mengumpul lalu kemudian memasuki era revolusi agrikultur yang melahirkan tuhan-tuhan besar, selanjutnya roda sejarah manusia telah memasuki revolusi sainstifik.

Revolusi saintifik adalah revolusi akan ketidaktahuan, penemuan paling penting dalam revolusi saintifik adalah bahwa manusia tidak memiliki jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka yang penting (Harari, 2014). Manusia kemudian sadar bahwa banyak pertanyaan-pertanyaan penting yang menyangkut kehidupan mereka tidak disediakan oleh agama-agama. Manusia tidak mendapat jawaban tentang optik, gravitasi, cara membedah, atau bagaimana caranya berpergian dengan cepat dari seorang agamawan. Agamawan hanya tahu bagaimana caranya bertaubat, memuja tuhan, dan mengusir setan.

Revolusi saintifik sendiri bukanlah lahir dari tempat yang multikultur dan toleran akan perbedaan agama seperti di Istanbul ataupun Kairo, akan tetapi revolusi saintifik lahir di tempat terjadi pembakaran pada tukang sihir wanita, pemburuan antar sekte, pengusiran pada orang Yahudi. Revolusi saintifik bermula di Eropa, tempat di mana dilanda ekstrimisme keagamaan (Harari, 2018).

Agama kemudian disadari tidak bisa menjawab pertanyaan di ranah-ranah praktis, akan tetapi revolusi saintifik bisa. Di masa awal revolusi saintifik dimulai dari pembaharuan ide-ide, jika dahulu otoritas pengetahuan adalah Gereja, maka setelah revolusi saintifik pengetahuan berada di univeristas dan ruang uji. Dahulu Gereja memberitahu bahwasanya yang menjadi pusat tata surya adalah bumi; geosentrisme. Kemudian muncul Copernicus dan Galileo yang membawa pemahaman baru tentang heliosentris, bahwa matahari adalah pusat tata surya. Tentu diawal-awal masa revolusi saintifik mendapat penolakan dan represi keras dari pihak Gereja, karena penemuannya dianggap bertentangan dengan doktrin yang kemudian menyebabkan Galileo mendapat pengucilan dan menjadi tahanan rumah (Hilliam, 2005). Hal ini menjadi salah satu contoh dari pergelutan antara otoritas agama dengan ilmu pengetahuan pada masyarakat barat.

Revolusi saintifik telah menawarkan kepada kita apa yang disebut dengan kekuatan, ilmu pengetahuan telah mengajarkan kepada manusia bagaimana menghadapi wabah penyakit dan mengatasinya, ilmu pengetahuan mengajarkan kepada manusia bagaimana cara membuat hujan untuk membahasahi ladang-ladang pertanian tanpa harus memuuja dewi-dewi prokreasi seperti Demeter atau Dewi Sri. Kekuatan baru itu kini mulai digandrungi manusia, manusia kini lebih menyukai sesuatu yang lebih realistis dibanding menyelami kitab suci yang kuno.

Auguste Comte seorang filsuf asal Prancis, membagi masyarakat dalam tiga babak sejarah intelektual. Teologis, metafisis, dan positivis. Pada babak teologis-primitif, manusia melihat bahwa Tuhan adalah sumber dari segala sesuatu dan kejadian, pada tahap metafisis wujud kekuatan ilahiah ini berubah menjadi abstraksi metafisik. Babak finalnya adalah, masyarakat memasuki era positivis, di mana segala sesuatu berfokus pada fakta  yang dapat diuji secara empiris (Armstrong, 2011). Dahulu masyarakat primitif Skandinavia akan mengatakan bahwa hujan terjadi karena gesekan palu Thor, kini jika ada seseorang mengimani hal tersebut kemudian mengatakannya pada seorang mahasiswa di Universitas, mungkin dia sedang dianggap melucu tapi kemudian seorang mahasiswa itu sadar bahwa itu bukan guyonan, mungkin mahasiswa tersebut akan menganggapnya sebagai sebuah kesintingan sambil kemudian mencoba menjelaskan konsep tentang evaporasi air laut yang kemudian berubah menjadi bibit-bibit hujan yang terbawa angin. Dari sedikit cerita tentang seseorang yang mengimani gesekan palu Thor dan seorang Mahasiswa, kita melihat ada perbedaan pemikiran yang jomplang, antara seseorang yang masih terjebak pada era teologis dan seseorang yang sudah memasuki tahap yang lebih maju.

Manusia kini mulai meninggalkan agama-agama, lalu jika kemudian agama hanya disimpan di gudang belakang sejarah manusia. Bagaimana manusia memiliki makna? Para filsuf dan teolog sudah mewanti-wanti bahwa jika manusia atau dunia tidak lagi peduli soal agama, maka dunia akan kehilangan maknanya. Tidak ada lagi tujuan bagi manusia untuk berjalan di muka bumi, maka manusia akan diliputi kehampaan (Harari, 2018). Dahulu, manusia pra-modern yang masih menggandrungi makna yang diberikan agama, sehingga mereka mempunyai arti untuk pergi dari rumah dan menuju pertempuran perang salib untuk membela Tuhan, atau orang-orang muslim memiliki arti kenapa mereka tidak memakan babi dan meminum wine. Tentu ini membuat tidak nyaman, tapi setidaknya memberikan dalih menenangkan diri atas keburukan-keburukan yang akan terjadi, sambil berkata, “semuanya adalah takdir, kematian anakku di perang salib melawan bangsa Moor adalah naskah yang telah ditulis oleh Tuhan untuk tujuan yang baik dan bermakna. Jika kebaikan itu tidak terjadi di alam dunia, maka kebaikan itu akan kami dapatkan di akhirat sebagai imbalan dari Tuhan.” Ucap seorang Ibu yang anaknya tewas ditikam oleh musuh di Perang Salib.

Revolusi saintifik yang membawa kita pada zaman modern dan kultur zaman modern menolak keyakinan atas naskah kosmis besar yang dibuat oleh Tuhan yang diproduksi oleh production house bernama agama. Berikut kutipan dari Yuval Noah Harari:

Kehidupan tidak mempunyai naskah darama, tidak punya pengarang, tidak punya sutradara, tidak mempunyai produser—dan tidak punya makna. Berdasarkan pengetahuan saintifik terbaik yang kita miliki, alam semesta adalah proses buta dan tanpa tujuan, penuh suara keras, dan amarah, tetapi tidak bermakna apa-apa. Selama masa tinggal kita yang sangat penting di sebuah titik kecil planet kita ini, kita mengoceh dan bertingkah begini dan begitu, kemudian hening. (Harari, 2018: 250).

Karena kehidupan ini tidak memiliki skrip drama, dan manusia tidak memerankan peran apapun dalam sebuah pentas kehidupan. Sebuah kemalangan bisa menimpa secara tiba-tiba dan tidak ada kekuatan yang memberi makna atas kemalangan kita. Tidak akan ada happy ending atau sad ending, atau akhir apapun. Hal itu terjadi mengalir saja, satu demi satu. Dunia modern tidak mempercayai suatu tujuan, dan hanya percaya pada sebab. Maka jika kehidupan modern memiliki semboyan, maka semboyan itu hanya tergambar pada sebaris kalimat yang cendrung sarkastik, yakni adalah “Ah sial, terjadi!”

Perang, kelaparan, wabah terjadi bukanlah karena takdir yang memiliki tujuan-tujuan kosmis, akan tetapi terjadi karena sebab-sebab dan kita bisa mengatasinya jika kita mempunyai pengetahuan. Wabah bukanlah sebuah azab yang diturunkan oleh dewa-dewa, akan tetapi karena sanitasi yang buruk dan kita bisa mengatasinya dengan ilmu pengetahuan. Surga tidak menunggu anda setelah kematian—tetapi tenang, kita bisa menciptakan surga yang melampaui imajinasi-imajinasi leluhur kita di muka bumi dan hidup abadi jika kita telah mampu mengatasi masalah-masalah teknis yang berkaitan dengannya. Begitulah modernitas berbisik pada manusia.

Dahulu orang-orang berusaha untuk hidup asketis, membendung segala nafsu individu dan berusaha menyeimbangkannya. Orang ingin lebih sejak dahulu itu sesuatu yang biasa, tetapi sikap tamak itu dianggap buruk. Hubbu al-Dunya (cinta dunia) jika menurut Islam. Akan tetapi modernitas dengan kapitalisme-nya menjungkir-balikan semua anggapan itu, berusaha meyakinkan bahwa keseimbangan lebih menakutkan dari kekacauan, ketamakan itu memotivasi dan mendorong pertumbuhan, ia menjadi kekuatan untuk kebaikan. Oleh karena itu modernitas mendorong orang untuk ingin lebih banyak. Membongkar anggapan kuno yang membendung ketamakan.

Kecemasan yang muncul berusaha diredakan oleh kapitalisme pasar bebas. Para pemikir kapitalis berusaha menyuntikan kata-katanya yang mengandung morfin kepada kita: “Jangan cemas, semuanya akan baik-baik saja. Yang penting ekonomi terus tumbuh, sisanya serahkan pada kekuatan gaib bernama kekuatan pasar, semuanya akan teratasi.”

Menyerang kapitalisme menjadi agenda dari sebagian besar para intelektual. Dominasi kapitalisme yang menguasai dunia, dan kita harus memahami dari setiap kelemahan-kelemahannya sebelum hal itu mendatangkan kiamat bagi manusia.

Walaupun kapitalisme sedang memancing potensi kiamat, kita tidak bisa menyisihkan kebaikan dari kapitalisme yang setidaknya dapat mengatasi kelaparan, wabah, dan perang yang selama ribuan tahun dijelaskan oleh para agamawan bahwa manusia tidak bisa mengendalikan itu semua dengan usaha sendiri harus ada kehendak Tuhan. Lalu, datanglah segerombolan orang yang terdiri atas bankir, investor, dan industrialisme, dan dalam 200 tahun berhasil melakukannya.

Modernitas dan kapitalisme telah memberikan manusia kekuasaan akan tetapi harus dibayar dengan harga yang mahal, menyerahkan makna. Bagaimana manusia menghadapi tuntutan ini? Mengikutinya akan membawa kita pada dunia yang kelam, buta, tanpa etika, tanpa estetika, tanpa kepedulian, tidak ada kasih sayang, dan penuh dengan penindasan.

Namun, faktanya bahwa manusia saat ini juah lebih kuat, damai, dan kooperatif. Bagaimana manusia mencapai itu? Moralitas, estetika, dan kasih sayang masih eksis di antara umat manusia dan tetap subur di atas dunia yang tidak bertuhan, surga dan neraka? Lalu apa yang menyelamatkan manusia dari keruntuhan itu? Bukan akumulasi modal ataupun hukum permintaan dan persediaanlah yang menyelamatkan manusia, akan tetapi lahirnya sebuah agama baru yang revolusioner bernama humanisme (Harari, 2018).

Seperti yang dijelaskan di atas, moderintas akan memberikan kekuasaan kepada manusia jika mau menyerahkan kepercayaan kepada rencana kosmis besar yang memberikan makna bagi kehidupan. Akan tetapi jika mencermatinya, manusia tidak melanggar perjanjian jika menemukan makna baru asal tidak menisbatkan pada suatu rencana kosmis besar.

Pasal pengecualian ini memberikan kesempatan bagi manusia untuk mempertahankan keteraturan, karena sangat mustahil mempertahankan keteraturan tanpa ada makna di dalamnya.

Nabi dan para filsuf berkata, jika manusia berhenti untuk mempercayai suatu konsep makna tentang kosmis besar, maka manusia telah tergelincir pada kemusnahan karena keteraturan telah lenyap seiring musnahnya kepercayaan pada makna tersebut. Namun ironisnya adalah mereka yang mempercayai makna kosmis besar adalah ancaman besar bagi ketertiban dunia. Irak dan Suriah yang takut akan Tuhan, menjadi tempat yang lebih menyeramkan daripada Belanda yang berisi pernikahan sesama jenis, kesetaraan gender, legalisasi ganja dan kesekulerannya.

Jika memang tidak ada rencana kosmis besar, pengadilan tuhan di akhirat, tidak ada neraka, lalu apa yang menghalangi keruntuhan dunia? Bagaimana anda bisa berpergian dari Tasikmalaya ke Bandung atau ke Surabaya tanpa diculik oleh pedagang budak atau dibunuh karena memiliki buku Ricard Dawkins?

Obat bagi dunia tanpa makna tersebut adalah humanisme. Humanisme tidak menyembah dewa-dewa atau tuhan yang haus akan peperangan akan tetapi menyembah kemanusiaan. Jika dalam agama tradisional anda diberikan makna, maka dalam agama humanisme, manusia yang akan memberikan makna pada alam semesta itu sendiri. Humanisme menyuruh kita untuk melihat kedalam diri, menggali pengalaman-pengalaman dalam diri mereka sendiri, tetapi juga makna seluruh jagad raya. Itulah doktrin utama yang diberikan humanisme kepada manusia: menciptakan makna sendiri untuk dunia yang tak bermakna.

Dahulu pada abad ke-14 Manusia-manusia di London, Paris, dan Garut tidak akan percaya bahwa manusia dapat menentukan hal yang baik ataupun buruk, apa yang salah atau apa yang benar, mana yang indah dan mana yang jelek, istri seperti apa yang baik bagimu dan istri seperti apa yang jelek untukmu. Tuhanlah yang menjelaskan itu kepada manusia, dia mengatakan bahwa wanita yang menutup lekukan tubuh, tidak banyak keluar rumah itu kriteria istri yang baik, yang mengumbar lekuk tubuh itu adalah wanita jalang.

Seseorang yang dapat menentukan baik buruk tentu juga akan memiliki otoritas. Karena makna dan otoritas selalu berjalan bersamaan seperti layaknya Tom & Jerry. Siaiapun yang menentukan baik buruknya perilaku kita, akan memiliki otoritas untuk mengatur bagaimana seharusnya kita berprilaku dan berfikir. Hal tersebut bukanlah peran fiilosofis akan tetapi benar-benar merasuk pada kehidupan sehari-hari. Berikut kita akn diceritakan bagaimana itu pernah benar-benar merasuk pada kehidupan seseorang.

Katakanlah pada tahun 1300 di sebuah kota kecil di Inggris, seorang perempuan yang sudah menikah bersenang-senang ke tetangga sebelah dan melakukan hubungan seks dengan lelaki tetangganya itu. Saat menyelinap kembali ke rumah, seraya menyimpann sebuah senyuman dan merapikan pakaiannya, pikirannya mulai terusik: “Apa yang ssudah terjadi? Mengapa saya lakukan itu? Apakah itu baik atau buruk? Apa akibat buat saya? Apa saya harus lakukan itu lagi?” untuk menjawab pertanyaan semacam itu, perempuan tersebut akan pergi ke pendeta setempat, mengakui kesalahan, dan meminta kepada Bapa yang suci unttuk memeberi bimbingan. Pendeta itu hafal kitab suci dengan sangat baik, dan naskah kitab suci mengungkapkan kepadanya dengan jelas apa yang Tuhan pikirkan tentang perzinahan. Berdasarkan kata-kata abadi Tuhan, pendeta itu bisa memutuskan tanpa ragu-ragu bahwa perempuan itutelah melakukan dosa besar, dan jika tidak bertobat, dia akan berakhir di neraka. Karena itu, perempuan  tersebut harus segera bertaubat dan membayar sumbangan 10 koin emaas untuk perang salib berikutnya, menghindari makan daging dalam enam bulan berikutnya, dan melalukan ziarah ke makam St. Thomas a Becket di Canterbury. Dan, tak perlu dikatakan lagi, jangan sekali-kali dia mengulangi dosa mengerikan itu. (Harari, 2018:256-257)

Dari cerita di atas kita melihat bagaimana Tuhan dengan otoritasnya bisa menyebabkan perempuan yang sudah bersenang-senang dengan tetangganya itu berpuasa selama enam bulan, melakukan ziarah ke makam-makam orang yang dianggap suci, dan berusaha menghindari kesenangan itu lagi karena konsekuensinya jika sekali-kali lagi melakukan hal tersebut maka Tuhan akan mengadilinya dan melemparnya ke neraka. Walaupun dihatinya mungkin sesekali ingin kembali mengetuk pintu tetangganya tetapi ia teringat akan kobaran api dan bukan wajah suaminya.

Kini keadaan berubah, manusia tidak lagi pergi kepada seorang Pastor atau seorang Ustadz untuk mendengar pendapat entitas eksternal tentang sesuatu yang baik dan buruk. Kini kita menanyai diri sendiri. slogan humanis itu berbunyi “dengarkan dirimu sendiri, dengar kata hatimu,” Apa yang saya rasakan jika melihat seekor kucing kumal kelaparan dan bejalan merangkak? Apa menolongnya hal yang baik? Ayo kita tanyakan pada diri sendiri.

Kini jika perselingkuhan itu terjadi, misalkan seorang lelaki yang memiliki istri dan dua anak melakukan perselingkuhan dengan seorang pria muda yang ia temukan di Tinder. Jika perasaannya terasa muram dan tidak jelas, maka ia akan mencoba mengirim pesan WhatsApp kepada sahabatnya, bertemu di sebuah kedai kopi bernama Starbuck dan mengungkapkan isi hatinya serta mendengar masukan dari sahabatnya itu. Jika suasana hatinya masih mendung, dia akan pergi ke seorang psikolog untuk mengutarakan perasaanya. Secara sekilas, psikolog ini seperti pendeta masa kegelapan. Akan tetapi secara praktik sangat berbeda. Psikolog tidak memiliki kitab suci yang menjelaskan hal baik dan buruk. Ketika lelaki berkeluarga ini menyelesaikan ceritanya, amat mustahil jika psikolog ini memaki: “Dasar lelaki laknat! Kau sudah melakukan dosa besar, Tuhan murka pada anda” Dan sama tidak mungkinnya dengan kemungkinan ia berkata: “Anda telah melakukan hal mulia!” Kemungkinan terbesar adalah, psikolog itu akan bertanya pada lelaki berkeluarga itu dengan nada yang sarat kepedulian “Bagaimana perasaanmu setelah semua hal ini terjadi?”.

Seorang pendeta tentu akan mengambil injil di rak-rak bukunya untuk memberi tahu tentang apa yang telah dilakukannya jika ia tidak hafal tentang ayat perselingkuhan, sambil memilah-milah apa yang baik dan mana yang buruk setelah ini terjadi. Berbeda dengan rak-rak psikolog ini yang dipenuhi dengan buku-buku karya Sigmund Freud ataupun Jung tentang mental disorder. Tapi buku-buku psikolog ini bukan kitab suci yang berisi tentang makna tetapi tentang sakit dari kehidupan. Terlepas komentar dari psikolog ataupun Freud dan Jung, perasaan sang pasienlah yang menentukannya. “Pendeta modern” ini akan mengantarkan kita pada relung-relung jiwa terdalam sang pasien.

Manusia modern cendrung menjustifikasi sesuatu atas nama perasaan manusiawi, bukan karena Tuhan berucap seperti itu. Humanisme mengajarrkan sesuatu itu buruk jika membuat orang lain merasa terganggu dan tidak senang. Pembunuhan menjadi buruk bukan karena Yesus Kristus berkata “Jangan membunuh”, akan tetapi pembunuhan menjadi salah karena menimbulkan kerusakan dan penderitaan bagi orang lain seperti istrinya, anaknya, sahabatnya, dan keluarganya.

Dahulu pada tahun 1800-an jika sepasang lelaki dari Wanaraja Garut yang hidup ditengah masyarakat muslim menyatakan bahwa mereka saling mencintai dan ingin hidup bersama layaknya sepasang lelaki dan wanita dalam hubungan pernikahan. Mungkin dia akan dikutuk dengan keras, dikucilkan, mungkin saja dibunuh karena telah melakukan dosa besar dan dianggap telah mengotori tanah Garut dengan kelakuan mereka. Kini di tahun 2018  sepasang lelaki dari Wanaraja Garut yang ingin mengikrarkan cinta mereka akan mendapat dukungan dari aktivis LGBT yang bertindak atas dasar kemanusiaan, sambil berkata “Jika mencintai sesama jenis itu membahagiakan, lakukan saja!”.

Ketika memilih calon kandidat Presiden misalkan, mungkin sebagaian besar rakyat Indonesia masih sering mendengar rekomendasi-rekomendasi para ustadz atau pendeta guna menjatuhkan pilihan yang dianggap baik untuk kemajuan bangsa dan negara kedepan. Dan, ada juga rakyat Indonesia yang mendengarkan kata hatinya, memilih kandidiat menurut perasaan otentikinya, dengan mengabaikan fatwa-fatwa ulama, opini cendikiawan bayaran, perdebatan antara tim sukses di televisi. Dan ketika perasaanya membisiki di telinga “Pilih A” atau pilih “B” dan mencoblosnya, maka kita tahu bagaimana orang-orang yang yang mendengarkan bisikan perasaanya menentukan nasib negara ini kedepan.

Pada tahun 1965, buku yang ditulis seorang teolog Amerika bernama Harvey Cox dalam bukunya yang berjudul The Secular City, menyatakan bahwa Tuhan telah mati, bahwa sejak itu agama harus berpusat kepada manusia bukan kepada sesuatu yang transendental; gereja harus menyerap nilai-nilai baru seperti legalisasi pernikahan sesaa jenis, kesetaraan gender dan hal-hal yang berbau humanisme untuk menyelamatkan eksistensi gereja itu sendiri (Armstrong, 2011).

Humanisme menganggap bahwa manusia itu spesial, dia menentukan yang buruk dan yang baik oleh dirinya sendiri bukan oleh sesuatu yang transenden karena ia memiliki kesadaran. Kesadaran begitu amat berarti bagi manusia-manusia di era humanisme, bahkan Rene Descartes mengatakan hanya manusia sahaja yang memiliki kesadaran dan tidak untuk anjing, yang akhirnya mengakibatkan pembedahan pada anjing tanpa proses bius (Harari, 2018).

Kini dengan ilmu pengetahuan teknologi dan informasi yang semakin maju, manusia hanya dipandang sebagai kumpulan algoritma-algoritma saja, sama halnya seperti blender, anjing, babun, dan penyemprot parfum otomatis.  Anjing, manusia, dan babun digerakan oleh algoritma biokimiawi sedangkan blender dan penyemprot parfum otomatis bergerak karena algoritma komputer. Manusia sudah dianggap tidak istimewa dan tidak lagi untuk memberi makna.

Lalu siapa yang akan memberi makna selanjutnya di era post-humanisme? Setidaknya satu kandidat sedang duduk di ruang resepsi sejarah, menunggu interview untuk mengantikan humanisme yang akan pensiun. Kandidat ini bernama Dataisme, sebuah agama yang tidak memuja tuhan ataupun manusia akan tetapi – ia menyembah data. (Harari, 2018)

Dataisme mengumumkan bahwa alam semesta terdiri dari aliran data. Ini terdengar asing dan seperti ungkapan dari seseorang dari perkumpulan yang nyeleneh, tapi faktanya dataisme telah banyak menaklukan kalangan saintifik. Dataisme ditandai dengan munculnya gelombang pasang pengetahuan. Charles Darwin menerbitkan On Orign of Species, sains akhirnya memandang organisme sebagai kumpulan algoritma biokimiawi. Alan Turing dengan mesin Turingnya mengetahui bagaimana merekayasa algoritma komputer. Dataisme hadir mengawinkan keduanya, meruntuhkan sekat antara bintang dengan mesin, dan berharap algoritma dapat mengurai dan melampaui algoritma.

Jika Islam mempunyai kakbah yang disakralkan, maka Dataisme mempunyai Big Data yang disakralkan. Dengan bantuan internet of things aliran data akan terkumpul pada suatu entitas sistem Big Data.

Jika dahulu pada era tuhan memberi makna, seseorang akan bertanya kepada pendeta atau ustadz, bagaimana menurut tuhan seseorang yang pantas dinikahi. Tentu pendeta atau ustadz ini akan mengutip ayat atau sabda tentang kriteria calon yang baik menurut tuhan. Berbeda dengan era humanisme, maka ketika seseorang hendak menikah, dia akan bertanya kepada hatinya apa dia harus menikahinya atau mencari seseorang yang lain? Bagaimana dengan era Dataisme?

Internet of Things, yang melekat pada kulkas anda, jam tangan pintar anda, akun sosial media anda, semuanya akan merekam aktivitas anda: bagaimana anda makan, bagaimana keadaan biokimiawi anda ketika berhubungan dengan si A atau si B, mencatat kecendrungan pilihan politik anda dari kicauan di twitter anda. Semuanya tercatat, bahkan anda tidak bisa mengenal diri anda sendiri dibanding Big Data. Jika anda bertanya dengan siapa seharusnya anda menikah, dengan si A atau si B? Maka sistem Big Data akan menjawab doa anda dengan cepat melalui analisis informasi tentang anda. Ketika anda berhubungan seksual dengan si A, tubuh anda dibanjiri berbagai hormon yang membahagiakan, degub jantung anda lebih kencang dibanding kegiatan seksual yang dilakukan dengan si B, analisis finansial dilakukan melalui slip gaji yang diunggah ke komputasi awan dan  si A lebih baik secara finansial dari si B walaupun si B lebih tampan. Dengan analisis jangka panjang, bahwa anda akan lebih bahagia ketika memilih si A dibanding si B sebagai pasangan hidup. Kisah soal menentukan pasangan hidup dengan sistem canggih ini pernah berusaha dijabarkan dalam sebuah serial asal Inggris di Netflix dengan judul: Black Mirror episode Hang on DJ.

Setiap era dalam sejarah manusia akan memiliki tuhan-tuhan dan agama-agamanya sendiri, semuanya memiliki sisi gelap yang menyeramkan, kita tidak bisa menginjak pedal rem untuk menghentikan sejarah.

Bibliografi

Harari, Yuval Noah. (2018). Homo Deus. Jakarta: Pustaka Alvabet

Harari, Yuval Noah. (2017). Sapiens. Jakarta: KPG

Armstrong, Karen. (2011). Masa Depan Tuhan. Bandung: Mizan

Madjid, Nurcholis. (1987). Islam, Kemoderenan, dan Keindonesian. Bandung: Mizan.

Hilliam, Rachel. (2004). Father of Modern Science (Rulers, Scholars, and Artist of Renaissance Europe). New York: Rosen Publishing Grup.

    Print       Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like...

Kontingensi Sebagai Kritik atas Masalah Hume

Read More →
%d bloggers like this: